Pelajaran kelima dari revolusi Mesir: Revolusi ini dijadikan Allah sebagai sarana untuk men-“ tamhish rijal ” (menyeleksi kepribadian ...
Pelajaran kelima dari revolusi Mesir:
Pengakuan itu boleh-boleh saja, karena tidak akan mungkin seseorang berbuat kalau ia tidak merasa benar. Bahkan penjahat yang paling durjana pun merasa ia dalam kebenaran. Pelacur yang menjajakan kehormatan dirinya pun merasa berbuat benar, yaitu lagi mencari rezki untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Allah berfirman dalam surat al ‘Ankabut ayat 2:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”
Dengan adanya revolusi ini, masing-masing orang kelihatan aslinya. Apakah ia betul-betul ikhlas karena Allah dalam perjuangannya, atau hanya mengejar ambisi pribadi dengan meneriakkan kebenaran. Ternyata banyak yang berguguran dengan meninggalkan bekas yang sangat jelas. Ketahuanlah bahwa si Fulan ini teriak lantang selama ini hanya ingin mencari ketenaran, ingin dianggap pahlawan, ingin mencari kedudukan, ingin memperbanyak kekayaan dll. Dan yang betul-betul ikhlas pun akan muncul ke permukaan.
Sebaliknya pun terjadi. Ada yang selama ini salah ijtihad dalam memilih pemahaman, tapi karena niatnya betul-betul ikhlas karena Allah, akhirnya setelah jelas mana yang hak dan batil, tanpa ragu dan malu mereka pun kembali kepada jalan yang benar. Dengan kesatria menyatakan bahwa pilihan saya selama ini memang salah. Inilah dia “rijal/tokoh/orang besar sebenarnya. Yang berjalan di atas kebenaran, bukan di atas ego, hawa nafsu dan ambisi pribadi.
كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ
“…..Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi….”
Satu contoh saja; Hazim Shalah Abu Ismail gagal mencalonkan diri jadi presiden. Tapi ketika melihat keadaan negara terancam, ia pun tampil mengomandokan rakyat untuk memberikan pembelaan. Padahal ia tidak diberi jabatan dan fasilitas apa-apa selama pemerintahan Dr. Muhammad Mursi. Saat itu, kelihatanlah siapa ia sebenarnya. Orang yang betul-betul ikhlas menegakkan kebenaran. Tidak penting jabatan, pangkat dan titel. Di mana dibutuhkan ia akan tampil secara spontan tanpa digaji dan diberi penghargaan bintang tanda jasa. Bahkan siap menanggung ancaman, fitnahan, hinaan dan cacian, bahkan pembunuhan.
Beda halnya dengan sebagian orang yang dianggap tokoh selama ini. Ketika kebenaran berbenturan dengan kepentingan dirinya, watak asli dan rahasia yang tersimpan di dalam hatinya pun muncul kepermukaan. Di sanalah baru ketahuan, ternyata Doktor ini hanya meperjuangkan kedudukannya, Doktor itu ingin ketenaran, Doktor Anu ingin jadi presiden, dan kedok-kedok lainnya terbuka jelas.
Terakhir, suatu hari Abu Jahal ditanya oleh rekan-rekannya sesama kafir Quraisy Makkah; apakah Muhammad itu betul-betul seorang pendusta sebagaimana yang kamu tuduhkan? Abu Jahal menjawab dengan tegas dan agak emosi: “Celaka kalian, tidak pernah Muhammad itu berdusta sedikit pun”. Dengan heran rekan-rekannya bertanya: “Jadi gimana tuduhan-tuduhanmu selama ini terhadap dia?”.
Di sinilah Abu Jahal tidak bisa lagi menutupi isi hatinya, ia berkata: “ Semenjak dulu kita bersaing untuk berebut pengaruh dengan Bani Hasyim (keluarga Rasulullah). Mereka memberi makan orang, kita juga memberi makan, mereka menebarkan kebaikan, kita juga menebar kebaikan, mereka berbuat ini dan itu, kita juga lakukan hal yang sama. Tapi pada hari ini, mereka berkata: “Kami diberi Allah wahyu dari langit”, bagaimana cara kita menyaingi mereka dalam hal ini?
Setelah diutusnya Nabi Muhammad jadi Rasul barulah ketahuan apa niat Abu Jahal selama ini menebarkan kebaikan di Makkah. Ingin berebut pengaruh, bukan karena Allah atau bukan betul-betul untuk kebaikan rupanya. Dan ternyata Abu Jahal ingin sekali menjadi Rasul seperti Nabi Muhammad. Ambisi yang mustahil akan terwujud.
Dan orang-orang seperti Abu Jahal ini amatlah banyak bertebaran di masyarakat sampai hari kiamat. Kelas dan tingkatnya saja yang berbeda-beda. Semoga kita selamat dari penyakit berbahaya itu. Serta kita selamat dari ujian yang akan membuka aib-aib diri kita.
Oleh: Ust. Zulfi Akmal, MA.
Revolusi ini dijadikan Allah sebagai sarana untuk men-“tamhish rijal” (menyeleksi kepribadian para aktifis).Dalam situasi damai bisa saja setiap orang mengaku bahwa dialah orang yang paling menegakkan agama Allah, dialah orang yang paling ikhlas beramal. Dialah yang paling benar memilih metode dalam berbuat.
Pengakuan itu boleh-boleh saja, karena tidak akan mungkin seseorang berbuat kalau ia tidak merasa benar. Bahkan penjahat yang paling durjana pun merasa ia dalam kebenaran. Pelacur yang menjajakan kehormatan dirinya pun merasa berbuat benar, yaitu lagi mencari rezki untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Allah berfirman dalam surat al ‘Ankabut ayat 2:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”
Dengan adanya revolusi ini, masing-masing orang kelihatan aslinya. Apakah ia betul-betul ikhlas karena Allah dalam perjuangannya, atau hanya mengejar ambisi pribadi dengan meneriakkan kebenaran. Ternyata banyak yang berguguran dengan meninggalkan bekas yang sangat jelas. Ketahuanlah bahwa si Fulan ini teriak lantang selama ini hanya ingin mencari ketenaran, ingin dianggap pahlawan, ingin mencari kedudukan, ingin memperbanyak kekayaan dll. Dan yang betul-betul ikhlas pun akan muncul ke permukaan.
Sebaliknya pun terjadi. Ada yang selama ini salah ijtihad dalam memilih pemahaman, tapi karena niatnya betul-betul ikhlas karena Allah, akhirnya setelah jelas mana yang hak dan batil, tanpa ragu dan malu mereka pun kembali kepada jalan yang benar. Dengan kesatria menyatakan bahwa pilihan saya selama ini memang salah. Inilah dia “rijal/tokoh/orang besar sebenarnya. Yang berjalan di atas kebenaran, bukan di atas ego, hawa nafsu dan ambisi pribadi.
كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ
“…..Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi….”
Satu contoh saja; Hazim Shalah Abu Ismail gagal mencalonkan diri jadi presiden. Tapi ketika melihat keadaan negara terancam, ia pun tampil mengomandokan rakyat untuk memberikan pembelaan. Padahal ia tidak diberi jabatan dan fasilitas apa-apa selama pemerintahan Dr. Muhammad Mursi. Saat itu, kelihatanlah siapa ia sebenarnya. Orang yang betul-betul ikhlas menegakkan kebenaran. Tidak penting jabatan, pangkat dan titel. Di mana dibutuhkan ia akan tampil secara spontan tanpa digaji dan diberi penghargaan bintang tanda jasa. Bahkan siap menanggung ancaman, fitnahan, hinaan dan cacian, bahkan pembunuhan.
Beda halnya dengan sebagian orang yang dianggap tokoh selama ini. Ketika kebenaran berbenturan dengan kepentingan dirinya, watak asli dan rahasia yang tersimpan di dalam hatinya pun muncul kepermukaan. Di sanalah baru ketahuan, ternyata Doktor ini hanya meperjuangkan kedudukannya, Doktor itu ingin ketenaran, Doktor Anu ingin jadi presiden, dan kedok-kedok lainnya terbuka jelas.
Terakhir, suatu hari Abu Jahal ditanya oleh rekan-rekannya sesama kafir Quraisy Makkah; apakah Muhammad itu betul-betul seorang pendusta sebagaimana yang kamu tuduhkan? Abu Jahal menjawab dengan tegas dan agak emosi: “Celaka kalian, tidak pernah Muhammad itu berdusta sedikit pun”. Dengan heran rekan-rekannya bertanya: “Jadi gimana tuduhan-tuduhanmu selama ini terhadap dia?”.
Di sinilah Abu Jahal tidak bisa lagi menutupi isi hatinya, ia berkata: “ Semenjak dulu kita bersaing untuk berebut pengaruh dengan Bani Hasyim (keluarga Rasulullah). Mereka memberi makan orang, kita juga memberi makan, mereka menebarkan kebaikan, kita juga menebar kebaikan, mereka berbuat ini dan itu, kita juga lakukan hal yang sama. Tapi pada hari ini, mereka berkata: “Kami diberi Allah wahyu dari langit”, bagaimana cara kita menyaingi mereka dalam hal ini?
Setelah diutusnya Nabi Muhammad jadi Rasul barulah ketahuan apa niat Abu Jahal selama ini menebarkan kebaikan di Makkah. Ingin berebut pengaruh, bukan karena Allah atau bukan betul-betul untuk kebaikan rupanya. Dan ternyata Abu Jahal ingin sekali menjadi Rasul seperti Nabi Muhammad. Ambisi yang mustahil akan terwujud.
Dan orang-orang seperti Abu Jahal ini amatlah banyak bertebaran di masyarakat sampai hari kiamat. Kelas dan tingkatnya saja yang berbeda-beda. Semoga kita selamat dari penyakit berbahaya itu. Serta kita selamat dari ujian yang akan membuka aib-aib diri kita.
Oleh: Ust. Zulfi Akmal, MA.
