Oleh: M. Arzil Yusri Menunggu tiada jemu, menanti tanpa harus sakit hati. Sebelas bulan sudah berlalu, meniti jalan kehidupan penuh lik...
Sebelas bulan sudah berlalu, meniti jalan kehidupan penuh liku-liku. Terkadang nafsu yang selalu menjadi raja, hingga memperbudak akal yang semestinya diberi tahta. Sebelas bulan sudah mengumpul bekal, mencari nafkah untuk hidup dan menikmati nikmatnya makan dan minum di setiap waktu. Sehingga terkadang lupa untuk bersyukur, apalagi berbagi kepada yang membutuhkan.
Bulan yang dinanti telah tiba, bulan yang dirindu telah datang. Meninggalkan hiruk pikuk dunia untuk pengabdian tulus kepadaNya. Bulan penuh berkah ini sering disebut 'months of training' untuk menghadapi kompetisi-kompetisi kehidupan sebelas bulan selanjutnya. Kalau di bulan ini berlatih dengan bagus dan keluar sebagai peserta terbaik, maka pintu kebahagiaan akan selalu terbuka untuk dimasuki kapan saja.
Ramadhan bukan sekedar pernak-pernik dan hiasan lampu jalanan, bukan sekedar berbondong-bondong pergi shalat tarawih, bukan juga sekedar antrian panjang menanti hidangan Tuhan, tapi Ramadhan menyimpan berjuta hikmah dan berjuta pelajaran hidup yang sangat berharga.
Ramadhan adalah bulan tarbiyah, pendidikan dan pembentukan jati diri manusia. Merugilah hamba yang bertemu Ramadhan namun ia tidak mendapat apa-apa. Kita sering mengikrarkan dan bahkan sering membaca ayat dalam Al Quran, sebagai penyerahan diri kita kepada Allah swt.
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri (kepada Allah) (QS. al-An’am : 162-163).
Pembentukan jati diri dalam ibadah shiyam merupakan aktivitas yang sangat penting dalam kehidupan manusia mukmin, karena dengan jati diri itulah kita akan bersikap istiqomah dalam menjalani ajaran agama. Ibadah shiyam yang kita laksanakan harus mampu membentuk jati diri setiap muslim dan meningkatkan kualitasnya dari tahapan yang paling rendah menuju tahapan yang paling tinggi.
Pembentukan jati diri itu adalah perubahan menuju kepada derajat yang lebih sempurna. Sebagaimana yang dicontohkan lewat kehidupan bersahaja para sahabat Nabi dan Tabiin generasi awal dahulu. Di bulan Ramadhan manusia bisa belajar menjadi makhluk sosial yang sejati, merasakan apa yang dirasakan oleh mereka-mereka yang kurang beruntung dalam hidup. Lapar dan dahaga membuat manusia belajar bahwa inilah yang dirasakan oleh fakir miskin yang makan paginya terkadang di malam hari, dan makan siangnya ketika malam esok telah datang kembali.
Sehingga ada pola pikir dan pertanyaan yang muncul dari dua kubu yang jauh berbeda ini. Bagi si kaya, mereka bahkan sampai bingung untuk sekedar memilih menu apa, restoran mana tempat makan siang kali ini? Tapi bagi si fakir cuma satu yang mereka pikirkan, makan apa hari ini? Si miskin selalu dalam dilema.
Pada Ramadhan pula manusia belajar menghargai waktu. Kapan seharusnya makan, kapan waktu tidur dan kapan waktu bekerja. Bangun sahur mengajari manusia untuk terbiasa terjaga di sepertiga malam terakhir, membuka pintu menyambut tamu agung Sang Pemilik Jiwa, dan menjemput rahmat dan ampunan yang ditawarkan kepada hamba yang bangun dan shalat malam di waktu-waktu terakhir malam.
Berbuka puasa mengajari manusia betapa pentingnya waktu Maghrib, waktu sibuk-sibuknya bekerja, otot dan otak tegang. Terkadang saat maghrib tiba banyak manusia masih dalam perjalanan pulang, sehingga banyak dari mereka yang alpa. Padanya (Ramadhan) juga manusia belajar arti kebersamaan, merasakan lapar bersama-sama, haus bersama-sama, berdiri, ruku’ dan sujud bersama dalam kesyahduan lantunan ayat suci Al Quran yang dilantukan oleh Imam Masjid. Shalat isya dan tarawih berjamaah. Bahkan di sebagian Negara sholat tarawih ditutup dengan tadarrus Al Qur'an bersama hingga waktu sahur tiba.
Ramadhan juga menjadi waktu kebersamaan yang indah bagi super sibuk, yang tidak memiliki banyak waktu untuk berkumpul. Pergi pagi pulang tengah malam, sampai anak-anak diasuh oleh pembantu. Ramadhan lah satu-satunya bulan yang bisa mengumpukan mereka kembali dalam kebersamaan dan saling berbagi ceria di waktu berbuka dan sahur.
Di Ramadhan pula manusia belajar untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Ilahi Robbi. Ternyata manusia lemah dan tak berdaya. Dalam satu hari saja perut tidak kebagian makanan dan minuman, maka manusia tak bisa berbuat banyak. Lemah dan pucat jelas tampat di raut wajah. Semuanya akan kembali berseri ketika mendengar lantunan adzan Maghrib dan kembali diberi kekuatan oleh Allah. Ternyata tiada daya dan upaya bagi seorang hamba melainkan atas izin dan kehendak Allah Ta’ala.
Pada hakikatnya Ramadhan dapat membentuk jati diri seseorang menjadi pribadi yang berkualitas dan memiliki kemampuan yang tinggi dalam meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Salah satu jati diri manusia mukmin adalah berpola hidup sederhana dan dapat mengendalikan nafsunya sehingga tidak terjerembab dalam lembah kehinaan dan kehancuran.
Ada tiga macam nafsu yang sering menjerumuskan seseorang ke lembah kehinaan, nafsu dari dorongan perut, libido sexual, dan hawa nafsu yang menyesatkan. Nabi saw sangat mengkhawatirkan umatnya terperangkap dalam tiga macam nafsu yang menghancurkan tersebut, sehingga Beliau bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْهَوَى
Artinya: “Sesungguhnya aku mengkhawatirkan kamu sekalian terperangkap dalam keinginan hawa nafsu dari dorongan perutmu, dorongan seksualmu dan hawa nafsu yang menyesatkan. (HR. Ahmad. No Hadis:18951)
Begitulah mulianya bulan agung ini. Mari berlomba-lomba dengan semangat yang menggema-gema. Hidupkan siang malamnya dengan ibadah dan tilawah. Petik hikmahnya. Belajar, belajar dan belajar dari apa yang dirasakan di bulan tarbiyah ini, agar Ramadhan yang ditempuh tidak berlalu sia-sia. []
