Oleh: Hilmy Mubarak Ramadhan kembali ke hadapan kita. Sudahkah kita maksimal mempersiapkan diri menghadapi bulan yang paling mulia ini? Sun...
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, aku akan memperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’.” (HR. Bukhari no. 6321 dan Muslim no. 758).
Dalam satu minggu ada waktu yang diistimewakan Allah Ta’ala, yaitu hari Jum’at. Dalam satu bulan pun ada beberapa hari yang diistimewakan Allah Ta’ala. Yaitu tiga hari (15, 16, 17) setiap bulannya. Di dalamnya kita disunnahkan untuk berpuasa.
Dan yang berikutnya adalah kelipatan setiap tahun. Dalam satu tahun ada satu bulan yang dimuliakan Allah Ta’ala. Di dalamnya diturunkan Al-Quran untuk pertama kalinya. Di dalamnya pintu Syurga dibuka dan pintu Neraka ditutup. Di dalamnya segala amal ibadah akan dilipatgandakan. Di dalamya jika kita panjatkan, maka akan diijabah. Tiada lain bulan tersebut adalah bulan Ramadhan. Ya, bulan yang kini kita sedang rasakan.
Sungguh beruntunglah kita yang diberikan kesempatan untuk beribadah di dalam bulan Ramadhan. Dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala Allah maka diampuni dosanya yang terdahulu." (HR. Bukhari).
Diriwayatkan pula bahwa salah satu pintu surga ada yang bernama Ar-Rayan. Dan pintu ini dikhususkan untuk orang- orang yang berpuasa. Ramadhan menjadi sarana yang paling istimewa untuk menjadikan diri kita termasuk dari orang-orang yang bertaqwa.
Bagaimana tidak? Hari demi harinya, jam demi jamnya, menit demi menitnya, detik demi detiknya menjadi waktu yang sangat istimewa dan sangat merugi kija kita lewatkan. Begitupun dengan Nabi dan para sahabatnya. Mereka tidak pernah melakukan di bulan Ramadhan, kecuali amalan ibadah kepada Allah Ta’ala.
Di antara amalan Rasulullah pada bulan Ramadhan sebagai berikut;
Shalat Tarawih
Tidak jauh berbeda dengan shalat malam yang kita laksanakan di luar bulan Ramadhan. Perbedaannya mungkin hanya dalam pengamalannya, yaitu berjama’ah. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mendirikan Ramadhan (shalat tarawih) atas dasar iman dan kesucian, diampuni segala dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari).Selain berjama’ah, juga biasanya dilasanakan setelah shalat Isya berjama’ah.
Membaca Al-Quran
Allah berfirman, “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) (Al-Baqarah: 185).
Maka seyogianya kita memanfaatkan waktu kita di bulan Ramadhan dengan membaca Al-Quran. Dalam sebuah hadist bahwa pahala setiap huruf Al-Quran yang kita baca adalah sepuluh.
Apalagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah, tentunya akan dilipat gandakan berkali-kali lipat. Selain itu jiwa dan hati mereka yang mengamalkan akan selalu dalam keadaan tenang. Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang yang berkumpul dalam masjid dan mereka membaca Al-Quran dan mempelajarinya bersama-sama, maka kepada mereka aan diturukan ketenengan jiwa, dilimpahkan rahmat, dikelilingi malaikat dab nereja disebut-sebut Allah di antara orang sekitarnya.” (HR. Bukhari)
I’tikaf
Sebuah kegiatan yang dilaksanakan di dalam masjid. Kegiatan ini diisi dengan beberapa amalan ibadah lainnya, seperti tilawah Al-Quran, dzikir, mendirikan shalat sunnah dan lain sebagainya. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW selalu melaksanakan I’tikaf.
Apalagi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Hal tersebut terlihat dari sebuah hadist yang diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwa Rasulullah SAW ketika menyisir, beliau hanya mengeluarkan kepalanya saja agar bisa disisirkan oleh istrinya. Sedangkan badannya masih ada di dalam masjid agar tetap dalam keadaan I’tikaf.
Shadaqah
Rasulullah SAW bersabda: “Shadaqah yang paling utama adalah shadawah di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi). Dalam hadist tersebut sudah jelas makna dan apa yang harus kita lakukan. Jika seperti itu, pasti di balik amalan ibadah tersebut ada pahala yang berlipat-lipat.
Jadi tidak aneh lagi jika di bulan Ramadhan ini, dengan mudah kita dapati orang-orang baik yang mengeluarkan hartanya untuk sedekah.
Tak perlu jauh kita ke Indonesia. Di sekitar kita, khususnya di masjid-masjid, baik besar atau pun kecil akan menyediakan ma’idatu Rohman. Di jalan-jalan pun demikian. Tidak sedikit orang-orang Mesir, ketika mendekati waktu maghrib mereka bersiap di sisi jalan untuk memberikan makanan atau minuman kepada mereka yang berada dalam perjalanan (kendaraan). Serta tak jarang, di antara kita (masisir) ada yang mendapatkan daging firah setiap hari untuk buka puasa. Hal tersebut tiada lain, sebuah rasa sadar terhadap keberkahan Ramadhan.
Mereka benar-benar tak ingin tertinggalkan keberkahan bulan tersebut. Karena mereka tahu, tak ada jaminan untuk tahun depan kembali lagi bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Semoga dengan mengamalkan amalan-amalan ibadah di atas dan amalan yang lainnya, kita termasuk orang-orang yang mendapatkan tujuan puasa tersebut. La’allakum tattaquun, yaitu predikat taqwa.
Allah berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling taqwa di antara kalian” (QS. Al-Hujurat:13).
Ketika kita bertaqwa, kita pun akan menjadi orang yang paling mulia di hadapan Allah Ta’ala. Kita lihat seseorang yang dimuliakan oleh orang tuanya. Mereka diberi sebelum meminta, kebutuhannya selalu terpenuhi, hari-harinya tak lepas dari kasih sayang, selalu dilindungi. Itu mulia di hadapan manusia, lalu bagaimana di hadapan Allah Ta’ala? Wallahu a’lam.[]
