Kairo- Kericuhan kembali terjadi kemarin sore (8/2) antara demonstran dan keamanan di depan Istana Al Ittihadiyah setelah sempat tenang ...
Kairo- Kericuhan kembali terjadi kemarin sore (8/2) antara demonstran dan keamanan di depan Istana Al Ittihadiyah setelah sempat tenang selama beberapa waktu. Para demonstran berusaha memanjat gerbang dan melempatkan petasan dan molotov ke pelataran istana. Sementara pihak keamanan berupaya membentengi istana dengan kendaraan berlapis baja dan menghalau para perusuh dengan gas air mata.
2 perwira dan 3 prajurit pangawal kepresidenan dilaporkan lula-luka akibat lemparan batu dari demonstran. PM Hisam Kandil mencela dengan keras aksi anarkis ini dan menuntut provokator demonstrasi bertanggung jawab atas aksi kejahatan tersebut.
Aksi anarkis juga terjadi di beberapa provinsi yang mengakibatkan jatuhnya korban luka yang telah mencapai angka 126 orang. Di provinsi Sharqeya misalnya, para demonstran meyerbu dan melempari pasukan keamanan yang berjaga-jaga di depan rumah Presiden Morsi serta menyerbu kantor FJP.
Sementara itu Washington melalui jubir kemenlu AS, Victoria Nuland meminta pemerintah Mesir melakukan penyelidikan atas tindak kekerasan ini.
Tuntutan Oposisi
Aksi kekerasan ini bukan pertama kali setelah Dr. Mohammed Morsi menjabat sebagai presiden Mesir. Beberapa kali huru-hara terjadi dan pihak oposisi terus berupaya menggoyang Morsi. Aksi protes dan anarkis semakin memanas setelah Morsi memberikan kewenangan kepada Departemen Dalam Negeri untuk menindak tegas aksi-aksi huru-hara di jalanan pasca 2 tahun revolusi.
Ada dua arus demonstrasi yang terjadi di lapangan. Arus pertama adalah para demonstran yang menyuarakan tuntutan agar segera dilakukan proses mengadilan terhadap oknum-oknum rezim Mubarak,pemecatan jaksa agung, membentuk pemerintahan penyelamat nasional, melaksanakan qisash atas darah para syuhada, membekukan undang-undang dan membentuk tim amandemen.
Sementara di tempat lain khususnya Tahrir Square mereka menuntut segera dibentuk pemerintahan teknokrat, mempercepat pelaksanaan pemilu presiden baru, membentuk tim investigasi atas kasus oknum-oknum pelaku kriminal dan pelanggaran atas hak asasi manusia dan menetapkan hukuman bagi pelaku pembunuhan demonstran. Sementara di beberapa daerah para demonstran menuntut realisasi cita-cita revolusi. (Al-Ahram)
Redaksi: Har
