Pelajaran ketiga dari revolusi Mesir yang saya dapatkan adalah tentang demonstrasi. Beberapa bulan yang lalu kita masih memperdebatk...
Pelajaran ketiga dari revolusi Mesir yang saya dapatkan adalah tentang demonstrasi.
Beberapa bulan yang lalu kita masih memperdebatkan tentang hukum boleh atau tidaknya melakukan demonstrasi, bahkan kita sampai bicara kepada wilayah halam-haram. Namun setelah semuanya menjadi jelas dan terang, kita tidak lagi memperdebatkan itu. Hari ini tidak ada lagi yang bertengkar tentang demo boleh atau tidak. Dan hal itu bukanlah suatu aib yang menjadikan kita malu. Karena merupakan hal biasa bila kita bertengkar, berdebat dan beda pendapat terhadap suatu permasalahan yang memang tidak jelas. Hukum dan kedudukannya masih samar bagi kita semua. Yang aib adalah bila susuatu itu sudah jelas kedudukannya bagaikan matahari di siang bolong atau bagaikan purnama di malam hari tanpa awan, kita masih juga memperdebatkannya.
Ini semua memberikan pelajaran yang sangat berharga juga bagi kita. Tapi kali ini kita akan sorot dari sisi lain, yaitu gaya demonstrasi di Mesir hari ini yang dilakukan barisan Islamiyyin.
Demo identik dengan sorak-sorai meneriakkan yel-yel yang diusung dan inspirasi yang akan disampaikan. Itu juga ada di Mesir. Tapi ada nilai tambah yang kita saksikan pada demo yang dilakukan oleh kalangan Islamiyyin ini. Demo bisa berubah menjadi universitas terbuka, yang memberikan pendidikan terhadap jasmani, rohani dan akal.
Kita saksikan demonstrasi yang berkesinambungan untuk memberikan dukungan terhadap Presiden Muhammad Mursi semenjak beberapa hari ini, yang dipimpin oleh DR. Hazim Shalah Abu Ismail di “Madinatul Intaj al I’lam” atau Hollywoodnya Mesir di daerah 6 Oktober lain dari pada yang lain. Yang dulu sebenarnya ketika demo penurunan Mubarak hal ini juga dilakukan oleh para pendemo. Mereka di sana mengadakan pengajian dan pencerahan terhadap permasalahan umat. Sekaligus menjadi majlis ilmu, tempat menyebarkan pengetahuan. Mereka sangat perhatian dengan aturan syari’at. Berdemo dengan santun dan menjaga tata tertib serta kebersihan. Di malam hari mereka melakukan qiyamullail, tilawah, dzikir dan munajat. Di pagi hari mereka olah raga bersama, menyegarkan badan. Sangat kelihatan suasana ukhuwah dan persatuan. Saling memperhatikan kemaslahatan saudaranya yang lain. Makanan yang sedikit dinikmati bersama. Segala embel-embel latar belakang dilepaskan. Atribut yang ada hanyalah sebagai rakyat Mesir dan muslim. Udara dingin yang sangat menusuk di puncak musim dingin ini seolah-olah tidak mereka rasakan. Yang ada hanya kehangatan persaudaraan dan kekompakan.
Nilai plusnya lagi, demo ini dihadiri puluhan ulama besar, sehingga antusias orang ke sana bukan hanya sekedar berdemo. Makanya, sekalipun demo sudah berjalan berhari-hari di bawah tekanan udara yang sangat dingin, tetap dihadiri oleh ribuan orang. Menurut teman Mesir saya yang ikut ke sana, ia sangat menikmati demo di itu. Ia dapat membayangkan bagaimana kira-kira susahnya, sekaligus nikmatnya bersama Rasulullah ketika perang Khandaq yang juga terjadi di musim dingin mencekam.
Di pihak lain, kita melihat sisa-sisa antek-antek Mubarak dan barisan sekuler-liberal yang melakukan demo untuk menentang Presiden Muhammad Mursi di Maidan Tahrir dan di depan Istana Ittihadiyah (Istana Presiden), bertolak belakang 180 derajat dengan demo Islamiyyin. Kegiatan mereka penuh dengan maksiat dan glamor duniawi. Full music, full minuman memabukkan, rokok syisya, narkoba, bahkan ditemukan kondom bekas. Naudzubillah.
Dari kondisi ini, kita sangat optimis pertolongan Allah dan kemenangan segera dikaruniakan kepada umat ini. Selama Islamiyyin melakukan ketaatan kepada Allah dan musuh melakukan maksiat, kita pasti menang.
Kita teringat dengan perkataan Khalifah Umar bin Khattab ketika akan mengirim pasukannya melakukan penaklukan:
“Sesungguhnya kalian tidak akan mendapatkan kemenangan terhadap musuh-musuh kalian dikarenakan banyaknya jumlah kalian dan lengkapnya persenjataan. Kalian hanya akan mendapatkan pertolongan dari Allah dengan ketaatan kalian terhadap Tuhan kalian dan maksiat yang dilakukan oleh musuh-musuh kalian. Apabila kelakuan kalian sama dengan kelakuan musuh-musuh kalian dalam maksiat, mereka pasti akan menang melawan kalian. Karena kalian sama dalam maksiat dengan mereka, sementara mereka unggul dari segi kekuatan, jumlah tentara dan perbekalan serta persenjataan”.
Oleh: Ust. Zulfi Akmal, MA
