Tentu bukan kebetulan bila Al-Quran begitu banyak mengingatkan manusia untuk merenungi alam. Ayat-ayat yang mengajak manusia untuk meren...
Tentu bukan kebetulan bila Al-Quran begitu banyak mengingatkan manusia untuk merenungi alam. Ayat-ayat yang mengajak manusia untuk merenungi ciptaan diri mereka sendiri, juga memuat jutaan makna. Sangat banyak makhluk Allah yang ternyata lupa terdeteksi secara bijaksana dalam kehidupan kita, bahkan walaupun ia terkadang begitu dekat.
Memang hanya sedikit orang yang mau berlama-lama mengamati dan belajar dari gerak-gerik alam ini. Padahal, hamparan bumi dan bentangan langit adalah kumpulan ibrah yang tak pernah kering. Gunung, lembah, hutan, lautan, bahkan kicauan burung adalah gudang ilmu yang tidak pernah bosan untuk dijadikan guru.
Angin misalnya, adalah satu dari elemen kehidupan yang paling asasi. Walau tidak terlihat, ia teramat dekat dan sama sekali tidak asing. Hampir setiap detik kita berinteraksi dengannya. Tapi pernahkah kita meresapi kehadirannya sebagai guru kehidupan? Jawabannya, mungkin belum.
Ibnu Abbas r.a., ketika menggambarkan kondisi Nabi Saw. di bulan Ramadan, memilih angin sebagai pengibaratan. "... Rasulullah demikian dermawan di bulan Ramadan, saat di mana malaikat Jibril menyimakkan bacaan Qurannya. Sungguh di saat itu beliau lebih pemurah dari angin yang berhembus...", begitu kira-kira sahabat agung itu menuturkan. (HR. Bukhari).
Ya, angin adalah lambang kedermawanan yang tiada tara. Hampir setiap lekuk bumi merasakan kelembutannya. Ketika panas menerpa, ia datang menyapa semua celah, membelai tubuh, mengusir kepenatan. Hembusannya menyejukkan banyak orang, tanpa pamrih.
Maka benarlah, Rasulullah laksana angin, bahkan lebih agung dari kedermawanan yang disebar angin. Beliau adalah rahmatan lil ‘âlamîn. Kelembutan bagi segenap alam, kesejukan bagi seluruh makhluk.
Tapi, angin memang luar biasa. Kelembutannya dapat berubah menjadi keperkasaan yang menakutkan. Dermawannya dapat menjadi kemurkaan yang memberangus kebatilan. Semilirnya dapat seketika membentuk topan yang garang. Tidak heran bila ternyata banyak azab yang menimpa umat terdahulu dalam bentuk angin. Kaum 'Âd misalnya, celaka dihantam badai dingin yang mematikan. Tentara angin juga yang meluluhlantakkan pasukan kuffar di perang Khandaq. Dari dulu hingga sekarang, badai tornado atau puting beliung merupakan horor yang menakutkan semua orang.
Di dalam Al-Quran, dua sisi kehidupan angin ini terekam dengan amat cantik. Ubai bin Ka'ab mengatakan bahwa bila "angin" di dalam Al-Quran diungkapan dengan kata "Ar-Riyâh", maka maknanya adalah rahmat. Sedangkan bila diungkapkan dengan kata "Ar-Rîh", maka maknanya adalah azab. Itulah mengapa ketika angin berhembus, Rasulullah Saw. Berdoa, “Ya Allah jadikanlah ia riyâh (angin rahmat), jangan jadikan ia rîh (angin adzab). (Musnad As-Syafi‘i).
Dengan dua sisi kehidupannya, angin adalah guru yang bijaksana. Angin mengajarkan sikap lembut yang proporsional. Ia mewasiatkan sikap keras yang bijaksana. Dan ternyata dengan dua sayap itu dakwah Rasul menerobos kepekatan jazirah Arab.
Sekali lagi, Rasul ibarat angin lembut yang berhembus memadamkan angkara murka. Entah berapa banyak kaum musyrik yang bertekuk lutut di depan kelembutannya. Tapi di sisi lain, rasul adalah hempasan topan yang mencontohkan ‘izzah dan keperkasaan Islam. Beliau memang tidak murka bila dirinya dicaci dan dihinakan, tapi lain halnya bila agama Allah yang direndahkan. Entah berapa banyak pula kaum kuffar yang merasakan ketegasannya. Bani Qainuqa' terpaksa enyah dari Madinah. Ka'ab bin Asyraf, gembong Yahudi di Madinah juga tidak dibiarkan lama-lama congkak dengan kedurhakaannya. Begitupun deretan peristiwa pahit yang dirasakan musuh-musuh Islam, akibat sengaja merendahkan dakwah, memancing amarah Rasulullah!
Abu Bakar juga demikian, siapa yang tidak kenal dengan kelembutannya, siapa yang tidak kenal kedermawanannya. Ia sungguh adalah angin lembut yang menebar miliknya untuk dirasakan banyak orang. Hanya Allah dan Rasul yang ia sisakan untuk keluarganya, ketika seruan jihad menuntut derma materil. Tapi, lihat bagaimana murkanya ketika syiar Islam diinjak-injak. Para pembangkang yang enggan membayar zakat akhirnya harus mengakui kedahsyatan murka sang khalifah.
Sederhana saja, seorang muslim adalah angin lembut yang menyejukkan banyak orang, tapi bukan bunglon yang terbiasa merubah warna untuk mengemis tempat di kemekaran pohon. Muslim yang baik juga adalah badai yang siap menghantam bila saat 'izzah harus ditampilkan, tapi ia juga bukan banteng buta yang menerjang tanpa arah. Ia amat tahu kapan harus membelai, dan kapan harus menerjang. Ya, laksana angin.
