Sejarah Masuknya Islam dan Perkembangannya Islam dengan segala kehebatannya, mampu membawa perubahan yang sangat positif terhadap orang ...
Sejarah Masuknya Islam dan PerkembangannyaIslam dengan segala kehebatannya, mampu membawa perubahan yang sangat positif terhadap orang Arab khususnya dan umat manusia secara umumnya. Perubahan positif tidak hanya terjadi di tanah jazirah Arab saja. Tetapi menyebar hampir ke seluruh dunia.Termasuk di negara yang dijuluki Bumi Para Nabi, Mesir. Peradaban Islam di Mesir diawali dengan keberhasilan ‘Amr bin ‘Ash memasuki daerah Mesir melalui Syiria. Ia dengan pasukannya berhasil masuk pada musim dingin tahun 639 M.
Selama di Mesir, pasukan Islam diterima baik dan damai ole masyarakat Mesir yang kala itu didominasi oleh masyarakat yang beragama Kristen Koptik. Hal tersebut disebabkan karena sikap toleransi Islam dalam perbedaan keyakinan. Dimana mereka diberi kebebasan dalam beragama. Dan ini juga terlihat ketika mereka diberi kebebasan dalam memilih pendetanya, kala itu bernama Benjamin.
Sesuai dengan perintah Umar bin Khattab, maka didirikanlan pusat pemerintahan di Fushtat. Selain menjadi pusat pemerintahan, kota tersebut menjadi ibu kota pertama Mesir dalam pemerintahan Islam. Secara administrasi waktu itu, Mesir ada di bawah pemerintahan Khalifah Madinah (bagian provinsi dari wilayah kekhalifahan Islam).
Semenjak itulah, Islam mulai diterima dan menyebar. Bahasa Arab pun mulai dikenal dan digunakan oleh masyarakat secara keseluruan.
Dinasti Thoulouniyah (869-905 M/254-292 H)
Didirikan oleh Ahmad bin Thouloun pada tahun 868 M setelah Khalifah al-Mu’tazz menunjuknya untuk menjadi gubernur Mesir. Seirng berjlannya waktu, daerah pemerintahannya mulai meluas. Hingga bias membangun kota baru yang bernama al-Qatha’i.
Sepeninggal Ahmad bin Thouloun, pemerintahan dilanjutkan oleh putranya, Khumarawayh. Ia hanya berkuasa selama 12 tahun (884-896 M) disebabkan mati terbunuh. Tampuk dilanjutkan oleh kedua putranya, Jaysh dan Harun (896-905 M). Seiring berpindahnya kekuasaan dari satu orang ke orang lain, hingga akhirnya ada di tangan Shayban. Namun, Mesir kala itu mengalami ketidak-stabilan, baik dari sisi ekonomi atau keamanan.
Setelah serangan yang dilancarkan Abbasiyah, dinasti ini pun berakhir. Mesir mendapatkan pengawasan langsung dari Baghdad. Selama 30 tahun kemudian, Mesir dipimpin oleh Gunernur yang dipilih oleh Khalifah Abbasiyah.
Karena ada beberapa tekanan dari beberapa pihak yang ingin menguasai Mesir, Khalifah Radi pun dengan segera menunjuk Muhammad bin Tughj (935 M). periode ini pun dikenal dengan dinasti Ikhshids.
Dinasti Ikhshids (935-969 M/323-358 H)
Sesuai dengan namanya, kata Ikhshids berasal dari bahasa Iran yang berarti pemimpin dan pengatur. Karena keberhasilannya melawan dan memukul mundur Fathimiyah, Muhammad bin Tughj terpilih menjadi gubernur Mesir. Semasa kepemimpinannya, wilayah Mesir mengalami perluasan. Yaitu meluas hingga bagian utara dan tengah Syria.
Karena memakai system kerajaan, tampuk kepemimpinan pun diserahkan secara otomatis kepada anak-anaknya, Unujur (946-961 M) dan Ali (961-966 M). akan tetapi kenyataan sebenarnya, kepemimpinan dipegang oleh Kafur yang berasal dari Aswan.
Semasa kepemimpinannya tidak ada perubahan yang berarti. Hingga Mesir saat itu dilanda kekeringan dan kelaparan. Salah satunya air sungai Nil yang menyurut. Sehingga, ketika ada invasi untuk kesekian kalinya, pihak kepemerintahan Kafur tidak bias melawan. Ahmad bin Ali yang ketika itu pengganti Kafur dipukul mundur dan berhasil lari ke daerah Syria.
Dinasti Fathimyah (969-1171 M/358-567 H)
Sejak abad 10 Fathimyah telah meluncurkan beberapa serangan ke daerah Mesir. Namun, selalu saja tidak berhasil. Salah satunya dipukul mundur oleh Ikhshid. Namun pada tahun 969 H, Jauhar As-Shiqilli, komandan pasukan khalifah Fatimiyah ke-4, Al-Muizz li Dinillah berhasil memasuki Fusthath.
Setelah itu, ia membangun kota baru yang diberi nama al-Qahirah. Salah satu ciri yang bisa dilihat dari kota ini adalah bangunan Masjid Al-Azhar. Prestasi besar yang dimiliki dinisti ini adalah karena keberadaan Masjid tersebut. Dimana semenjak dibangunnya, Masjid tersebut memiliki beberapa fungsi. Pada awalnya yaitu untuk beribadah, shalat lima waktu dan lain sebagainya. Dan seiring berjalannya waktu, Masjid tersebut digunakan untuk menimba ilmu.
Dinasti ini hanya bertahan dua abad saja. Kekuasaannya berakhir setelah datangnya Shalahuddin Al-Ayyubi. Maka semenjak itu, Mesir dipimpin oleh dinasti Ayubiyah.
Dinasti Ayyubiah (1171-1250 M/564-648 H)
Yang paling mencolok di masa kepemimpinannya yaitu berubahnya ajaran Syi’ah yang ada di Masjid Al-Azhar menjadi Sunni. Shalahuddin Al-Ayyubi juga dikenal sebagai mujahid yang mampu mempertahankan Jarussalem pada 1187 M. Masa kepemerintahannya bisa dilihat berupa sisa-sisa benteng pertahanan yang dimiliki Mesir dahulu.
Dinasti Mamalik (1250-1517 M/648-922 H)
Periode ini dimulai semenjak berkuasanya Bahri Mamalik pada 1250-1382 M/648-783 H. Perpindahan kekuasaan ini disebabkan ketidak stabilan pemerintah Ayyubiah. Baik dari segi politik, keamanan dan beberapa permasalahan lain. Namun Bani Mamalik tidak lama berkuasa. Pada 1382 M Mesir ada di bawah kekuasaan dinasti Burj Mamalik.
Burj dalam bahasa Arab memiliki arti tower. Hal ini sesuai dengan kepemerintahan mereka. Selain membuat relasi luas, seperti dengan Srilangka dan Pantai Afrika Timur, juga dapa dinasiti ini menempatkan banyak budak di benteng kawasan perbukitan. Karena letaknya berada di kawan yang tinggi, maka diberi nama Burj.
Dinasti Utsmani (1517-1805 M/922-1220 H)
Dinasti Utsmani bisa dikatakan dinasti Islam terakhir yang menguasai Mesir. Karena setelah dinasti ini tumbang, Mesir dikuasai oleh pihak-pihak asing dari non Muslim. Meski, pada akhirnya Islam tetap eksis di tanah Bumi Para Nabi ini.
Mesir berhasil dikuasai Turki Utsmani ketika di masa pemerintahan Sultan Salim I. tak lama kemudian, Mesir lepas dari Turki Utsmani pada 1769. Hingga Perancis di bawah Napoleon Bonaparte berhasil masuk ke Mesir untuk bertama kalinya pada bulan Juni 1797. (Bersambung)
Disusun Oleh: Hilmy Mubarok,