Pelajaran besar selanjutnya yang dapat saya ambil dari revolusi Mesir adalah: revolusi ini menjadikan rakyat Mesir bersatu. Cara pali...
Pelajaran besar selanjutnya yang dapat saya ambil dari revolusi Mesir adalah: revolusi ini menjadikan rakyat Mesir bersatu.
Cara paling jitu bagi penjajah melancarkan programnya adalah politik adu domba. Di negara kita dikenal dengan politik belah bambu, atau divide et impera, yang diberlakukan oleh Belanda untuk memecah belah rakyat, kemudian mereka bisa menguasainya dengan sesuka hati dan menguras kekayaannya.
Di dunia pengembalaan kita kenal politik yang digunakan oleh srigala untuk memangsa gerombolan kambing atau biri-biri. Srigala akan mengacaukan barisan kambing dulu, setelah kambing-kambing bertebaran tanpa komando, barulah srigala mulai menerkam mereka satu persatu. Sehingga kita mengenal dalam pepatah Arab “farriq tashud”. Pecah belah dulu, kamu akan bisa panen.
Di dalam al Qur’an Allah menceritakan politik Fir’aun yang memecah belah rakyatnya, sehingga ia bisa berbuat sesuka hatinya. Allah berfirman dalam surat al Qashash ayat 3:
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلا فِي الأرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Hal ini jugalah yang dilakukan oleh Fir’aun modern. Rakyat Mesir dibagi-bagi menjadi kelompok-kelompok. Ia mengadu domba antara sesama Islam dan Kristen. Masing-masing dibuat berbangga dengan kelompoknya dan mengaku yang paling benar. Ini Ikhwanul Muslimin, ini Salafi, ini Jama’ah Tabligh, ini Ansharus Sunnah, ini Azhari, ini Tarekat Sufi, ini Jam’iyyah Syar’iyyah, ini Jama’ah Islamiyyah, ini Muslim, ini Qibthi, ini Liberal, ini sosialis, ini Sekuler…..ini….ini…..dan ini-ini selanjutnya. Dengan cara itulah para Fir’aun bisa melanggengkan singgasananya, dan bisa menari kegirangan di atas perpecahan rakyatnya.
Namun Allah mempunyai rencana sendiri dan cara yang tidak disangka manusia untuk menyatukan shaf, langkah, ide dan program mereka. Dengan meletusnya revolusi, skat-skat antar kelompok mulai dilemparkan ke dasar laut, dan dimasukkan ke tong sampah peradaban. Hari ini tidak kita dengar lagi pertengkaran sengit antar jama’ah, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Tidak ada lagi disebut kelompok ini dan kelompok itu. Yang ada hanya “ISLAM”, dan pendukung syari’ah berhadapan dengan anti Islam dan anti syari’ah.
Hati sudah bersatu. Sebutan syekh Salafi, syekh Ikhwan, syekh Jamiyyah Syar’iyyah dan lainnya tidak didengar lagi. Bahkan masing-masing akan marah bila masih ada yang menyebut embel-embel itu. Dan saya saksikan sendiri hal itu. Yang ada hanyalah masyayikhul ummah atau ulama Islam.
Hanya dengan cara inilah umat yang besar ini bisa bangkit. Jauh dari khilafiyyah furu’iyyah yang merusak hati dan perasaan. Kita semua harus sibuk dengan perkara-perkara besar yang itu adalah keinginan dan tujuan kita semua. Kita harus bersatu sebagaimana bersatunya Muhajirin dan Anshar. Kita harus lupakan segala persengketaan sebagaimana yang terjadi antara Aus dan Khazraj. Kita sama-sama tatap masa depan yang cerah dengan kesatuan hati dan langkah serta cita-cita.
Mari kita tadabburi ayat ini:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.
NB: Kalau kita di Indonesia juga mau bangkit, tidak ada jalan lain, lakukan juga hal ini.
Oleh: Ust.Zulfi Akmal, MA.
