Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam (KTT-OKI) di Kairo hari ini dibuka oleh Presiden Mesir Mohammed Morsi. Konferensi k...
Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam (KTT-OKI) di Kairo hari ini dibuka oleh Presiden Mesir Mohammed Morsi. Konferensi ke- 12 ini berlangsung selama 2 hari, 6-7 Februari 2013 dan dihadiri oleh 56 negara Islam termasuk Iran. Ini adalah pertama kalinya Presiden Iran datang ke Mesir sejak meletusnya revolusi Iran.

Berikut adalah beberapa isi pidato Morsi pada saat pembukaan KTT OKI ke-12 di Kairo:
-Harapan dunia Islam kini tertumpang kepada OKI yang dituntut mampu menghadapi tantangan global dengan memaksimalkan seluruh potensi dan sumber daya yang dimiliki.
Aspek politik. Morsi menyatakan bahwa dunia islam kini tengah berada di lahan subur perseteruan dan konflik yang semakin rumit. Antara Palestina yang terluka dan Suriah yang bersimbah darah. Sementara berbagai permasalahan juga terjadi di penjuru dunia Islam lainnya. Hal ini menandakan tidak tegaknya keadilan dalam pemerintahan. Seiring dengan itu, berkembangnya isu-isu ganda menyebabkan teralihnya perhatian terhadap dunia Islam.
Aspek kesejahteraan. OKI telah mengupayakan bererapa usaha kerjasama berbagai bidang, seperti: ekonomi dan perdagangan, iptek, budaya dan media serta beberapa bidang lain seperti pertanian, kesehatan, pariwisata, tenaga kerja, transportasi, lingkungan hidup dan bidang-bidang lainnya. Upaya ini telah mengalami kemajuan yang signifikan di beberapa bidang. Untuk kedepannya Morsi berjanji selama Mesir memimpin KTT akan berupaya meningkatkan pencapaian dan koordiniasi organisasi.
Beberapa fenomena besar yang menjadi tanggungjawab bersama umat Islam hari ini adalah:
-Dilema yang timbul akibat kekurangan dalam aspek pendidikan dan wawasan agama. Maka perlu adanya upaya memaksimalkan pemberian pengetahuan agama yang tepat.
-Citra negatif terhadap Islam dan umat Islam. Hal ini tak lepas dari peran pihak-pihak luar yang ingin merusak citra Islam. Kita memiliki tanggungjawab dalam mencegah penyalahgunaan agama ini.
-Berkembangnya faham islamofobia di tengah-tengah masyarakat, khususnya masyarakat muslim minoritas. Untuk itu perlu peran dan kerjasama internasional untuk merancang undang-undang anti diskriminasi, kebencian dan kekerasan dengan latar agama.
-Perlunya peningkatan dialog dan komunikasi aktif antar negara di dunia Islam dan internasional untuk mencapai komunikasi efektif dan saling menghormati.
-Pentingnya mengatasi perselisihan doktrinal antar kelompok dan aliran.
-Perlunya pembentukan organisasi tanggap darurat guna mengatasi kondisi sulit yang menimpa seperti krisis, bencana alam dan sebagainya.
Morsi juga mengingatkan bahwa umat Islam tengah dihadapkan pada isu sentral yang menjadi tanggung jawab bersama, yaitu permasalahan Palestina. Isu ini adalah permasalahan terbesar dunia Islam pasca terbakarnya mesjid Al Aqsha tahun 1969.
Mesir dengan revolusinya yang berlandaskan tegaknya kebebasan, demokrasi, syura dan keadilan sosial, dengan sejarah yang dimilikinya komitmen memberikan dukungan terhadap perjuangan bangsa Palestina mengembalikan hak-hak mereka yang sah dan berdirinya negara Palestina berdaulat dengan ibukota Al Quds. Beranjak dari titik ini Mesir mendukung penuh perjuangan rakyat Gaza melawan segala bentuk agresi.
Morsi menegaskan bahwa perdamaian tak akan pernah terwujud selama bangsa Palestina belum memperoleh hak mereka.
Adapun terkait tragedi kemanusiaan yang menimpa Suriah, Mesir dengan segala kemampuannya berupaya menghentikan krisis ini sesegera mungkin, menyelamatkan darah rakyat dan mewujudkan persatuan bangsa Suriah. Morsi memperingatkan rezim Suriah agar membaca sejarah. Bahwa sebuah bangsa akan tetap ada, sementara pemimpin yang mengutamakan kepentingan pribadi pasti akan lenyap.
Sementara terkait kondisi terbaru di Afrika khususnya Mali, Morsi menyatakan dukungan Mesir terhadap integritas teritorial di Mali dan terjaminnya keselamatan masyarakat dan warisan budaya.
Demikian juga dengan tragedi kemanusiaan yang menimpa Rohingya. Morsi menyerukan pemerintah Myanmar agar bertanggung jawab mengatasi kondisi buruk ini. Dunia Internasional juga harus berperan menyelamatkan hak-hak Muslim minoritas di Myanmar.
Selanjutnya terkait dengan upaya penyelesaian konstelasi politik di negara-negara Islam, batasan intervensi pihak luar dan ketidakseimbangan mekanisme peradilan internasional, Morsi menyerukan agar dibentuknya sebuah mekanisme yang efektif dalam menyelesaikan berbagai sengketa dengan cara damai, memahami persoalan yang terjadi, menjaga hak-hak rakyat dan independensi dengan membatasi campur tangan asing dalam persoalan internal. Selain itu juga berkontribusi mendukung terwujudnya perdamaian global.
Morsi menyerukan agar negara-negara anggota OKI bergandengan tangan mewujudkan cita-cita ke depan, mengajak seua unsur memberikan kontribusi dalam berbagai aspek. Termasuk memberikan perhatian terhadap hak-hak kaum perempuan. Mesir telah melaksanakan bidang ini. Untuk saat ini Mesir menjadi tuan rumah markas Organisasi Pemberdayaan Perempuan.
Selain itu Morsi juga menyerukan pentingnya pemberdayaan generasi muda dengan melakukan pertukaran pemuda antar negara dalam berbagai misi, seperti pendidikan, budaya dll.
Redaksi :Har