Sejarah Modern (Fase Penjajahan Hingga Kemerdekaan) Ekspedisi Prancis (1798-1801 M/1213-1217 H) Prancis berhasil mendaratkan pasukan...
Sejarah Modern (Fase Penjajahan Hingga Kemerdekaan)
Ekspedisi Prancis (1798-1801 M/1213-1217 H)
Prancis berhasil mendaratkan pasukannya di Iskandariah pada 1798 M. pasukan ini dipimpin oleh Napoleon Bonaparte. Namun keberadaannya tidak langsung lama. Karena pihak Turki Utsmani (bekerjasama dengan Inggris) terus menggempur mereka. Selang beberapa lama kemudian, Bonaparte meninggalkan Mesir dan memberikan mandat ke Kleber.
Namun tidak ada perubahan, bahkan Prancis berhasil dipukul mundur meniggalkan Mesir oleh Turki Utsmani bekerjasama dengan dinasti Mamalik saat itu dan pihak Inggris. Mesir pun pada tahun 1801 kembali di bawah kekuasaan Turki Utsmani.
Setelah itu terjadi perubahan kekuasaan kembali. Yaitu antara Turki Utsmani dan Mamalik. Pada akhirnya, kekuasaan di Mesir berhasil dipegang oleh Muhammad Ali Pasha di bulan Juli 1805.
Muhammad Ali Pasha (1805-1953 M/1220-1372 H)
Dengan kelihaiannya dalam diplomasi, Ali Pasha berhasil membuat Inggris mundur dari Mesir. Inggris keluar dari daerah Iskandaryah pada bulan Agustus 1807. Di masa kepemimpinannya, Mesir mengalami perluasan daerah kekuasaan dengan pesat. Meluas sampai Sudan, Syria dan lain sebagainya.
Tapi sayang, penggagas Mesir modern ini diasingkan oleh Sultan Utsmani atas tekanan Inggris 1840. Sesudah Ali Pasha, Mesir dipimpin oleh Abbas I (1848-1854) dan Said Pasha (1854-1863). Namun di masa mereka, Mesir mengalami kemerosotan. Sampai akhirnya mengalami perubahan ketika dipimpin oleh Khedive Ismail (1863-1879).
Di masa Khedive Ismail, Terusan Suez dimanfaatkan guna memperbaiki kemerosotan Mesir saat itu. Namun karena banyak campur tangan orang Asing, Khedive Ismail digantikan oleh anaknya yang bernama Taufiq. Kala itu Taufiq sangat dekat dengan pemerintah Inggris. Sehingga di masanya terjadi beberapa kejadian penting. Di antaranya revolusi yang dipimpin oleh Ahmad Orabi.
Inggris pun memanfaatkan kegentingan Mesir saat itu. Mereka masuk dan berhasil menduduki Kairo pada 14 Desember 1882. Inggris mulai menyerahkan Mesir kembali kepada Turki pada tahun 1914. Tiada lain karena Mesir membantu Turki dalam perang dunia I melawan sekutu (yang didalamnya ada Inggris)
Revolusi 1919
Revolusi ini terjadi akibat pengasingan Saad Zaghlul oleh pemerintah Inggris. Adapun Saad Zaghlul adalah pahlawan dari kalangan rakyat yang berani menuntut kemerdekaan Mesir dari tangan Inggris. Lebih tepatnya, revolusi tersebut terjadi pada 9 Maret 1919 di Kairo. Masyarakat Mesir menentang pemerintah koloni dan menuntut untuk membebaskan Saad Zaghlul.
Pada 1921 Inggris menyatakan Mesir sebagai negara berdaulat. Namun meski status berubah, tetap saja masih di bawah pengawasan Inggris. Dan akhirnya, pada 28 Februari 1922 Mesir mampu mendapatkan kemerdekaannya. Sarwat Pasha pun dipilih sebagai Perdana Menteri dan Sultan Fu’ad sebagai Raja. Setelah itu, pemerintahan parlementer dibentuk pada 1923 di bawah Yahya Pasha.
Kemerdekaan Mesir tersebut tidak lepas dari kerja keras Saad Zaghlul saat itu. Ia pun mendirikan partai Wafd dengan motto al-Haq fawqa al-Qudwah wa al-Ummah fauqa al-Hukumah. Pada pemilihan umum 1926, Partai ini mampu mendapatkan suara terbanyak. Pahlawan besar ini akhirnya wafat pada 23 Agustus 1927. Sepuluh tahun setelah wafatnya Zaghlul, Mesir sempat masuk organisasi PBB, pada bulan Mei 1937. Dan sekaligus menjadi salah satu negara yang memprakarsai berdirinya PBB.
Revolusi 1952
Ada beberapa sebab terjadinya revolusi ini. di antara sebab eksternal adalah Inggris yang masih mengotak atik pemerintahan Mesir dan rentetan perang di kawasan Palestina (1948). Adapun sebab internal, sistem kerajaan Mesir yang menindas seluruh masyarakat. Sehingga demokrasi tak dikenal ketika itu.
Kondisi tersebut mendorong sebagian perwira yang menamakan diri mereka al-Dhubbath al-Ahrar (perwira pembebasan). Dimana al-Dhubbath al-Ahrar ini dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser. Mereka mulai bergerak pada 23 Juli 1952. Mereka bekerja keras untuk menguasai tempat-tempat vital yang dimiliki pemerintah saat itu. Selain itu, mereka mengumandangkan lewat stasiun radio bahwa akan ada pengambil alihan kekuasaan.
Ketika itu Mesir dipimpin oleh Raja Farouq. Oleh al-Dhubbath al-Ahrar Raja Farouq dipaksa untuk menyerahkan kekuasaannya kepada anaknya, Fouad II. Berhubung Fouda II belum dewasa, kekuasaan dipegang oleh dewan pemerintah yang dibentuk al-Dhubbath al-Ahrar.
Selang waktu berjalan, mereka merasa sistem kerajaan sudah tidak cocok lagi untuk digunakan. Khususnya ketika dikaitkan dengan kehidupan masyarakat Mesir. Maka pada 18 Juni 1953, Mesir berubah menjadi negara republik. Dan saat itu langsung dipimpin oleh Muhammad Naguib sebagai presiden pertama.
Pada 22 Juni 1956 dilaksanakan referendum nasional. Yaitu tepatnya setelah Naguib mengundurkan diri. Gamal Abdel Nasser pun terpilih menjadi presiden meneruskan pemerintahan Mesir. Terpilihnya Nasser bersamaan dengan semakin memburuknya hubungan antara Mesir dan Israel.
Huru-Hara
Israel dibantu oleh Inggris dan Perancis menyerang Mesir pada tahun 1956. Hal tersebut disebabkan oleh nasionalisasi terusan Suez sejak 26 Juli 1956. Namun, dengan kekuatan militernya, Mesir mampu melumpuhkan mereka. Inggris dan Prancis pun meninggalkan kota-kota yang ada di pinggiran Terusan Suez.
Sepertinya Israel tidak mau kalah. Pada 5 juni 1967, mereka menyerang Mesir secara mendadak. Bukan hanya dari darat saja, tetapi penyerangan dilakukan dari udara dan laut. Hal ini pun membuat hampir seluruh negara Arab geram kepada mereka.
Namun kemenangan ada di pihak mereka. Mesir kalah disebabkan perubahan strategi yang dilakukan oleh komandan Angkatan Bersenjata Mesir, Abdul Hakim. Akibatnya, pada 8 Juni, Angkatan udara israel mampu membombardir kapal-kapal Mesir yang berada di tepi timur terusan Suez.
Karena merasa terpukul, Nasser pada 9 Juni pun menyatakan dirinya untuk mengundurkan diri dari kursi kepemimpinan. Tetapi masyarakat Mesir saat itu mendemo dan meminta paksa untuk tetap memimpin. Setelah itu, demi melawan Israel, Mesir meminta bantuan Uni Soviet untuk memperlengkapi persenjataan mereka. Namun naas, di masa genting saat itu, Nasser meninggal dunia. (28 Oktober 1970)
Pemerintahan diambil alih oleh Anwar Sadat (15 Oktober 1970). Di bawah pemerintahannya, Mesir berhasil menghancurkan kekuatan Israel pada 10 Ramadhan, tanggal 6 Oktober 1973. Namun tak disangka, setelah beberapa tahun kemudian, Anwar Sadat mengunjungi Israel pada 17 November 1977. Sikap ini diangap sebagai pengkhianatan terhadap banga Arab.
Kunjungan Sadat ke Israel adalah dalam rangka menyetujui perjanjian damai yang dilaksanakan di Canp David dan ditandatangani oleh Jimmy Carter sebagai presiden Amerika saat itu, Anwar Sadat dari pihak Mesir dan Manachem Begin dari pihak Israel. Perjanjian tersebut dikenal dengan nama Camp David.
Pada peringatan hari kemenangan 6 Oktober, presiden Anwar Sadat ditembak mati dalam sebuah parade militer yang diadakan di daerah Nasr City, tahun 1981. Lalu Husni Mubarak yang saat itu wakil presiden naik menggantikan posisi Anwar Sadat. (Bersambung)
Disusun Oleh: Hilmy Mubarok
