Oleh: Al Husain Al Habib Tiap langkah yang tergerak muncul dari rencana akal yang diteruskan melalui saraf motorik, selanjutnya mengg erak...
Oleh: Al Husain Al Habib
Tiap langkah yang tergerak muncul dari rencana akal yang diteruskan melalui saraf motorik, selanjutnya menggerakkan otot kaki. Begitu melangkah tampak sebuah pohon tinggi menjulang yang kokoh, lantas saraf-saraf mata menerima bayangannya dan diteruskan ke otak. Saat berteduh di bawah pohon tersebut, rindang dan sejuk oksigen yang dikeluarkan dari hasil metabolisme dirasakan otak melalui sarana beberapa panca indera. Memandang sekitar, tak semua dataran rata lansekapnya, maka jembatan berfungsi menghubungkan sisi lansekap tanah satu dengan yang lainnya.
Tiap langkah yang tergerak muncul dari rencana akal yang diteruskan melalui saraf motorik, selanjutnya menggerakkan otot kaki. Begitu melangkah tampak sebuah pohon tinggi menjulang yang kokoh, lantas saraf-saraf mata menerima bayangannya dan diteruskan ke otak. Saat berteduh di bawah pohon tersebut, rindang dan sejuk oksigen yang dikeluarkan dari hasil metabolisme dirasakan otak melalui sarana beberapa panca indera. Memandang sekitar, tak semua dataran rata lansekapnya, maka jembatan berfungsi menghubungkan sisi lansekap tanah satu dengan yang lainnya.Begitu pula dengan titik-titik separasi lainnya. Seorang mukmin yang bersatu memiliki unsur awal ta’âruf, kemudian kolaborasinya membentuk tafâhum, dan sampai pada titik kulminasi takâful. Ketiga unsur tersebut selalu berurutan mencapai titik kulminasinya secara tertib dan tak dapat dimulai dari titik akhir, dan tafâhum menjadi unsur separator.
Kemudian Allah Swt. memberikan Ramadhan sebagai karunia kepada umat manusia yang menyentuh segmen utama kehidupan yang merdeka, yaitu kasih sayang, pengampunan, dan pembebasan. Sejatinya, pembebasan dari api neraka, sebagai kebebasan abadi dan hakiki. Tiga segmen kehidupan ini serta-merta diberikan kepada hamba-Nya secara adil, bersama dengan sempurnanya hari-hari Ramadhan yang dilalui.
Separasi yang berlaku pada sekuel akhir, bahwa pengampunan menjadi sarana penghubung antara kasih sayang dan kebebasan. Maka berhitunglah!, Sebab dalam sabda Rasul Saw., berhitung adalah kausa bersama puasa untuk mencapai konsekuensi pengampunan. Konklusi terpenting adalah tak ada perbedaan derajat antara segmen-segmen tersebut.
Tak ada matrikulasi dalam unsur Ramadhan. Tak ada primer, sekunder atau tersier, yang ada adalah kelaziman jasad menjadi jiwa yang konstan. Sebab semua segmen tersebut merefleksikan jiwa menuju fase taqwa. Namun, titik tengah selalu berfungsi sebagai penentuan jati diri, ajang pembuktian bahwa harga diri relung manusia menjadi nilai intrinsiknya.
Pengampunan lahir dari kesungguhan, keteguhan, serta animo beraksi untuk perubahan menuju titik positif secara total. Karena pengampunan menjadi modal utama sebagai titik tolak menuju segmen selanjutnya; kebebasan. Sebuah fase rahasia mencari nilai dan faktor ‘x’, di mana kulminasi ketaqwaan ditentukan pada media yang enigma.
Apakah kulminasi tersebut dapat diraih dengan berjudi pada kondisi jiwa yang stagnan?, tidak ada yang berani menjawab selain relung jiwa nurani kita masing-masing.
Sambil menghitung berapa umur kita dan berapa Ramadhan yang telah kita lalui, serta berfikir tentang apa efek Ramadhan tersebut bagi jasad dan jiwa. Saat menempuh sebuah perjalanan, baik melewati jalan yang berkelok maupun lurus tak beraral, secara manusiawi kebutuhan terhadap kendaraan adalah hal yang sudah tentu. Kendaraan yang siap secara total pun sudah tentu akan lebih mudah menempuh perjalanan tersebut. Yang perlu disadari pula, bahwa melulu ukuran perjalanan lebih panjang dari ukuran kendaraan.
Sekelumit opini yang telah tersebut merupakan sebuah konsekuensi perjalanan hidup yang kompeten. Namun, apa gunanya berbincang tentang konstan atau stagnan, primer, sekunder atau tersier, fase kulminasi, dan lain sebagainya. Sementara hanya mampu merefleksikan dengan berfikir, berapa banyak manusia yang memiliki kelebihan akal untuk berfikir, namun tetap menjadi pengangguran. Sebab hanya berfikir tanpa memulai untuk bertindak, berhenti pada gelombang imajinasi.
Betapa banyak yang menyadari bahwa fase-fase Ramadhan bagaikan proses metamorfosa kupu-kupu. Dengan banyak aral melintang, terasingkan, dan tanpa persediaan konsumsi, bertahannuts dalam sebuah wadah yang disebut kepompong. Lalu fase yang sempurna menjadikannya kupu-kupu yang indah bentuknya, dan banyak yang menyadari itu. Namun tidak sedikit yang tak sadar karena hipnosis keindahannya, sampai lupa bahwa kupu-kupu dapat terbang. Wa ilallâhi turja’u’l umûr. 