Islam adalah anugerah agung dari Sang Pencipta, karena hanya Islam yang dapat menjamin keselamatan manusia di dunia dan akhirat. Selu...
Islam Adalah Nikmat
Memeluk agama Islam merupakan nikmat yang amat besar. Kita wajib bersyukur pada Allah Swt. atas hidayah Islam yang telah dikaruniakan. Bayangkan jika kita ditakdirkan tidak dalam keadaan muslim? Apakah ada yang bisa menjamin sekarang atau esok kita akan mengenal agama Islam?
Kita dapat mengambil pelajaran untuk terus mensyukuri nikmat Islam dengan melihat keadaan orang-orang kafir kelak di akhirat, "Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka akan mendapatkan laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia." (QS, Al-Baqarah: 161).
Bentuk kesyukuran atas nikmat ini, dapat kita wujudkan dalam berbagai hal. Syaikh Fathi Yakan—pengarang buku Mâdza Ya‘ni Intimâi Lil Islâm—menjelaskan, salah satu wujud kesyukuran kita atas nikmat Islam adalah dengan menumbuhkan komitmen dan loyalitas terhadap Islam itu sendiri.
Loyalitas muslim terhadap Islam adalah bukti ketulusan cinta, kesetiaan dan kesyukuran. Semakin tinggi loyalitas kita terhadap Islam, semakin kuat pula komitmen kita untuk setia dan kontinu untuk lebih memahami, menjalankan dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam.
Seorang muslim yang loyal, akan menempatkan semua sisi kehidupannya di bawah naungan ajaran Islam. Ia senantiasa menjadikan Islam sebagai pondasi utama dalam berakidah, beribadah, berakhlak, bahkan meyakini bahwa bendera Islam akan terus berkibar di muka bumi, walau badai cobaan terus menghantam.
Islam dalam Berakidah
Mengingat begitu pentingnya akidah dalam kehidupan seorang muslim, tidak heran jika buku-buku sejarah Islam mengabadikan usaha keras Nabi Muhammad Saw. selama 13 tahun di Kota Mekah hanya untuk menancapkan akidah Islam yang benar pada para sahabat. Karena akidah adalah landasan setiap perbuatan.
Dalam akidah Islam terdapat beberapa hal yang wajib kita imani. Diantaranya iman pada Allah Swt., para malaikat, kitab-kitab suci, seluruh nabi dan rasul, hari kiamat, dan iman pada takdir Allah. Selain itu, kita juga wajib untuk tidak menyekutukan Allah Swt. dalam bentuk apapun. Landasan muslim sejati dalam berakidah harus sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, karena hanya dengan keduanya kita bisa terjaga dari kesesatan.
Islam dalam Beribadah
Setelah seorang muslim berikrar untuk berakidah Islam secara tulus, maka poin kedua yang harus diperhatikan adalah sisi ibadah. Ibadah kepada Allah Swt. adalah tujuan utama diciptakannya manusia. "Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadah kepada-Ku..." (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Ibadah dalam Islam merupakan tangga penghubung antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Ia juga merupakan bentuk puncak kepatuhan kepada Allah Swt., dan wujud pengagungan kita kepada-Nya.
Beribadah pada Allah Swt. hendaknya didasari rasa cinta. Sebagaimana kisah Sayyidah Aisyah r.a., ketika ia melihat Rasul Saw. mendirikan shalat malam hingga mata Rasul memerah dan kakinya pun bengkak. Ia bertanya kepada suaminya, "Untuk apa semua ini? Bukankan engkau adalah seorang yang ma'shûm?" Rasul Saw. menjawab, "Afalam akûnu ‘abdan syakûrâ?"
Dalam kisah tersebut, Rasul Saw. mencontohkan ibadah yang dilandasi keikhlasan dan cinta. Bukan ibadah hanya untuk mendapat pahala atau surga. Karena jenis ibadah ini adalah bentuk ibadah para pedagang yang hanya mementingkan "untung-rugi". Dan bukan juga ibadah yang dilandasi rasa takut akan siksa neraka. Karena ibadah seperti ini—Imam Nawawiy mengatakan—adalah model ibadah para budak.
Selain beribadah dengan ikhlas, kita juga dituntut khusyû', menghadirkan hati, pikiran, jiwa dan raga kepada Allah Swt.. Dengan demikian kita dapat merasakan lezat dan manisnya beribadah, serta mendatangkan semangat untuk terus kontinu dalam melaksanakannya.
Bentuk ibadah dalam Islam tidak terhitung jumlahnya. Bahkan adat kebiasaan yang bukan merupakan maksiat, jika dilakukan hanya karena Allah Swt. semata, maka ia akan bernilai ibadah. Seorang muslim sejati pasti mengambil porsi terbesar dari jumlah tersebut, dan melaksanakannya sesuai dengan tuntunan Rasul Saw..
Islam dalam Berakhlak
Akhlak adalah salah satu faktor yang menentukan derajat keislaman dan keimanan seseorang. Akhlak yang baik adalah cerminan kualitas akidah dan syariat yang diyakini seseorang. Buruknya akhlak merupakan indikasi buruknya pemahaman seseorang terhadap akidah dan syariat. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Thabarani disebutkan, "Dan sesungguhnya, sebaik-baiknya seorang muslim adalah yang paling baik akhlaknya."
Akhlak yang baik adalah buah dari ibadah yang benar. Akhlak juga merupakan amalan terberat dalam timbangan manusia di akhirat kelak. Allah Swt. berfirman, "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar." (QS, Al-'Ankabut: 45). Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak ada yang lebih berat dari timbangan seorang hamba pada hari kiamat melebihi keluhuran akhlaknya." (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi).
Untuk menggapai akhlak mulia, keimanan harus dijadikan sebagai sumber utama dalam segala bentuk kegiatan sehari-hari. Artinya, kita meyakini bahwa Allah Swt. selalu mengawasi gerak-gerik manusia. Semua tercatat rapi dalam buku laporan yang akan kita terima kelak. Perbuatan baik akan dibalas dengan nikmat. Sedangkan perbuatan buruk akan menjadi sebab turunnya siksa dan azab.
Selain itu, hendaknya kita selalu mencontoh akhlak dan prilaku Rasulullah Saw.. Beliau adalah uswah hasanah bagi seluruh umat manusia. Akhlak Rasul dapat kita pelajari dari buku-buku khusus membahas tentang hal ini, seperti kitab Riyâdh Ash Shâlihîn yang di dalamnya terdapat banyak sekali ayat dan hadis yang menerangkan tentang adab dan prilaku islami.
Akhlak yang benar akan terbentuk bila sumbernya benar. Sumber akhlak bagi seorang muslim adalah Al-Quran dan Sunnah. Sehingga ukuran baik atau buruk, patut atau tidak, dapat diukur dengan dua sumber tersebut.
Meyakini Kejayaan Islam
Melihat kondisi umat Islam saat ini, tak heran jika sebagian kita merasa putus asa dan menyerah untuk memperjuangkan proyek besar menegakkan kalimat Allah di muka dunia.
Sikap seperti ini tidak semestinya dimiliki oleh seorang muslim sejati. Keyakinan bahwa Islam akan tetap berjaya harus terus tertancap dalam sanubari. Ini janji Allah Swt. dan sesungguhnya Allah Swt. tak akan pernah mengingkari janji. "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa..." ( QS. An- Nur: 55).
Keyakinan kita akan kejayaan Islam didasari oleh karakter Islam itu sendiri sebagai sebuah manhaj hidup. Islam adalah the way of life yang disebutkan dalam firman Allah Swt., "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali Imran: 85). Tanpa Islam, manusia akan celaka. Kemampuan otak manusia sangat terbatas, sedangkan ajaran Islam langsung diturunkan oleh Pencipta semesta. Dan logika berkata, yang menciptakan pasti lebih tahu apa yang terbaik bagi ciptaannya.
Lebih lanjut, Allah Swt. mencipta manusia dengan bekal fitrah yang sesuai dengan ajaran-Nya. Manusia tidak akan pernah bisa lari dari seruan fitrah. Bila ia menjauh dari seruan tersebut, ia pasti akan meronta-ronta. Dan Islam adalah fitrah bagi manusia. Oleh karena itu, sekalipun ada segolongan manusia yang senantiasa berusaha menghancurkan Islam, agama fitrah ini tidak akan pernah punah. Allah Swt. berfirman, "Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meski orang-orang kafir benci." (QS. Ash-Shaf: 8).
Ikhtitam
Poin-poin tertulis di atas merupakan beberapa makna dari loyalitas seorang muslim sejati, sebagai wujud kesyukuran atas nikmat Islam yang telah dikaruniakan Allah Swt.. Semakin kita bersyukur, semakin bertambah nikmat yang akan kita rasakan. Ini adalah janji Allah. Tapi, janji ini tak akan terwujud hanya dengan teori dan khayalan. Semua itu butuh praktek nyata. Muslim sejati harus bergerak mengamalkan Islam. Bukan praktek yang setengah-setengah. Namun, seluruh jiwa, raga, hati dan pikiran, kita tujukan untuk menerapkan Islam yang merambah semua lini kehidupan. Karena Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. []
Oleh: Abu Nashar Bukhari,Lc.
[Arsip]
