Catatan Ringan untuk Muslimah yang Ingin Berkomitmen* “Annidzam itgayyarat wa ehna lazim nitgayyar “ , potongan kalimat berbahasa ‘Am...
Catatan Ringan untuk Muslimah yang Ingin Berkomitmen*
“Annidzam itgayyarat wa ehna lazim nitgayyar “, potongan kalimat berbahasa ‘Ammiyah Mesir ini akan mudah Anda dapatkan ketika menyaksikan mobil-mobil pribadi milik orang Mesir. Rezim telah berubah, kita juga mesti berubah. Perubahan menuju arah yang lebih baik adalah keniscayaan dalam kehidupan muslim maupun muslimah, sebagaimana hadits Rasulullah saw, ”Sesiapa yang hari kemarinnya lebih baik dari hari ini, maka ia telah merugi”. Maka agar tak rugi, perlu perubahan. Jika ingin berubah, satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu menjaga komitmen.
Berbicara tentang ‘azam, ada sebuah kisah menarik tentang ini dalam buku Daulah an-Nisa’. Satu ketika, seorang muslimah dari kalangan Quraisy menggunting rambutnya, sebab ketika ia hendak menutup pintu rumahnya tanpa mengenakan jilbab, tidak disengaja ada seorang lelaki yang melihat kepalanya dari luar. Ia pun memutuskan menggunting rambut yang telah dilihat oleh lelaki tadi dan berkata, “aku tidak akan membiarkan kepalaku ditumbuhi rambut yang telah dilihat oleh lelaki selain mahramku”.
Kisah ini sangat unik, ada pelajaran besar yang bisa diambil. Rambut, sering disebut sebagai mahkota perempuan, banyak orang memeliharanya sebagai penambah kecantikan dan kepercayaan diri, namun perempuan ini -dengan kemauan kuat dan prinsip yang teguh-, ia buang dan hilangkan hiasan kebanggan kaum hawa itu.
Ada lagi kisah lain, peristiwa yang terjadi pada perang Uhud, saat terdengar desas-desus bahwa Rasulullah saw sudah meninggal. Sebagian sahabat jadi kehilangan semangat untuk melanjutkan peperangan. Hingga Anas bin Nashir berteriak dan berkata, “Apa yang kalian dengar?”. Mereka menjawab, “Rasulullah saw telah meninggal”. Lalu Anas berkata, “Kalau begitu, untuk apa kalian hidup jika beliau sudah meninggal?”. Dengan gagah berani Anas maju menerobos barisan musuh, melihat keberaniannya ini, para sahabat yang lainpun segera mengikuti Anas. Hingga akhirnya Anas syahid dalam peperangan ini.
Kedua kisah ini menggambarkan komitmen yang begitu kuat terhadap sebuah tujuan. Lihatlah betapa besar komitmen wanita Quraisy di atas untuk menutup auratnya, dengan menggunting rambut penghias dirinya, padahal ia wanita yang paling terkenal keelokan rambutnya di kalangan wanita Quraisy. Karena baginya, apalah makna keelokan dan kecantikan jika membawa murka Allah. Mungkin dengan memotongnya ia terus mendapatkan peringatan untuk semakin berhati-hati dalam menjaga aurat. Dalam kisah yang kedua, juga tampak betapa komitmen jihad begitu membara di dalam diri Anas bin Nashir, jihad harus tetap dilakukan meskipun ia mendengar kabar bahwa Rasulullah sudah meninggal.
Komitmen ada jika ada tujuan dan cita-cita. Tanpa cita-cita, tidak ada komitmen, karena semua akan dibiarkan mengalir seperti air dan mengikut arus. Anas berkomitmen melanjutkan peperangan karena ia punya tujuan, menang atau syahid di jalan Allah. Wanita Quraisy mencukur rambutnya karena ia punya tujuan, menutup aurat dengan sebaik-baiknya. Dan peristiwa pengguntingan itu akan selalu mengingatkannya.
Maka dari itu, seorang mahasiswi yang punya tujuan mumtaz, pun harus berkomitmen untuk belajar ala mahasiwi mumtaz. Seorang Ibu yang bercita-cita mendidik anaknya menjadi sebaik-baik generasi, harus berkomitmen untuk banyak membaca pola pendidikan anak. Seorang wanita yang ingin menjadi sebaik-baik istri hendaknya berkomitmen untuk banyak belajar dan membaca sirah sahabiyat dan tips-tips terkini.
Untuk tetap menjaga komitmen inilah kita perlu hidup dan selalu berada dalam lingkungan orang-orang yang salih dan memilki kemauan yang kuat.
Untuk menjaga komitmen ini, disarankan untuk memilih sebaik-baik teman duduk. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw , “siapakah sebaik-baik teman duduk kami?” Rasul pun menjawab “ Orang yang ketika melihat wajahnya mengingatkan kalian pada Allah, perkataannya menambah ilmu kalian, dan amalnya mengingatkan kalian pada akhirat”.
Dalam hadits di atas, setidaknya ada tiga poin penting agar kita mampu menjadi muslimah terbaik yang menjadi dambaan dan kerinduan bagi semua orang. Pertama, muslimah yang ketika melihatnya mengingatkan kita pada Allah dan akhirat. Mengapa teman duduk terbaik adalah yang mengingatkan pada Allah? Karena pada hakikatnya, apapun peran yang dilakoni seseorang, maka tujuannya adalah ridho Allah. Makan,minum, bekerja, belajar, mengurus anak dan yang lainnya adalah jalan untuk mencapai tujuan itu, sebagaimana termaktub dalam surat al-An`am ayat 162-163).
Imam Ibnu Taimiyah pernah berkata, “Nilai seseorang dilihat dari keinginannya”. Jika ingin melihat nilai kita di hadapan Allah, maka lihatlah sejauh mana keinginan dan tujuan hidup kita. Apakah tujuan yang diinginkan adalah kekayaan dunia dan kepopuleran? Ataukah ridho Allah dan surganya. Maka seperti apa keinginan kita, seperti itulah nilai kita di hadapan Allah. Mungkin inilah sebabnya mengapa keikhlasan dalam sebuah amalan itu tak tertandingi nilainya. Karena tujuannya cuma satu, yaitu Allah ! dan hanya Allah lah yang tau nilai dari amalan itu.
Kedua, muslimah yang kata-katanya menambah ilmu yang mendengarkan. Ada Sebuah ungkapan yang sangat masyhur, “orang yang tidak punya sesuatu, tidak bisa memberi.” Orang yang tidak punya ilmu, bagaimana mungkin bisa berbagi.
Mewujudkan pernyataan Rasulullah saw di atas tentu tiada lain jalannya adalah dengan memperbanyak membaca. Entah mengapa setiap kali membaca wanita-wanita hebat dalam sejarah, penulis merasa, masa ini sangat jauh dan seolah-olah tidak pernah ada dalam sejarah. Padahal dalam sejarah sangat banyak disebutkan muslimah yang mengukir prestasi keilmuan. Salah satu contohnya, dalam kitab Thabaqat Syafi`iyah disebutkan bahwa Ibnu `Asakir -salah seorang perawi hadis- memiliki delapan puluhan lebih guru dari kalangan perempuan. Bahkan Imam as-Sakhowi pengarang kitab Adh-Dhau` Al-Lami`, mengkhususkan satu bab di akhir untuk para muslimah yang terkenal keilmuannya di zaman itu, jumlah muslimah yang ia sebutkan itu mencapai hingga seribu tujuh puluh lima orang.
Sebagai muslimah, sudah sepantasnya kita mengikuti jejak para terdahulu yang tidak hanya sukses membangun kematangan pribadinya, tapi juga kematangan pribadi orang di sekitarnya dengan ilmu. Bukankah Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim mengatakan ,” Janganlah iri hati, kecuali terhadap dua orang. Seseorang yang mendapatkan harta dari Allah lalu menghabiskannya untuk membela kebenaran dan orang yang Allah limpahi ilmu, lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya.”
Mesir yang penuh dengan khazanah keilmuan dan kaya akan ulamanya, merupakan tempat yang sangat mendukung mengembangkan potensi keilmuan para muslimah. Buku ada dimana-mana, talaqqi, dauroh dan pengajian juga bertebaran.
Terkadang ada kesan, bahwa membaca hanya kebutuhan mahasiswi dan orang-orang yang duduk dalam lembaga pendidikan formal. Padahal, apapun status yang dilakoni seorang muslimah, ia harus membaca. Karena membaca adalah kebutuhan, bukan selingan. Banyak membaca, maka akan banyak yang bisa diberi, dan bisa menambah ilmu bagi yang mendengar perkataan kita. Apalagi sekarang teknologi sudah sangat canggih, jika tidak ada buku, maka sangat banyak situs yang menyediakan taman bacaan dengan berbagai ragamnya.
Di satu kesempatan, penulis bertemu dengan komunitas ibu-ibu yang sedang membicarakan cara membuat makanan sehat dan higienis untuk anak, mulai dari menu, resep bahkan ada cara membuat ragi buatan untuk komponen cemilan anak.
Sekilas memang kelihatan sederhana apa yang mereka obrolkan. Tapi bagi penulis, apa yang mereka lakukan dan obrolkan adalah satu hal luar biasa. Mereka para Ibu yang selalu mencari maklumat tentang pendidikan anaknya dengan membaca. Betapa tidak, sekarang sangat jarang orangtua yang perhatian dengan apa yang dimakan oleh anaknya, padahal hampir semua jajanan di pasaran mengandung unsur yang sangat tidak baik bagi anak, mulai dari pemanis buatan yang berbahaya bagi perkembangan otak anak hingga kandungan emulsifier yang menurut beberapa kalangan terbuat dari bahan dasar yang tidak halal. Beruntunglah anak-anak mereka, yang telah Allah titipkan pada seorang ibu yang peduli dan menjaga mereka, bahkan dari hal-hal terkecil sekalipun.
Di lain kesempatan, penulis bertemu dengan para muslimah yang lidahnya tidak pernah berhenti menyebut, Bismillah MasyaAllah ketika melihat sesuatu yang ia puji. Satu hal yang sangat jarang penulis temukan dalam komunitas manapun. Salah seorang di antara mereka berkata, “Ada haditsnya di Shohih Bukhari yang berbunyi , al `ainu haqqun”. Setelah penulis cari ternyata hadits ini memang ada. Ibnu Hajar dalam fathul bari-nya saat menjelaskan hadits no. 5944 menceritakan sebuah kisah menarik tentang bahaya ‘Ain. Asma’ binti Umais pernah ditanya oleh para sahabat tentang anak Ja’far bin Abi Thalib yang kurus dan sakit-sakitan, kurang makankah ia atau gizinya tidak bagus? Asma’ bintu Umais menjawab bahwa itu karena pengaruh ‘ain.
Mereka meyakini betul pernyataan Rasulullah al `ainu haqqun’` , penyakit `ain itu benar adanya”. Mereka bisa tau, karena membaca.
Inilah sebaik-baik teman yang direkomendasikan Rasulullah saw, maka jika kita para muslimah ingin berubah menjadi yang lebih baik, jadikanlah ketiga teman ini sebagai teman dekat.
Penulis: Hayati Fashiha Lubis
(Pemilik & Pengasuh Group FB Hayati Parenting)
“Annidzam itgayyarat wa ehna lazim nitgayyar “, potongan kalimat berbahasa ‘Ammiyah Mesir ini akan mudah Anda dapatkan ketika menyaksikan mobil-mobil pribadi milik orang Mesir. Rezim telah berubah, kita juga mesti berubah. Perubahan menuju arah yang lebih baik adalah keniscayaan dalam kehidupan muslim maupun muslimah, sebagaimana hadits Rasulullah saw, ”Sesiapa yang hari kemarinnya lebih baik dari hari ini, maka ia telah merugi”. Maka agar tak rugi, perlu perubahan. Jika ingin berubah, satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu menjaga komitmen.
Berbicara tentang ‘azam, ada sebuah kisah menarik tentang ini dalam buku Daulah an-Nisa’. Satu ketika, seorang muslimah dari kalangan Quraisy menggunting rambutnya, sebab ketika ia hendak menutup pintu rumahnya tanpa mengenakan jilbab, tidak disengaja ada seorang lelaki yang melihat kepalanya dari luar. Ia pun memutuskan menggunting rambut yang telah dilihat oleh lelaki tadi dan berkata, “aku tidak akan membiarkan kepalaku ditumbuhi rambut yang telah dilihat oleh lelaki selain mahramku”.
Kisah ini sangat unik, ada pelajaran besar yang bisa diambil. Rambut, sering disebut sebagai mahkota perempuan, banyak orang memeliharanya sebagai penambah kecantikan dan kepercayaan diri, namun perempuan ini -dengan kemauan kuat dan prinsip yang teguh-, ia buang dan hilangkan hiasan kebanggan kaum hawa itu.
Ada lagi kisah lain, peristiwa yang terjadi pada perang Uhud, saat terdengar desas-desus bahwa Rasulullah saw sudah meninggal. Sebagian sahabat jadi kehilangan semangat untuk melanjutkan peperangan. Hingga Anas bin Nashir berteriak dan berkata, “Apa yang kalian dengar?”. Mereka menjawab, “Rasulullah saw telah meninggal”. Lalu Anas berkata, “Kalau begitu, untuk apa kalian hidup jika beliau sudah meninggal?”. Dengan gagah berani Anas maju menerobos barisan musuh, melihat keberaniannya ini, para sahabat yang lainpun segera mengikuti Anas. Hingga akhirnya Anas syahid dalam peperangan ini.
Kedua kisah ini menggambarkan komitmen yang begitu kuat terhadap sebuah tujuan. Lihatlah betapa besar komitmen wanita Quraisy di atas untuk menutup auratnya, dengan menggunting rambut penghias dirinya, padahal ia wanita yang paling terkenal keelokan rambutnya di kalangan wanita Quraisy. Karena baginya, apalah makna keelokan dan kecantikan jika membawa murka Allah. Mungkin dengan memotongnya ia terus mendapatkan peringatan untuk semakin berhati-hati dalam menjaga aurat. Dalam kisah yang kedua, juga tampak betapa komitmen jihad begitu membara di dalam diri Anas bin Nashir, jihad harus tetap dilakukan meskipun ia mendengar kabar bahwa Rasulullah sudah meninggal.
Komitmen ada jika ada tujuan dan cita-cita. Tanpa cita-cita, tidak ada komitmen, karena semua akan dibiarkan mengalir seperti air dan mengikut arus. Anas berkomitmen melanjutkan peperangan karena ia punya tujuan, menang atau syahid di jalan Allah. Wanita Quraisy mencukur rambutnya karena ia punya tujuan, menutup aurat dengan sebaik-baiknya. Dan peristiwa pengguntingan itu akan selalu mengingatkannya.
Maka dari itu, seorang mahasiswi yang punya tujuan mumtaz, pun harus berkomitmen untuk belajar ala mahasiwi mumtaz. Seorang Ibu yang bercita-cita mendidik anaknya menjadi sebaik-baik generasi, harus berkomitmen untuk banyak membaca pola pendidikan anak. Seorang wanita yang ingin menjadi sebaik-baik istri hendaknya berkomitmen untuk banyak belajar dan membaca sirah sahabiyat dan tips-tips terkini.
Untuk tetap menjaga komitmen inilah kita perlu hidup dan selalu berada dalam lingkungan orang-orang yang salih dan memilki kemauan yang kuat.
Untuk menjaga komitmen ini, disarankan untuk memilih sebaik-baik teman duduk. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw , “siapakah sebaik-baik teman duduk kami?” Rasul pun menjawab “ Orang yang ketika melihat wajahnya mengingatkan kalian pada Allah, perkataannya menambah ilmu kalian, dan amalnya mengingatkan kalian pada akhirat”.
Dalam hadits di atas, setidaknya ada tiga poin penting agar kita mampu menjadi muslimah terbaik yang menjadi dambaan dan kerinduan bagi semua orang. Pertama, muslimah yang ketika melihatnya mengingatkan kita pada Allah dan akhirat. Mengapa teman duduk terbaik adalah yang mengingatkan pada Allah? Karena pada hakikatnya, apapun peran yang dilakoni seseorang, maka tujuannya adalah ridho Allah. Makan,minum, bekerja, belajar, mengurus anak dan yang lainnya adalah jalan untuk mencapai tujuan itu, sebagaimana termaktub dalam surat al-An`am ayat 162-163).
Imam Ibnu Taimiyah pernah berkata, “Nilai seseorang dilihat dari keinginannya”. Jika ingin melihat nilai kita di hadapan Allah, maka lihatlah sejauh mana keinginan dan tujuan hidup kita. Apakah tujuan yang diinginkan adalah kekayaan dunia dan kepopuleran? Ataukah ridho Allah dan surganya. Maka seperti apa keinginan kita, seperti itulah nilai kita di hadapan Allah. Mungkin inilah sebabnya mengapa keikhlasan dalam sebuah amalan itu tak tertandingi nilainya. Karena tujuannya cuma satu, yaitu Allah ! dan hanya Allah lah yang tau nilai dari amalan itu.
Kedua, muslimah yang kata-katanya menambah ilmu yang mendengarkan. Ada Sebuah ungkapan yang sangat masyhur, “orang yang tidak punya sesuatu, tidak bisa memberi.” Orang yang tidak punya ilmu, bagaimana mungkin bisa berbagi.
Mewujudkan pernyataan Rasulullah saw di atas tentu tiada lain jalannya adalah dengan memperbanyak membaca. Entah mengapa setiap kali membaca wanita-wanita hebat dalam sejarah, penulis merasa, masa ini sangat jauh dan seolah-olah tidak pernah ada dalam sejarah. Padahal dalam sejarah sangat banyak disebutkan muslimah yang mengukir prestasi keilmuan. Salah satu contohnya, dalam kitab Thabaqat Syafi`iyah disebutkan bahwa Ibnu `Asakir -salah seorang perawi hadis- memiliki delapan puluhan lebih guru dari kalangan perempuan. Bahkan Imam as-Sakhowi pengarang kitab Adh-Dhau` Al-Lami`, mengkhususkan satu bab di akhir untuk para muslimah yang terkenal keilmuannya di zaman itu, jumlah muslimah yang ia sebutkan itu mencapai hingga seribu tujuh puluh lima orang.
Sebagai muslimah, sudah sepantasnya kita mengikuti jejak para terdahulu yang tidak hanya sukses membangun kematangan pribadinya, tapi juga kematangan pribadi orang di sekitarnya dengan ilmu. Bukankah Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim mengatakan ,” Janganlah iri hati, kecuali terhadap dua orang. Seseorang yang mendapatkan harta dari Allah lalu menghabiskannya untuk membela kebenaran dan orang yang Allah limpahi ilmu, lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya.”
Mesir yang penuh dengan khazanah keilmuan dan kaya akan ulamanya, merupakan tempat yang sangat mendukung mengembangkan potensi keilmuan para muslimah. Buku ada dimana-mana, talaqqi, dauroh dan pengajian juga bertebaran.
Terkadang ada kesan, bahwa membaca hanya kebutuhan mahasiswi dan orang-orang yang duduk dalam lembaga pendidikan formal. Padahal, apapun status yang dilakoni seorang muslimah, ia harus membaca. Karena membaca adalah kebutuhan, bukan selingan. Banyak membaca, maka akan banyak yang bisa diberi, dan bisa menambah ilmu bagi yang mendengar perkataan kita. Apalagi sekarang teknologi sudah sangat canggih, jika tidak ada buku, maka sangat banyak situs yang menyediakan taman bacaan dengan berbagai ragamnya.
Di satu kesempatan, penulis bertemu dengan komunitas ibu-ibu yang sedang membicarakan cara membuat makanan sehat dan higienis untuk anak, mulai dari menu, resep bahkan ada cara membuat ragi buatan untuk komponen cemilan anak.
Sekilas memang kelihatan sederhana apa yang mereka obrolkan. Tapi bagi penulis, apa yang mereka lakukan dan obrolkan adalah satu hal luar biasa. Mereka para Ibu yang selalu mencari maklumat tentang pendidikan anaknya dengan membaca. Betapa tidak, sekarang sangat jarang orangtua yang perhatian dengan apa yang dimakan oleh anaknya, padahal hampir semua jajanan di pasaran mengandung unsur yang sangat tidak baik bagi anak, mulai dari pemanis buatan yang berbahaya bagi perkembangan otak anak hingga kandungan emulsifier yang menurut beberapa kalangan terbuat dari bahan dasar yang tidak halal. Beruntunglah anak-anak mereka, yang telah Allah titipkan pada seorang ibu yang peduli dan menjaga mereka, bahkan dari hal-hal terkecil sekalipun.
Di lain kesempatan, penulis bertemu dengan para muslimah yang lidahnya tidak pernah berhenti menyebut, Bismillah MasyaAllah ketika melihat sesuatu yang ia puji. Satu hal yang sangat jarang penulis temukan dalam komunitas manapun. Salah seorang di antara mereka berkata, “Ada haditsnya di Shohih Bukhari yang berbunyi , al `ainu haqqun”. Setelah penulis cari ternyata hadits ini memang ada. Ibnu Hajar dalam fathul bari-nya saat menjelaskan hadits no. 5944 menceritakan sebuah kisah menarik tentang bahaya ‘Ain. Asma’ binti Umais pernah ditanya oleh para sahabat tentang anak Ja’far bin Abi Thalib yang kurus dan sakit-sakitan, kurang makankah ia atau gizinya tidak bagus? Asma’ bintu Umais menjawab bahwa itu karena pengaruh ‘ain.
Mereka meyakini betul pernyataan Rasulullah al `ainu haqqun’` , penyakit `ain itu benar adanya”. Mereka bisa tau, karena membaca.
Inilah sebaik-baik teman yang direkomendasikan Rasulullah saw, maka jika kita para muslimah ingin berubah menjadi yang lebih baik, jadikanlah ketiga teman ini sebagai teman dekat.
Penulis: Hayati Fashiha Lubis
(Pemilik & Pengasuh Group FB Hayati Parenting)
