Oleh: Nur Jannah Hiola Bergelar perempuan muslimah adalah sebuah anugerah terindah. Karena muslimah adalah perempuan pilihan Allah SWT ya...
Lihatlah kisah-kisah teladan yang terukir dari kehidupan para shahabiyat. Perjuangan mereka tidak kalah dari apa yang diberikan oleh para sahabat dari kaum pria. Khadijah, perempuan pertama yang memeluk islam dan memiliki jasa besar dalam membantu perjuangan Rasulullah Saw.
Ada juga Asma’ binti Abu Bakar, sosok cerdas yang membantu mempersiapkan ekspedisi hijrah pertama Rasulullah Saw. dan ayahnya. Selain itu juga ada Al-Khansa, seorang ibu yang mendukung dan menyemangati perjuangan keempat putranya untuk menjadi syuhada di medan perang.
Urgensi Tarbiyah bagi muslimah Keindahan akhlak akan terus memesona jika ia senantiasa dijaga dan dipelihara. Karena hakikatnya, akhlak bersumber dari keimanan dalam hati, dan hati kita bukanlah sesuatu yang statis. Iman kita begitu dinamis. Bak gelombang air laut yang kadang pasang dan surut. Seperti bunga yang tumbuh bermekaran di taman kemudian seiring berjalannya waktu ia pun terlupa, tanpa pupuk dan tanpa air, maka ia akan layu lalu berguguran. Ketika kondisi keimanan kita lemah, sedang dalam kondisi itu kita masih berada dalam kebaikan, kita beruntung. Namun, ketika kondisi keimanan kita lemah, dan kondisi tersebut membuat kita keluar dari koridor ajaran Rasulullah Saw, kita celaka.
Rasulullah Saw. Bersabda :
“Engkau mempunyai amal yang bersemangat, dan setiap semangat mempunyai kelemahan. Barangsiapa yang kelemahannya tertuju pada sunnahku, maka dia telah beruntung. Dan, siapa yang kelemahannya tertuju kepada selain itu, maka dia telah binasa.” (HR. Ahmad).
Maka, mempertahankan keindahan akhlak agar senantiasa hadir dalam diri muslimah adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh muslimah itu sendiri. Salah satunya adalah dengan Tarbiyah Dzatiyah. Abdullah bin Abdul Azis al-Aidan di dalam bukunya "Tarbiyah Dzatiyah" menyebutkan urgensi tarbiyah dzatiyah, antara lain :
1. Menjaga diri mesti didahulukan daripada menjaga orang lain. Tarbiyah seorang muslim terhadap dirinya tidak lain adalah upaya melindunginya dari siksa Allah ta’ala dan neraka-Nya. Allah Swt. berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim : 6)
2. Jika kita tidak mentarbiyah (membina) diri kita, maka siapa yang akan mentarbiyah kita? Siapa yang mentarbiyah seseorang saat ia berusia lima belas tahun, atau dua puluh tahun, atau tiga puluh tahun, atau lebih? Jika ia tidak mentarbiyah diri sendiri, ia kehilangan waktu-waktu ketaatan dan moment-moment kebaikan.
3. Hisab kelak bersifat individual. Hisab pada hari kiamat oleh Allah ta’ala kepada hamba-hambaNya bersifat individual, bukan bersifat kolektif. Allah Swt. berfirman : “Dan setiap mereka datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri” (QS. Maryam : 95)
4. Tarbiyah dzatiyah lebih mampu menciptakan perubahan. Setiap orang pasti meiliki aib atau kekurangan, atau melakukan kelalaian dan maksiat, baik maksiat kecil atau dosa. Jika masalahnya seperti itu, ia perlu memperbaiki seluruh sisi negatif pada dirinya sejak awal, sebelum sisi negatif tersebut membengkak. Dan seseorang tidak dapat meluruskan kesalahan-kesalahannya, atau memperbaiki aib-aibnya, dengan sempurna dan permanen, jika ia tidak melakukan upaya perbaikan ini, dengan tarbiyah dzatiyah, karena ia lebih mengetahui dirinya sendiri dan rahasianya.
5. Tarbiyah dzatiyah adalah sarana tsabat (tegar) dan istiqomah.
6. Sarana dakwah yang paling kuat. Cara yang paling efektif untuk mendakwahi orang lain dan mendapatkan respon mereka ialah dengan menjadi qudwah (panutan) yang baik dan teladan istimewa, pada aspek iman, ilmu, dan akhlaknya. Qudwah tinggi dan pengaruh kuat tersebut tidak dapat dibentuk oleh sekian khutbah dan ceramah saja. Namun, dibentuk oleh tarbiyah dzatiyah yang benar.
7. Cara yang benar dalam memperbaiki realitas yang ada. Bagaimana kiat memperbaiki realitas pahit yang dialami umat kita sekarang? Dengan ringkas, langkah tersebut dimulai dengan tarbiyah dzatiyah, yang dilakukan setiap orang dengan dirinya, dengan maksimal, syumul (universal), dan seimbang. Sebab, jika setiap individu baik, maka baiklah keluarga, begitu pula masyarakat. Demikianlah, pada akhirnya sedikit demi sedikit realitas umat akan menjadi baik secara total.
8. Karena keistimewaan tarbiyah dzatiyah. Urgensi tarbiyah dzatiyah lainnya ialah mudah diaplikasikan, memiliki banyak sarana, dan selalu ada pada diri seorang muslim di setiap waktu, kondisi, dan tempat..
Urgensi Kontinuitas Tarbiyah Pastinya Tarbiyah Dzatiyah yang sudah terlaksana akan sangat membutuhkan kontinuitas. Karena kontinuitas dan konsistensi adalah salah satu elemen penting untuk merubah hidup kita menjadi lebih baik. Setidaknya ada 3 langkah yang diyakini mampu menghidupkan kontinuitas dalam hidup kita.
Langkah pertama ialah niat. Niat merupakan sebuah langkah awal untuk memulai segala pekerjaan yang ingin kita lakukan. Dengan niat yang kuat, kita dapat melakukan pekerjaan apapun dengan mudah dan sungguh-sungguh yang akan bermuara kepada hasil yang maksimal.
Langkah selanjutnya adalah mengendalikan pikiran kita dan jangan biarkan pikiran yang mengendalikan kita. Kemudian langkah yang terakhir adalah melatih kekuatan kontinuitas yang kita miliki dengan memberikan sebuah konsekuensi jika kita merusak kontinuitas yang sedang kita bangun.
Semoga catatan ini mampu menyelipkan semangat untuk senantiasa memperbaiki diri, apalagi dengan hadirnya bulan ramadhan, momentum yang sangat tepat dalam rangka perbaikan diri. Wallahu’alam bisshowwab.
