Pelajaran keempat dari revolusi Mesir. Revolusi kali ini mengajarkan kepada kita; bila pembela kebenaran bersatu padu menyatukan suara, ...
Pelajaran keempat dari revolusi Mesir.
Begitu jugalah sebenarnya yang terjadi semenjak bermula revolusi. Ketika orang-orang yang tidak rela meraja-lelanya kezaliman bersedia angkat suara, menunjukkan penentangannya, ketika itulah nyali para zalim menjadi ciut. Karena sebenarnya mereka adalah orang-orang pengecut, yang mencari kehidupan dunia yang sementara ini dengan menghalalkan segala cara. Mereka berjuang memang untuk hidup. Sementara para pembela yang hak, bagi mereka selalu ada kemenangan. Bila tidak terwujud di dunia, dengan penentangannya terhadap kebatilan itu, Allah akan memberinya pahala yang besar di akhirat nanti. Tujuan utama mereka menentang kebatilan bukan untuk kehidupan duniawi ini, tapi untuk akhirat sana. Orang mencari hidup dengan perjuangannya, kalau mereka justru siap menemui kematian. Amatlah jauh perbedaan orang yang berjuang untuk hidup dengan orang yang berjuang untuk mati.
Untuk itu kita perlu sadari, kesalahan terbesar umat selama ini adalah membiarkan kezaliman berjalan dengan tenang, tanpa ada perlawanan dari ahlul hak. Boleh jadi karena masing-masing kita ingin menyelamatkan diri. Tidak peduli orang disakit dan dizalimi, yang penting bukan kita yang kena. Prinsip seperti inilah yang membuat orang-orang zalim semakin merasa aman, bisa melancarkan aksinya sesuka hati. Sebagai contoh: ketika terjadi perampokan di atas bus kota, semua orang diam saja karena takut nanti perampoknya justru menyerang dia. Padahal rampok itu sendiri merasa gentar juga, dengan bukti dia pasti melakukan aksinya dengan kasak-kusuk dan terburu-buru. Cuma karena ia melihat semua orang diam, ia menjadi tenang dan senang. Coba kalau semua orang berteriak dan bertindak, sehebat apapun ia, pasti menjadi takut.
Begitu jugalah semua kejahatan yang terjadi di sekitar kita. Mereka bisa berjalan mulus karena semua kita seolah-olah mengaminkan. Fir’aun tidak akan mengaku sebagai Tuhan kalau bukan karena rakyat Mesir yang mau mengakuinya. Orang zalim tidak akan berlanjut berbuat zalim kalau pembela kebenaran diam tanpa aksi.
Yang lebih parahnya bila para ulama, da’i dan orang-orang yang tahu, membiarkan kezaliman itu tanpa penentangan, dan membiarkan sebagian orang yang berani angkat suara disiksa, dipenjarakan dan dibunuhi oleh para zalim. Seolah-olah mereka yang menentang adalah orang yang mempunyai sifat keras-keras tidak menentu. “Tu lihat, Syekh Anu, Syekh itu diam saja. Kenapa kamu saja yang sok menentang, sok benar”. Itulah yang terjadi selama ini. Andaikan yang dikhawatirkan selama ini, jika semua ulama menentang pemimpin yang zalim, nanti mereka semuanya dihabisi, dengan siapa umat ini akan berjalan? Siapa yang menunjuki umat kalau semua ulama dipenjarakan, bahkan dibunuh?
Ternyata perasaan seperti itu hanya bisikan syetan yang tidak terbukti. Justru Allah akan semakin memperbanyak ulama kalau mereka semua berani menentang kebatilan. Di zaman sahabat, tabi’in dan seterusnya, semua ulama berani menegakkan kebenaran sekalipun harus berhadapan dengan pemimpin zalim. Ternyata mereka tidak habis dan musnah, bahkan semakin banyak dan semakin berilmu. Ibnu Taimiyyah masuk keluar penjara, Imam Hambali disiksa dengan ribuan kali cambuk, tapi justru namanya semakin harum, dan ulama tidak habis dipermukaan bumi. Begitu juga dengan ulama-ulama lain yang berani berdiri di depan penguasa zalim untuk menghalangi kejahatannya. Tubuh mereka mungkin hancur dimakan tanah, tapi jiwa, semangat dan ilmunya akan tumbuh subur karena disirami dengan darah dan nyawanya. Imam Hasan al Banna, Sayyid Quthb, Abdul Qadir ‘Audah, Yusuf Hawwash, Muhammad Farghali dan yang lainnya memang sudah lama disimpan di dalam tanah, karena nyawa mereka melayang ditangan para algojo para penguasa durjana, tapi nama dan jiwa perjuangannya semakin hidup di dada para pembela kebenaran.
Selama revolusi Mesir pun hanya satu orang ulama yang jadi korban, yaitu Syekh Imad Iffad. Itupun yang membunuhnya bukan resmi dari pihak penguasa, tapi orang yang tidak dikenal. Selebihnya tetap aman dan tenteram sampai saat ini.
Oleh karena itu, bila kita ingin aman dari kejahatan orang zalim, semua orang harus kompak mengatakan “tidak” kepada kezaliman. Mulai dari kezaliman yang paling kecil, sampai yang paling besar. Kita hilangkan sifat egois dan mencari selamat, yang penting saya aman. Mari kita harus satukan kekuatan dan suara: “No untuk kezaliman”.
Rasulullah bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا رأيت أمتي تهاب أن تقول للظالم يا ظالم، فقد تودع منهم. (رواه الحاكم في المستدرك)
Rasulullah bersabda: “Bila engkau lihat umatku segan/takut mengatakan kepada orang zalim: “Wahai zalim”, berarti kamu sudah kehilangan mereka”.
Artinya: adanya mereka atau tidak adanya sama saja.
Oleh : Ust. Zulfi Akmal, MA
Revolusi kali ini mengajarkan kepada kita; bila pembela kebenaran bersatu padu menyatukan suara, mengatakan “tidak” kepada kemungkaran, maka pembela kebatilan akan ketakutan, sekalipun dihadapi tanpa senjata.Hal ini terbukti berulang kali, di antaranya ketika terjadi penyerangan ke istana Ittihadiyah oleh para penentang, DR. Hazim Shalah Abu Ismail dan DR. Said Abdul Azim dengan pengikutnya mengancam dengan suara bulat: “Bila istana sampai dimasuki, atau presiden mengalami hal yang tidak diinginkan, kami akan kobarkan revolusi Islam murni”. Demo pendukung yang berada di sekitar Mesjid Rab’ah al ‘Adawiyah dan Mesjid ar Rahman ar Rahim pun tidak kalah lantangnya menyuarakan itu. Hal ini membuat nyali penentang yang mayoritas pasukan gereja dan bekas antek-antek Mubarak menjadi ciut, dan mundur satu persatu.
Begitu jugalah sebenarnya yang terjadi semenjak bermula revolusi. Ketika orang-orang yang tidak rela meraja-lelanya kezaliman bersedia angkat suara, menunjukkan penentangannya, ketika itulah nyali para zalim menjadi ciut. Karena sebenarnya mereka adalah orang-orang pengecut, yang mencari kehidupan dunia yang sementara ini dengan menghalalkan segala cara. Mereka berjuang memang untuk hidup. Sementara para pembela yang hak, bagi mereka selalu ada kemenangan. Bila tidak terwujud di dunia, dengan penentangannya terhadap kebatilan itu, Allah akan memberinya pahala yang besar di akhirat nanti. Tujuan utama mereka menentang kebatilan bukan untuk kehidupan duniawi ini, tapi untuk akhirat sana. Orang mencari hidup dengan perjuangannya, kalau mereka justru siap menemui kematian. Amatlah jauh perbedaan orang yang berjuang untuk hidup dengan orang yang berjuang untuk mati.
Untuk itu kita perlu sadari, kesalahan terbesar umat selama ini adalah membiarkan kezaliman berjalan dengan tenang, tanpa ada perlawanan dari ahlul hak. Boleh jadi karena masing-masing kita ingin menyelamatkan diri. Tidak peduli orang disakit dan dizalimi, yang penting bukan kita yang kena. Prinsip seperti inilah yang membuat orang-orang zalim semakin merasa aman, bisa melancarkan aksinya sesuka hati. Sebagai contoh: ketika terjadi perampokan di atas bus kota, semua orang diam saja karena takut nanti perampoknya justru menyerang dia. Padahal rampok itu sendiri merasa gentar juga, dengan bukti dia pasti melakukan aksinya dengan kasak-kusuk dan terburu-buru. Cuma karena ia melihat semua orang diam, ia menjadi tenang dan senang. Coba kalau semua orang berteriak dan bertindak, sehebat apapun ia, pasti menjadi takut.
Begitu jugalah semua kejahatan yang terjadi di sekitar kita. Mereka bisa berjalan mulus karena semua kita seolah-olah mengaminkan. Fir’aun tidak akan mengaku sebagai Tuhan kalau bukan karena rakyat Mesir yang mau mengakuinya. Orang zalim tidak akan berlanjut berbuat zalim kalau pembela kebenaran diam tanpa aksi.
Yang lebih parahnya bila para ulama, da’i dan orang-orang yang tahu, membiarkan kezaliman itu tanpa penentangan, dan membiarkan sebagian orang yang berani angkat suara disiksa, dipenjarakan dan dibunuhi oleh para zalim. Seolah-olah mereka yang menentang adalah orang yang mempunyai sifat keras-keras tidak menentu. “Tu lihat, Syekh Anu, Syekh itu diam saja. Kenapa kamu saja yang sok menentang, sok benar”. Itulah yang terjadi selama ini. Andaikan yang dikhawatirkan selama ini, jika semua ulama menentang pemimpin yang zalim, nanti mereka semuanya dihabisi, dengan siapa umat ini akan berjalan? Siapa yang menunjuki umat kalau semua ulama dipenjarakan, bahkan dibunuh?
Ternyata perasaan seperti itu hanya bisikan syetan yang tidak terbukti. Justru Allah akan semakin memperbanyak ulama kalau mereka semua berani menentang kebatilan. Di zaman sahabat, tabi’in dan seterusnya, semua ulama berani menegakkan kebenaran sekalipun harus berhadapan dengan pemimpin zalim. Ternyata mereka tidak habis dan musnah, bahkan semakin banyak dan semakin berilmu. Ibnu Taimiyyah masuk keluar penjara, Imam Hambali disiksa dengan ribuan kali cambuk, tapi justru namanya semakin harum, dan ulama tidak habis dipermukaan bumi. Begitu juga dengan ulama-ulama lain yang berani berdiri di depan penguasa zalim untuk menghalangi kejahatannya. Tubuh mereka mungkin hancur dimakan tanah, tapi jiwa, semangat dan ilmunya akan tumbuh subur karena disirami dengan darah dan nyawanya. Imam Hasan al Banna, Sayyid Quthb, Abdul Qadir ‘Audah, Yusuf Hawwash, Muhammad Farghali dan yang lainnya memang sudah lama disimpan di dalam tanah, karena nyawa mereka melayang ditangan para algojo para penguasa durjana, tapi nama dan jiwa perjuangannya semakin hidup di dada para pembela kebenaran.
Selama revolusi Mesir pun hanya satu orang ulama yang jadi korban, yaitu Syekh Imad Iffad. Itupun yang membunuhnya bukan resmi dari pihak penguasa, tapi orang yang tidak dikenal. Selebihnya tetap aman dan tenteram sampai saat ini.
Oleh karena itu, bila kita ingin aman dari kejahatan orang zalim, semua orang harus kompak mengatakan “tidak” kepada kezaliman. Mulai dari kezaliman yang paling kecil, sampai yang paling besar. Kita hilangkan sifat egois dan mencari selamat, yang penting saya aman. Mari kita harus satukan kekuatan dan suara: “No untuk kezaliman”.
Rasulullah bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا رأيت أمتي تهاب أن تقول للظالم يا ظالم، فقد تودع منهم. (رواه الحاكم في المستدرك)
Rasulullah bersabda: “Bila engkau lihat umatku segan/takut mengatakan kepada orang zalim: “Wahai zalim”, berarti kamu sudah kehilangan mereka”.
Artinya: adanya mereka atau tidak adanya sama saja.
Oleh : Ust. Zulfi Akmal, MA
