Oleh: Maryono Hudi Dua puluh lima hari sudah kami berada di Jalur Gaza. Tepat tanggal 4 Juli 2012 yang lalu rombongan Duta Qur'an unt...
Dua puluh lima hari sudah kami berada di Jalur Gaza. Tepat tanggal 4 Juli 2012 yang lalu rombongan Duta Qur'an untuk Rakyat Palestina disambut di pintu gerbang Rafah dengan sambutan yang luar biasa, bagaikan menyambut keluarga yang lama tak berjumpa.
Rombongan kami berjumlah delapan orang, enam siswa, satu guru dan satu Direktur Sekolah Darul Qur'an Internasional Bandung.
Ramadhan Karim
Akhirnya kami bisa menjalankan Ramadhan di sini, di negeri yang diberkahi, negeri para pejuang, negeri tin dan zaitun dan negeri para nabi. Hari demi hari berjalan begitu cepatnya. Aura keberkahan begitu kuat terasa.
Kami tinggal di kantor Darul Quranul Karim wa Sunnah di lantai empat bangunan Masjid Al Abrar, yang pada tahun 2008 silam masjid ini dibombardir oleh tentara zionis yahudi dengan dua rudal hingga luluh lantak. Namun segera dibangun kembali oleh yayasan Ar Rahmah Alamiyah dari Kuwait.
Suasana musim panas di Jalur Gaza tak membuat kaum muslimin malas beraktifitas. Dari anak-anak hingga orang tua, mereka berlomba-lomba mengisi Ramadhan dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an. Apalagi dengan kedatangan siswa Indonesia membuat anak-anak Gaza betah di masjid.
Menu Khas Saat Berbuka
Selama Ramadhan, penduduk Gaza selalu menyediakan minuman yang rasanya mirip dengan gula aren, namanya Kharrub. Terus terang minuman ini jadi incaran saya pribadi dan kawan-kawan, karena rasanya yang manis dan melepas dahaga.
Buah kurma sudah tidak asing lagi baik di Gaza maupun negara arab yang lainnya, karena selalu dijadikan santapan pembuka.
Selepas ta'jil ifthar, kami langsung shalat Maghrib dengan bacaan surat-surat pendek. Nah, setelah shalat Maghrib baru kami menyantap makanan beratnya. Ada Maftul, makanan khas yang terbuat dari biji gandum ditemani lauk ayam yang empuk dan ditambah kuah sop kentang. Untuk cuci mulut alias makanan penutupnya ada kue Borma, Qathaif, Kunafa dan buah-buahan seperti apel, anggur, pear, khukh, santaroza.
Buah di sini sungguh berbeda dengan buah di Mesir. Buah di sini manis dan segar, saat saya tanya kenapa buah di sini kok subur dan manis, mereka menjawab karena tanah ini disiram dengan darah segar para syuhada. Terus terang masyarakat Gaza berebut untuk mengundang kami berbuka puasa, jadi hampir setiap hari undangan buka puasa bareng plus diminta untuk jadi imam shalat Isya, Tarawih, ceramah dan nasyid.
Suasana Tarawih
Satu jam setelah berbuka, azan Isya berkumandang dari setiap penjuru jalur Gaza. Masyarakat berduyun-duyun ke masjid atau lapangan untuk menunaikan shalat Isya dan Tarawih berjamaah. Kedatangan kami ke Gaza ternyata sangat dirindu, terbukti kami selalu diminta untuk jadi imam Isya dan Tarawih. Alasannya mereka ingin mendengar suara orang Indonesia yang merdu.
Permintaan dari beberapa masjid membuat kami harus keliling ke beberapa masjid setiap hari. Bacaan suratnya rata-rata setengah halaman untuk satu rakaat, jadi tidak terlalu panjang. Sebab kalau bacaan suratnya panjang jamaah jadi mandi keringat ditambah seringnya mati lampu di Jalur Gaza. Setelah empat rakaat tarawih ada ceramah sedikit tentang maksud kedatangan kita ke Gaza ditutup dengan nasyid perjuangan.
Saat Yang Paling Berkesan
Saat yang mendebarkan ketika kami berbuka puasa di kediaman Dr. Shaleh Rantisi, saudara kandung Alm Dr. Abdul Aziz Rantisi. Di atas kami terbang pesawat tanpa awak “Drone” yang biasanya membawa dua rudal. Masyarakat Gaza biasa menyebutnya Zannanah. Namun, Alhamdulillah Allah masih melindungi kami semua.
Yang kedua, shalat Tarawih di tepi pantai Gaza. Itu adalah saat terindah bagi kami. Udara yang sejuk, deburan ombak, dan lantunan ayat suci Al-Qur'an membuat hati bergetar mengingat keagungan Allah pencipta alam semesta.(wka)