Muslimide Online - Gerakan perlawanan Hamas dan Jihad Islam, Rabu (17/4) menegaskan, penculikan serdadu Zionis adalah cara terbaik untu...
MuslimideOnline- Gerakan perlawanan Hamas dan Jihad Islam, Rabu (17/4) menegaskan, penculikan serdadu Zionis adalah cara terbaik untuk membebaskan tawanan Palestina dari penjara Zionis demi menghentikan penderitaan mereka.
Anggota parlemen Palestina dari fraksi Hamas, Musyir El Mishri mengatakan, faksi-faksi perlawanan Palestina bersatu padu untuk membersihkan penjara Zionis dari tawanan Palestina melalui transaksi pertukaran tawanan yang membebaskan ratusan tawanan Palestina dengan seorang serdadu Zionis.
Dalam pidatonya di depan kantor Palang Merah Internasional di Gaza, Mishri menyebutkan, peringatan hari tawanan Palestina merupakan peristiwa agung yang harus diikuti semua pihak dengan berjuang semaksimal mungkin membebaskan mereka.
Mishri mengagap Zionis bertanggung jawab atas keselamatan para tawanan dan apa yang menimpa mereka berupa pelanggaran-pelanggaran terhadap tawanan. Ia menyerukan semua lembaga HAM mendesak Zionis agar segera mengakhiri penderitaan tawanan di dalam penjara, seperti pelecehan, pengabaian hak, isolasi dan penahanan administrasi.
Belajar dari Kasus Gilad Shalit
Ketika pejuang Palestina berhasil menculik seorang kopral Israel Gilad Shalit pada 25 Juni 2006 lalu, pemerintah Israel sempat dibuat bingung dan putus asa. Selama 5 tahun mereka terus berusaha mencari keberadaan seorang Shalit, namun hasilnya nihil. Hingga mereka menyerah dan menyetujui syarat yang diajukan oleh Hamas, yaitu pembebasan 1027 orang lebih tawanan Palestina sebagai tebusan satu orang Shalit.
Gilad Shalit hanya seorang kopral yang masih "hijau" di dinas militer Israel. Tapi bagi Israel militer adalah satu-satunya kekuatan utama yang bisa mereka andalkan, apalagi untuk menghadapi negara-negara Arab (Islam). Tiang kehidupan mereka adalah keamanan dan solidaritas etnik yang begitu kuat. Sehingga masyarakat sipil dipaksa untuk menjadi militer sepanjang hidupnya. Dengan demikian seluruh lini kehidupan mereka tak akan pernah lepas dari militer. Politikus mereka adalah jenderal militer. Dan intelijen meski memakai seragam sipil sudah pasti orang militer.
Media Israel juga demikian, tak lebih sebagai sebuah lembaga yang dikendalikan militer terutama lembaga-lembaga media vital. Hingga judul koran dan media diedit langsung oleh biro-biro Mossad.
Jadi sangat wajar jika Israel begitu shock ketika seorang serdadu militernya disandera dan telah berlangsung selama 5 tahun namun tak satupun di antara mereka yang bisa mengendus informasi keberadaannya. Secara moral pun mereka juga mulai kehilangan kepercayaan, dan dipandang gagal menjaga keamanan negara. Jadi ini adalah salah satu usaha pengembalian reputasi bahwa mereka bisa menjamin keselamatan bangsa Yahudi.
Permasalahan ideologis dan solidaritas yang telah ditanam sejak mulai tumbuhnya akar zionis ini menjadikan satu orang Israel lebih berharga bagi mereka dari segala-galanya. Mereka akan menebus dengan apa saja agar seorang Yahudi terselamatkan. Meski beberapa data mengungkap dalam beberapa praktek mereka juga kadang mengorbankan "orang-orang" nya demi sebuah kepentingan. Barangkali yang terakhir ini lebih kuat. Karena zionis tak pernah melakukan apapun kecuali ada kepentingan disana. (pip/sinai)
____________________________
Redaksi: Harun Al Rasyid
