Oleh: Zahrah Faradisi Seorang pujangga berkata ”Seorang Ibu ibarat madrasah. Apabila disiapkan dengan baik, berarti kamu menyiapkan satu ...
Seorang pujangga berkata ”Seorang Ibu ibarat madrasah. Apabila disiapkan dengan baik, berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya. Betapa ungkapan di atas menunjukkan peran agung seorang wanita, mengapa ia harus ada dimuka bumi. Dengan segala keistimewaannya.
Siti Hawa Allah ciptakan untuk menemani perjuangan nabi Adam ‘alaihissalâm. Menyemai benih cinta menumbuhkan tunas-tunas peradaban dunia. Dan mutiara yang disebut wanita itu adalah tiang dari sebuah Negara. Baik buruknya suatu negara dicerminkan dari keadaan para wanitanya. Jika baik wanitanya, maka baiklah negaranya. Betapa tidak, penguasa-penguasa berdasi yang duduk diatas singgasana kepresidenannya itu lahir dari rahim seorang wanita, tokoh-tokoh revolusioner, ulama-ulama, sampai preman-preman pasar dengan segala bentuknya adalah hasil didikan seorang wanita.
Sejenak kita mengenang Al-Khansa, ibu empat orang syahid. Ia adalah seorang wanita tangguh yang senantiasa menularkan semangat jihad kepada putra-putranya, sehingga mereka menjadi pejuang yang pantang menyerah dan rela mengorbankan jiwa raga-nya untuk kejayaan dan kemenangan islam. Sebuah realita yang jarang kita temui, terutama dimasa kini. Seorang ibu yang kurang lebih sembilan bulan berpeluh dalam letih siang malam menanggung beratnya beban kandungan, melahirkan, membesarkan si buah hati, namun dididik, dilatih, untuk pergi meninggalkan sang ibu selama-lamanya dalam peperangan untuk memperjuangkan dan meninggikan bendera islam dimuka bumi ini.
Ada pula Ummu Abdi binti Wadud, ibunda Abdullah ibnu Mas'ud, salah satu sahabat Rasulullah Saw.. Di mata Abdullah, sang ibu bukan sekedar orang yang menunggunya pulang ke rumah, tapi juga sebagai teman diskusi sekaligus penasehat. Tak heran jika Abdullah kemudian tumbuh menjadi pemuda cerdas dan berperan sebagai salah satu ujung tombak Islam pada masanya.
Adalah Nur Nahar, istri Muhammad Natsir, seorang pejuang islam dan kemerdekaan Indonesia. Adalah Ibunda Khadijah ra. yang menelurkan suara pertama dari kaum wanita dalam menguatkan dakwah dan risalah Nabi Muhammad “Demi Allah,Tuhan tidak akan mengecewakan engkau sama sekali. Sesungguhnya engkau bersilaturrahmi, menghubungi keluarga, dan mengangkat beban berat, memberi kepada orang yang tidak punya, menerima dan memberi (menghormati) kepada tamu, serta menolong orang-orang yang menderita”.
Begitulah, generasi dan peradaban ini akan menjadi emas, perak, ataukah perunggu, tergantung tangan tangan wanitanya. Ini adalah peran, tanggung jawab, dan kepercayaan akan eksistensi seorang wanita. Lantas sebagai wanita apakah sudah mempersiapkan diri dengan baik dalam menyambut peran tersebut?
Seringkali wanita meremehkan peran besar itu karena ketidaktahuannya ataupun pula karena maraknya pengaburan peran wanita yang dihembuskan oleh opini publik dengan gaya hidup yang jauh dari petunjuk yang lurus. Opini yang bisa jadi ekstrim memba-tasi wanita atau bahkan memberikan kebebasan yang berlebihan pada laku wanita dalam kiprahnya.
Wahai Ibu-Ibu Peradaban, masihkah engkau berpikir bahwa kita tidak dituntut seperti beratnya tugas para lelaki? Lantas membiarkan kening kening mereka saja yang berkerut mengurusi ulah-ulah ummat, puas dengan otot otot mereka saja yang turun tangan ke lapangan menyicil PR-PR bangsa?
“Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (Q.S. an-Nahl:97)
Ayat tersebut di atas mengindikasikan bahwa tidak ada perbedaan kedudukan antar laki-laki dan perempuan di sisi Allah selain amal sholeh mereka. Meskipun demikian, tetap saja terdapat perbedaan medan amal antara laki-laki dan perempuan karena karakteristik keduanya pun berbeda.
Akan lebih baik jika semakin dini peran ini disadari, daripada menyenja di mall-mall, dikejar-kejar deadline tren fashion terkini, beruban dan keriput dalam majelis-majelis gosip, migrain dengan program diet, kosmetik, dan style. Maka generasi dan peradaban seperti apakah yang akan terlahir dari wanita wanita minim kesadaran seperti itu? Bukan saatnya lagi sebagai muslimah menangguhkan kesadaran akan tanggung jawab besar ini sampai usia tertentu yang dianggap baru pantas memikirkan bentuk kontribusinya dalam masa depan dunia islam.
Detik ini juga, tanpa negosiasi tempo dan basa basi, seorang muslimah sejati harus bangkit dan ja-ngan betah berlama lama tergerus oleh zamannya, rela menjadi duplikat-duplikat wanita Barat. Kembalilah mengasah diri untuk memperoleh kematangan peran dalam pembangunan masa depan ummat, karena wanita-wanita itulah kunci kunci peradaban bangsa dan dunia. Wallâhu A'lam
