Oleh: Akhrie Ramadayanto Dan, Ramadhan kembali tiba… Sudah siapkah kita menyambutnya..? Masing-masing kita tentu punya jawaban tersendiri....
Oleh: Akhrie Ramadayanto Dan, Ramadhan kembali tiba… Sudah siapkah kita menyambutnya..? Masing-masing kita tentu punya jawaban tersendiri.
Jawaban yang berbeda-beda. Sungguh beruntung mereka yang menyambutnya penuh suka cita, dengan perasaan senang karena dipertemukan kembali dengan bulan yang mulia ini. Merugi, mereka yang biasa saja dan bermalas-malas menyambutnya, apalagi mereka yang tak senang atau merasa terkekang karenanya.
Padahal kalau kita memahaminya, sungguh banyak hikmah yang bisa dipetik setiap kali Ramadhan tiba. Bulan agung yang dinanti-nanti ini akan segera berlabuh dengan membawa sejuta pahala dan maghfirah bagi siapa yang menginginkannya.
Tapi sayang kebanyakan kita lalai di hari-hari pertama Ramadhan, karena persiapan yang belum matang untuk menyambutnya. Akibatnya, kita tidak merasakan nilai puasa, nikmatnya tadabbur Al Qur'an, dan khusyuknya sholat yang sebenarnya.
Para ulama kita terdahulu, ketika memasuki bulan Rajab, mereka berdoa kepada Allah agar diberkahi di bulan Rajab dan Sya'ban serta disampaikan pada bulan Ramadhan. Mereka telah melatih diri dengan banyak berpuasa, membaca Al Qur'an dan selalu berjama'ah di masjid.
Segala sesuatu memang butuh yang namanya pemanasan atau bahasa kerennya 'Warming Up', supaya dalam pertandingan yang sebenarnya kita tidak cepat letih dan akhirnya kalah di tengah jalan.
Begitu pula dengan Ramadhan, karena di bulan ini Allah sedang menguji keimanan kita maka perlu ada pemanasan sebelum Ramadhan tiba dengan memperbanyak puasa dan membaca Al Qur'an.
Ramadhan juga merupakan momentum untuk perubahan diri, karena pada hakikatnya bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan semangat dan motivasi (syahrul hamasah).
Ramadhan semestinya mampu menjadikan setiap muslim yang beribadah di dalamnya menjadi termotivasi hidupnya. Setiap ibadah yang kita jalankan di bulan Ramadhan adalah sarana untuk memotivasi diri. Selama sebulan penuh kita dilatih untuk mengalahkan nafsu yang berasal dari tubuh kasar kita; nafsu makan, nafsu minum, dan seksual.
Kenyataannya, di bulan Ramadhan kita mampu mengalahkan tarikan nafsu demi memenangkan semangat ruh kita. Begitu juga dengan sholat tarawih yang melatih kita untuk sabar dan tekun. Bagaimana kita memanfaatkan Ramadhan kali ini dengan ibadah penuh makna ikhlas kepadaNya?
Caranya mudah, yaitu dengan membayangkan bahwa Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir kita di atas dunia ini. Tidak ada yang menjamin kita masih akan hidup di Ramadan yang akan datang.
Maut bisa datang kapan saja dan menghampiri di mana pun kita berada. Betapa banyak saudara-saudara kita yang Ramadhan kemarin masih berada di tengah-tengah kita, sekarang sudah menjadi penghuni kubur.
Jadi apa yang mesti kita lakukan setelah mengetahui bahwa Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir bagiku dan bagimu? Tentu yang paling layak adalah mempersembahkan yang terbaik. Selalu menjaga sholat jama'ah di masjid, menjaga diri dari hal-hal yang akan mengurangi nilai puasa kita di hadapan Allah.
Berusaha untuk selalu memperbanyak membaca Al Qur'an dan menjauhkan diri dari maksiat, serta tidak membuang-buang waktu dengan tidur yang panjang.
Kemudian yang tak kalah pentingnnya, jika kita mengetahui bahwa ini adalah Ramadan terakhir kita maka jangan pernah melupakan nasib umat Islam yang tengah terluka di belahan bumi sana. Apa yang akan kita jawab kelak di hadapan Allah jika ditanya apa yang telah kita persembahkan untuk membantu sesama dan menolong saudara seakidah kita?
Gaza yang masih dalam blokade, Irak dan Afghanistan yang terus terjajah, muslim Arakan di Burma yang dibantai oleh ekstrimis Budha, Sudan , Somalia dan nasib umat Islam di belahan dunia lainnya.[]
Jawaban yang berbeda-beda. Sungguh beruntung mereka yang menyambutnya penuh suka cita, dengan perasaan senang karena dipertemukan kembali dengan bulan yang mulia ini. Merugi, mereka yang biasa saja dan bermalas-malas menyambutnya, apalagi mereka yang tak senang atau merasa terkekang karenanya.
Padahal kalau kita memahaminya, sungguh banyak hikmah yang bisa dipetik setiap kali Ramadhan tiba. Bulan agung yang dinanti-nanti ini akan segera berlabuh dengan membawa sejuta pahala dan maghfirah bagi siapa yang menginginkannya.
Tapi sayang kebanyakan kita lalai di hari-hari pertama Ramadhan, karena persiapan yang belum matang untuk menyambutnya. Akibatnya, kita tidak merasakan nilai puasa, nikmatnya tadabbur Al Qur'an, dan khusyuknya sholat yang sebenarnya.
Para ulama kita terdahulu, ketika memasuki bulan Rajab, mereka berdoa kepada Allah agar diberkahi di bulan Rajab dan Sya'ban serta disampaikan pada bulan Ramadhan. Mereka telah melatih diri dengan banyak berpuasa, membaca Al Qur'an dan selalu berjama'ah di masjid.
Segala sesuatu memang butuh yang namanya pemanasan atau bahasa kerennya 'Warming Up', supaya dalam pertandingan yang sebenarnya kita tidak cepat letih dan akhirnya kalah di tengah jalan.
Begitu pula dengan Ramadhan, karena di bulan ini Allah sedang menguji keimanan kita maka perlu ada pemanasan sebelum Ramadhan tiba dengan memperbanyak puasa dan membaca Al Qur'an.
Ramadhan juga merupakan momentum untuk perubahan diri, karena pada hakikatnya bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan semangat dan motivasi (syahrul hamasah).
Ramadhan semestinya mampu menjadikan setiap muslim yang beribadah di dalamnya menjadi termotivasi hidupnya. Setiap ibadah yang kita jalankan di bulan Ramadhan adalah sarana untuk memotivasi diri. Selama sebulan penuh kita dilatih untuk mengalahkan nafsu yang berasal dari tubuh kasar kita; nafsu makan, nafsu minum, dan seksual.
Kenyataannya, di bulan Ramadhan kita mampu mengalahkan tarikan nafsu demi memenangkan semangat ruh kita. Begitu juga dengan sholat tarawih yang melatih kita untuk sabar dan tekun. Bagaimana kita memanfaatkan Ramadhan kali ini dengan ibadah penuh makna ikhlas kepadaNya?
Caranya mudah, yaitu dengan membayangkan bahwa Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir kita di atas dunia ini. Tidak ada yang menjamin kita masih akan hidup di Ramadan yang akan datang.
Maut bisa datang kapan saja dan menghampiri di mana pun kita berada. Betapa banyak saudara-saudara kita yang Ramadhan kemarin masih berada di tengah-tengah kita, sekarang sudah menjadi penghuni kubur.
Jadi apa yang mesti kita lakukan setelah mengetahui bahwa Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir bagiku dan bagimu? Tentu yang paling layak adalah mempersembahkan yang terbaik. Selalu menjaga sholat jama'ah di masjid, menjaga diri dari hal-hal yang akan mengurangi nilai puasa kita di hadapan Allah.
Berusaha untuk selalu memperbanyak membaca Al Qur'an dan menjauhkan diri dari maksiat, serta tidak membuang-buang waktu dengan tidur yang panjang.
Kemudian yang tak kalah pentingnnya, jika kita mengetahui bahwa ini adalah Ramadan terakhir kita maka jangan pernah melupakan nasib umat Islam yang tengah terluka di belahan bumi sana. Apa yang akan kita jawab kelak di hadapan Allah jika ditanya apa yang telah kita persembahkan untuk membantu sesama dan menolong saudara seakidah kita?
Gaza yang masih dalam blokade, Irak dan Afghanistan yang terus terjajah, muslim Arakan di Burma yang dibantai oleh ekstrimis Budha, Sudan , Somalia dan nasib umat Islam di belahan dunia lainnya.[]
