Oleh: M. Zakaria Darlin “Orang pintar yang tidak beriman, lebih berbahaya daripada orang yang beriman namun bodoh.” Bukan hanya orang awa...
“Orang pintar yang tidak beriman, lebih berbahaya daripada orang yang beriman namun bodoh.” Bukan hanya orang awam yang menjadi sasaran perang melawan nafsu, namun perang batin dalam diri seorang yang beriman dan berilmu akan lebih besar pengaruhnya terhadap diri dan lingkungannya. Dan pada akhirnya, pemenangnya adalah mereka yang mampu “menentukan sikap” dan “bersikap”.
Bukan hanya sekedar wacana dan idealisme semata. Dua hal inilah yang akan dipegang oleh sang pemenang, yaitu prinsip dan praktek (iman wal ‘amal).
(“Innal insâna khuliqa halûa, idzâ massahu asy-syarru jazû’a, wa idzâ massahu’l khairu manû’a,…”).
Gelisah dan rasa sakit di ruang hati yang kerap kali melanda manusia. Ketika rasa kesal dan kecewa menumpuk dan tak mampu lagi untuk diredam dengan kata dan rasa. Maka banyak dari kita yang terjerumus dalam bahaya tangan dan kaki yang melangkah pada kemaksiatan. Mencari sesuatu yang hilang namun tak berbuah hasil, dan terkadang rasa sepi dan kekurangan yang selalu saja datang tak mengenal tempat dan waktu membuat diri kian bosan dan enggan kembali pada ketaatan.
Di lain waktu, kita sering diberi kelapangan dan kemudahan, namun tak banyak yang mengingat akan kesusahan dan kesempitan saudaranya. Hingga menjadi ujub dan takabur, lalai dan pelit, luput dari kondisi muslim yang sadar.
Sifat ini kian berkembang hingga menciptakan robot-robot yang pintar namun tak bertuhan. Kehidupan dunia adalah prioritas utama mereka dalam mencapai tujuan utama yaitu kesenangan. Apapun akan dilakukan demi mencapai kesenangan dan kebahagiaan hidup. Norma-norma agama dan moral bukan lagi penghalang untuk mencapai keinginan. “Do what you love and love what you do”. “Lakukan apapun, asal membuat bahagia dan tak merugikan orang”.
Adalah diantara prinsip yang didengung-dengungkan para pengagung kebebasan. Hak asasi manusia dijadikan alasan utama dalam mencapai keinginan. Hak asasi telah berubah menjadi hak juhudun nafsi. Hingga pada saat mereka mencapai kesenangan tersebut, rasa bosan hinggap. Menuntun mereka untuk mencari sesuatu yang lebih lagi, dan seterusnya dan seterusnya hingga mencapai titik nadir, yaitu mati rasa dan akhirnya jatuh ke lembah kehinaan.
Waktu yang membuktikan keberadaan manusia yang ingkar dan manusia yang taat. Waktu pula yang dapat menjadikan manusia menjadi ingkar, dan bisa menjadikannya taat. Waktu berubah dan waktu mampu merubah. Waktu yang akan menjadi penguji seberapa besar keimanan seorang hamba.
أمس ذهب و غدا لا يأتي
“Hari kemarin telah berlalu, hari esokpun belum tentu datang.”
Banyak orang yang mengadakan perjalanan dengan membawa bekal, kemudian ia kembali dengan oleh-oleh yang melimpah. Namun tidak sedikit pula yang pergi dengan bekal yang memadai dan kembali dengan tangan hampa. Umur panjang, kesehatan yang tiada henti, harta yang melimpah membuat lupa akan hakikat awal kehidupan. Hingga makhluk pintar bernama manusia ini sering terserang penyakit yang bernama “al-Wahn” (hubbu ad-dunya wa karâhiyatu’l maut). Cinta akan gemerlap perhiasan kehidupan dunia, dan lupa dengan kampung akhirat.
Seiring berjalannya waktu pula, Ramadan telah merekam jejak panjang sejarah kehidupan umat manusia yang pelik.
Mulai dari terjadinya Perang Badar di masa Rasulullah Saw., penaklukan Al-Quds oleh Salahuddin Al-ayyubi, hingga kemerdekaan Indonesia 1945, semua terjadi pada bulan mulia ini. Tentunya tak luput dari berkat dan rahmat Allah swt yang tercurah pada bulan Ramadhan.
Banyak kejadian besar yang tak diketahui oleh manusia terjadi pada bulan mulia Ramadhan, kecuali hanya sebagian kecil yang mampu mengambil hikmahnya. Sering kali manusia hanya tertarik dengan sisi duniawi dari momen Ramadhan. Bulan penuh magfirah ini dan segala pernak-perniknya dianggap sebuah ritual budaya yang datang setiap tahunnya, dan diakhiri dengan pesta yang dinamakan “lebaran”.
Suasana Islam cenderung menghiasai kehidupan umat muslim hanya di saat berpuasa. Selepas berbuka, kembali lagi ke tabiat semula. Hingga tak jarang bulan Ramadhan ini menciptakan insan yang Ramadhaniy (musiman), jauh dari tujuan utama sebenarnya yaitu untuk mencapai insan yang Madani.
Momen Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mengembalikan kesucian diri seorang manusia. Tak ada dosa yang tak kan diampuni, kecuali menyekutukan Tuhan. Tak ada tempat bagi seorang hamba yang insaf dan kembali pada Allah kecuali surga.
Sudah selayaknya bagi seorang insan yang tak luput dari dosa untuk meminta ampunan, bahkan manusia yang suci dari dosa sekelas Nabiyu’l Mustofa Rasulullah Saw. pun beristigfar dengan bilangan konstan setiap harinya. Namun kebanyakan manusia selalu lupa, dan berpura-pura lupa.
الصبر على المأمور,و الصبرعلى المحذور,و الصبر على المقدور
“Sabar dalam menjalankan perintah Tuhan (IQ), sabar dalam menjauhi larangan Tuhan (SQ), dan sabar dalam menerima takdir diri (EQ).”
Adalah prinsip utama orang yang pintar jasmani dan rohaninya. Konflik di dalam diri seorang manusia tidak jarang melalaikannya dari panggilan Tuhan. Permasalahan hidup yang pelik membuat kita sering melupakan keberadaan Tuhan. Namun orang yang pintar jasmani dan rohaninya, tidak akan pernah lupa dan berpura-pura lupa.
الصخورتسد الطريق على الضعفاء بينما يرتكز عليها الأقوياء ليصلوا بها إلى القمة
“Batu besar adalah penghalang bagi orang-orang yang lemah, tapi bagi orang-orang yang kuat mereka justru menjadikannya sebagai wasilah menuju puncak.”
Banyak orang cerdas dalam bersikap, namun tidak banyak yang cerdas menyikapi datangnya bulan Ramadhan.
Dan sepintar-pintarnya manusia adalah orang yang mampu membuat perubahan baik dalam dirinya, merubah hal yang negatif menjadi positif, dan menularkannya kepada orang lain dalam sebuah momen yang dinamakan kesempatan. Dan rintangan dalam menghadapi kekangan nafsu mampu ia jadikan sebagai senjata utama menuju surga, karena ia tahu bahwa ia layak untuk mendapatkannya. []
