Oleh: Fahmi Howeidi Ada tiga poin penting terkait pengumuman juru bicara Angkatan Bersenjata Mesir dalam konferensi pers kemaren (Sabtu, ...
Oleh: Fahmi Howeidi
Ada tiga poin penting terkait pengumuman juru bicara Angkatan Bersenjata Mesir dalam konferensi pers kemaren (Sabtu, 8/9).
Pertama: Dia tidak menyinggung sedikit atau banyaknya tentang keterlibatan warga Palestina dalam tindak kejahatan yang telah mengorbanka 16 perwira angkatan bersenjata di Rafah. Ini hanyalah tuduhan yang dilontarken segelintir media atas warga Palestina bahwa para terosis muncul dari terowongan Gaza yang dikendalikan oleh HAMAS. Konteks ini menunjukkan dua indikasi. Pada satu sisi ini merupakan skenario yang disusun oleh perangkat keamanan rezim lama sebagai bentuk dendam mereka dan ingin menimbilkan konflik antar rakyat Gaza dengan bangsa Mesir. Hal ini serupa dengan tuduhan yang mereka berikan atas keterlibatan warga Palestina dalam kasusu penyerangan gereja di Alexandria beberapa waktu yang lalu. Namun di sisi lain ini merupakan sebuah pendekatan jujur yang memperlihatkan posisi media dan mereka yang beropini dengan bahasa rezim lama. Hal ini dimaksudkan untuk menimbulkan opini miring bahwa Gaza adalah ancaman bagi Mesir.
Kedua: Keterangan juru bicara Angkatan Bersenjata, Kolonel Ahmad Muhammad Ali terkait pencapaian militer dalam mengamankan stabilitas di Sinai dalam dua gelombang. Pertama adalah operasi militer yang dimulai 7 Agustus lalu dengan melibatkan angkatan laut dan angkatan udara guna meningkatkan pengamanan dari berbagai sisi. Kedua adalah operasi yang dimulai 31 Agustus lalu dan masih berlangsung hingga sekarang dengan memberdayakan kepolisian untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam mengontrol keamanan.
Mengamati perkembangan yang terjadi di Sinai terutama yang berkaitan dengan Israel terlihat bahwa upaya pengerahan kekuatan ke Sinai adalah bentuk tanggap darurat yang berlangsung sepat. Hingga munculnya kesepakatan damai dengan Israel. Namun kondisi tenang itu tak berlangsung lama setalah munculnya suara-suara dari pihak Israel yang meminta Mesir menarik tank-tank mereka. Media Israel menyebutkan bahwa kondisi aman itu berlangsung setelah adanya beberapa komunikasi antar dedua belah pihak. Sepertinya permasalahan akan muncul lagi ke permukaan.
Namun ada hal yang aneh. Belajar dari beberapa pengalaman lepasnya kontrol keamanan di Sinai dalam beberapa kasus. Seperti beberapa aksi penyelundupan obat-obat terlarang, dll. Hal ini tidak menutup kemungkinan bagi Mossad melakukan akses dan skenario dalam beberapa peristiwa. Kesimpulannya memperlihatkan masih lemahnya keamanan Mesir hingga menyebabkan terjadinya beberapa insiden dan kekacauan yang menjadi ancaman besar bagi keamanan negara. Pemerintah harus memberikan perhatian penuh terkait hal ini, apalagi melihat perkembangan beberapa tahun terakhir.
Akan tetapi kebisuan Mesir tetap terasa aneh. Mesir tetap menyepakati perjanjian damai dengan Israel tanpa ada perubahan poin-poin perjanjian. Rasanya perlu penulis mengajukan sebuah pertanyaan; harus berapa jiwakah orang Mesir yang terbunuh hingga poin perjanjian bisa dirubah?
Di sisi lain penarikan pasukan ini menimbulkan pertanyaan lagi, sejauh mana keseriusan dalam mengontrol situasi Sinai? Di beberapa titik masih sulit dijangkau oleh komunikasi terutama di bagian pedalaman. Sementara keberadaan pasukan keamanan hanya bersifat sementara.
Ketiga: Kita masih belum tahu persis seperti apa peran Israel dalam hal ini. Karena juru bicara militer hanya menyebutkan adanya koordinasi penuh dengan Israel dalam operasi militer ini. Akan tetapi ia juga menyebutkan bahwa operasi militer di Sinai dilakukan tanpa ada campur tangan negara lain (sesuai dengan teks yeng duterbitkan oleh Al-Ahram 9/9). Dua perkataan ini masih membingungkan, manakah yang benar? Masih dibutukan klarifikasi agar semua yakin dengan apa yang sesungguhnya terjadi di Sinai.
(Harian Shorouk: 10 September 2012. Hal.18)
Alih Bahasa: Harun AR
