Oleh: Raidi Rizki Anshari Oman adalah salah satu negara Islam yang terletak di Syibhul Jazirah Al-'Arabiyah yang ber-ibukota-kan Musca...
Oman yang terkenal sebagai negara kedua terbersih di dunia ini mempunyai penduduk yang sangat ramah, jauh berbeda dari apa yang kami dengar tentang sifat jahiliyah orang arab. Setelah bertahun-tahun kami 'makan garam' di negara ini, ada beberapa hal yang membedakan penduduk Oman dengan negara kita warga Indonesia, diantaranya adalah perayaan-perayaan hari besar agama Islam.
Selama empat tahun kami tinggal dan belajar di 'negara tandus' ini belum pernah sekalipun kami mendapati perayaan Isra' Mi'raj atau 1 Muharram, apalagi Khauri Apam (berbagi serabi), itu sudah sangat tentu tidak ada. Begitu juga dengan suasana menyambut bulan Ramadhan, mereka sendiri sebagai warga Oman mengakui bahwa Ramadhan di Oman tidak ada yang spesial, tidak ada yang istimewa. Semuanya terlihat biasa-biasa saja. Sangat berbeda dengan negara-negara Islam lainnya. Oleh karena itu sudah menjadi hal yang lumrah jika semua warga asing ingin pulang ke negaranya masing-masing ketika Ramdahan tiba.
Ramadhan sudah sangat dekat dan saat ini kami masih di Oman. Kami pun jadi sangat merindukan kampung halaman. Berbicara tentang hari-hari di bulan Ramadhan, kita tidak pernah mendapati mereka –penduduk Oman- berjualan kue seperti kebiasaan kita yang dapat kita saksikan di Indonesia, apalagi mie caluek dan es campur.
Kita sebagai warga Indonesia pasti tahu persis bagaimana suasana Ramadhan di negara kita serta suasana keislamannya. Saat Ramadhan tiba kita fokus pada unsur ritual yang hanya nampak di mata saja. Meriah karena ngabuburit ke pasar sambil cari bukaan sekalian lirik adik-adik yang jualan. Atau meriah karena sarung, baju dan peci baru. Atau meriah di lima malam pertama dan lima malam terakhir.
Tetapi kita sering lupa dengan jiwa atau ruh Ramadhan yang menjadi target utama surat Al Baqarah ayat 183 yang sudah kita hapal bersama itu. Sangat jauh berbeda dengan apa yang kita dapati di Oman.
Sepertinya mereka hanya fokus dengan hal-hal rohani. Mesjid tidak pernah sepi setiap saat shalat lima waktu, Ketika malam tiba, mereka shalat Tarawih hanya delapan raka'at, tetapi dengan durasi satu sampai dua jam.
Di sisi lain, selain pemerintah, semua orang juga berlomba-lomba menyediakan makanan untuk berbuka sekaligus sahur bagi siapa saja yang ada di masjid-masjid. Hal ini yang menjadikan kami para mahasiswa –khususnya asal Indonesia- bahagia, karena bisa menghemat uang saku. Dan yang pasti kelebihan ini pula yang menjadikan mereka mulia di mata Allah dan manusia.
Di akhir 'curahan hati sang perantau' yang singkat ini, kami mohon maaf jika ada kata atau ungkapan yang tidak berkenan di hati para pembaca. Ini lah kejujuran hati yang harus kami sampaikan dengan slogan "Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit."
Kami akhiri dengan sebuah kepastian bahwa semua negara punya kekurangan dan kelebihan masing-masing, baik itu dalam hal budaya bangsa atau tradisi keagamaan.Warga Oman menginginkan suasana Ramadhannya meriah seperti di negara kita, kita pun merindukan jiwa atau ruh Ramadhan seperti yang mereka amalkan. Dan yang pasti, jangan pernah membenarkan tradisi, tapi tradisikan lah kebenaran! Wallaahu ‘alam bish shawaab. []
