Sudah banyak fitnah terhadap Islam dan muslimin yang merajalela. Tak terkecuali di Negeri Kinanah Mesir, tempat bersemayamnya para ...
Sudah banyak fitnah terhadap Islam dan muslimin yang merajalela. Tak terkecuali di Negeri Kinanah Mesir, tempat bersemayamnya para anbiya dan asyqiya. Semua terkumpul di sini. Namun perlu dipertanyakan tentang rasa persaudaraan kita sebagai umat Islam yang katanya ahli tafakkur dan tadabbur. Umat Islam satu dengan yang lainnya itu seperti satu jasad, Baginda Nabi saw menganalogikannya, bila satu bahagian saja merasa kesakitan maka yang lain pun ikut merasa sakit. Kita tak lupa pula sebuah Hadits yang bermakna bahwa, Umat Islam di akhir zaman akan bertambah banyak layaknya buih di lautan, mereka ini mempunyai banyak pengikut, namun kosong tidak ada yang berilmu seperti buih yang akhirnya hilang dengan cepat. Lupakah kita bahwa Allah telah memperingatkan kita agar tidak terjerumus dalam perpecahan (saling bermusuhan satu sama lain), hingga menyebabkan kemenangan pihak lain
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Dan Janganlah kalian saling berdebat hingga menyebabkan kalian gagal dan hilanglah kekuatan kalian”. (Al Anfal: 46)
Dan sekian banyak ayat lain yang memerintahkan untuk bersatu dalam Islam, merupakan bukti perintah Tuhan yang sharih dan nyata.
Melihat seluruh dalil-dalil ini, apakah hanya karena segelintir berita dikotomi (adu domba-red) umat yang dilakukan media sekuler, kemudian semua orang yang “dianggap” di luar ideologi kita terkena imbasnya? Tentu tidak bijak rasanya kita menghukumi sebuah institusi, atau sebuah organisasi besar yang berjuang di jalan dakwah (sama halnya seperti setiap muslim yang peduli dengan agamanya), dengan mengatakan mereka adalah ahli bid’ah-ahli kufur-ahli syirk-ataupun Khawarij. Karena pada dasarnya “Tidak ada istilah bid’ah-kufur-syirik-keluar aqidah, dalam masalah ikhtilafiyah”.
Sama halnya juga ketika kita yang berpegang pada sebuah ideologi moderat (tawaassuth-bukan liberal), merasa ada orang yang melakukan penyerangan terhadap pemahaman kita, perlu juga dilakukan cross-check dan tabayyun yang sebenarnya. Sudah sejauh manakah kita memahami sebuah manhaj dakwah yang dilakukan saudara kita yang sama-sama muslim sunni ini? Bukan lantas malah menyerang balik dengan cacian dan panggilan yang tidak baik dengan panggilan Ahli Bid’ah, atau Wahabi/Khawarij, Begitu juga sebaliknya. Allah berfirman :
بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ.
"Seburuk-buruk panggilan ialah yang buruk setelah iman." (Al Hujurat: 11)
Sebagian muslim hari ini (muslim awwam dan terpelajar), cenderung men-judge kelompok lain karena penilaian pribadi dari segi perbedaan antar kelompok. Mereka dibutakan oleh ketidak tahuan akan hakikat kelompok yang dibicarakan. Tidak melihat persamaan kelompok yang sama-sama Islam, tapilebih minat membahas perbedaan. Ini dia yang menjadi sumber berita bencana yang selalu digembar-gemborkan oleh pihak yang tidak senang dengan persatuan Umat Islam.
Ada perkataan yang sangat rancu ketika seorang mahasiswa menyatakan, “udah dikasih makan sama Universitas X, udah tinggal gratis di sakan, kuliah gak bayar, bahkan dapet beasiswa, tapi ujung-ujungnya memalsukan ajaran dan manhaj X. Malah menyerang ulama X. Tidak tahu diri.”
Perkataan semacam ini hampir bisa ditemukan di seluruh universitas ditujukan kepada mahasiswa-nya yang “seolah di mata mereka” bertolak belakang dengan manhaj dakwah yanag dianut Universitas tersebut. Mulai dari ujung Maroko hingga ujung Indonesia, mulai dari universitas yang berafiliasi kepada kerajaaan Saudi (katanya Wahabi), bahkan mereka yang belajar gratis di Iran, hingga Universitas Al-Azhar sendiri. Ada diantara para mahasiswanya yang “jumawa”, ada yang bicara “tidak layak” sebagai seorang tholibul ilmi kepada sesama rekannya dengan perkataan di atas, seolah dia adalah makhluk paling benar dan sesuai dengan “seluruh ulama” di Universitas tersebut.
Banyak ketidak tahuan (jahalah), miss-understanding, kurang muthala’ah dan qira’ah, tidak pernah belajar kepada ulama yang berlawanan manhaj secara langsung, tidak ada tabayyun, hingga rasa benci yang menimbulkan fanatik buta, serta kondisi sosial yang cenderung ta’assub mendukung untuk melakukan hal “jumawa” tersebut , sangat banyak dilakukan yang katanya mengaku seorang “mahasiswa”.
Ini bisa kita temukan di sebagian besar orang yang di pikirannya tertanam kebencian terhadap saudaranya sesama muslim yang tergolong dalam kelompok Sunni lain. Mereka inilah sebenarnya orang yang ingin menghancurkan “tatanan keberagaman” yang sudah menjadi sunnatullah. Mereka ingin menjadikan kehancuran umat Islam lebih cepat. Mereka memecah belah dan mengadu domba antar sesama Islam yang memang sudah lama terpecah ini.
Secara tidak sadar, mereka telah membantu tokoh-tokoh liberal dan sekuler untuk mempercepat kehancuran umat Islam dari dalam. Duri dalam daging dan sering mengompor-ngompori sesama muslim sunni. Mereka tidak ada bedanya dengan golongan mutasyadid takfiry yang mengkafirkan sesama muslim.
Sebagian besar mereka bahkan tidak dapat lagi membedakan diantara satu far’u ideologi dengan far’u ideologi lainnya. Syubuhat ini menjadikan semua yang berada di luar jalur yang dia anut, merupakan bukan golongan Sunni dan bukan ahlusunnah wal jamaah. “Seolah ada jaminan” bahwa tempat lawan dakwah mereka di akhirat nanti adalah neraka, dan tempat golongan mereka sudah pasti di surga. Padahal mereka paham, bahwa “suatu ijtihad tidak dapat membatalkan ijtihad yang lain”. Tapi tetap saja, seolah masing-masing kelompok itu sangat fanatik dengan golongannya.
Indonesia dan Fitnah “Wahabi”
Kita bisa mengambil contoh besar perselisihan ini di Indonesia dalam organisasi Muhammadiyah yang didirikan oleh KH.Ahmad Dahlan. Beliau adalah keturunan ke 12 dari habib Maulana Malik Ibrahim (salah seorang walisongo ). Beliau adalah seorang Sufi yang mempelajari Al-Hikam dan Al-Munjiyat dan
beliau adalah pendiri Muhammadiyah. Namun oleh pengikut-pengikut ormas lain yang bersebrangan dengan Muhammadiyah, sering mendifinisikan Muhammadiyah adalah saudara Salafi (Wahabi) hanya karena (sebagian Muhammadiyah) tidak menerapkan qunut di sholat shubuhnya, hanya karena Muhammadiyah menerima kedatangan petinggi Ulama Saudi untuk membuka 3 cabang LIPIA di kota lainnya. Bahkan Buya HAMKA (tokoh kedua Muhammadiyah-ketua pertama MUI) sendiri adalah seorang sufi. Beliau sering mengutip ayat “Ala-bidzikrillahi tathmainnal Qulub” yang menjadi dasar tasawwuf.
Sebagai bukti lain, perlu juga kita ketahui bersama, tiga organisasi besar lainnya seperti Muhammadiyah-Persis-Al-Irsyad pun turut jadi bulan-bulanan organisasi yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka. Hanyalah karena mempunyai kesamaan ide awal dengan Salafi (bukan kesamaan faham), bahkan di Indonesia ketiga organisasi ini adalah lebih senior ketimbang Salafi sendiri yang baru masuk tahun sekitar 1995. Kesamaan ide yang dimaksud adalah dari segi pembaharuan yang dilakukan terhadap umat Islam yang dirasa sudah jauh melenceng dari ketentuan Al-qur’an dan Sunnah.
Namun mereka yang menyerang ini tidak paham perbedaan mendasar antara keduanya, karena mereka hanya melihat sisi negatif kelompok tertentu saja untuk menyerang kelompok tersebut. Sisi perbedaannya adalah dari segi medan dakwah yang dihadapi oleh masing-masing dari Muhammadiyah dan Salafi:
-Muhammadiyah dan yang lainnya, berusaha membersihkan nusantara yang saat itu masih ada pengaruh Dinamisme dan Animisme karena pengaruh Hindu dan Budha. Maka kehadiran Muhammadiyah adalah untuk memurnikan tauhid agar muslimin tidak mencampurkan antara Ibadah dengan adat (budaya Hindu-Budha).
-Medan dakwah Muhammad bin Abdul Wahab tahun 1925 saat itu adalah Jazirah Arab yang dipenuhi oleh kaum muslimin yang mengikuti sunnah Rasul saw, namun tertuduh sebagai musyrik, kafir, dan mubtadi’.
Ini adalah sisi perbedaan yang sangat mencukam.
Dari contoh besar yang bisa kita jadikan patokan ini, bahwa ternyata ada juga pihak yang menyukai politik dikotomi warisan Belanda ini. Ada diantara mereka yang mengaku belajar di Al-Azhar yang manhajnya tawassuth namun sering merong-rong kelompok lain hanya karena “kepanasan” membaca muqorror aqidah, hingga berakibat timbulnya pikiran “permusuhan” kepada orang yang tidak sepaham. Dan mengambil satu sampel saja dari sekian banyak ulama dan doktor-doktor pengajar nya, adalah diantara hobi mereka. Padahal, kalau ditanya satu persatu, mungkin setiap dosen Al-Azhar itu akan berbeda-beda pandangan manhaj dakwah maupun pandangan politiknya. Ada yang Kontra terhadap IM, ada pula yang pro terhadap IM. Seperti dosen di Fakultas Bahasa Arab Al-Azhar (Kuliyah Lughoh Arabiyah) ada diantara mereka yang pro bahkan pendukung setia pemerintahan Mursi (Ikhwanul Muslimin), seperti Dr. Musthofa, Dr.Mar’iy Salim, Dr.Muhammad Abdul Dzohir, dll. Namun tidak juga berarti, mereka bukan Azhary dan Pro Salafi bukan?
Contoh lain, kita tidak melihat permusuhan yang nyata antara Syuyukh Al-Azhar dengan Syuyukh Saudi, bahkan baru-baru ini Grand Syeikh Ahmad Thoyyib diterima dengan hangat dalam ziarahnya ke Saudi.
Permusuhan ini rupanya hanya terjadi di kalangan “tholibul ilmi” (juhala) saja, bahasa perdebatan yang dipakai pun berbeda jauh dari bahasa para ulamanya yang santun dan beradab. Mereka kerap kali terbawa emosi sendiri, layaknya kalangan salafiy awwam yang juga sering terbawa emosi dalam berdebat hingga mengeluarkan gelar kafir dan bid’ah hanya karena terlalu banyak membaca “majalah As-Sunnah”.
Seorang Azhary yang mempunyai landasan Aqidah Asy’ariyah, beribadah dengan Madzahib Arba’ah (Hanafi-Maliki-Syafii-Hambali), dan berakhlak dengan nilai-nilai Sufiyah. Sudah seharusnya menampakkan bentuk tawassuth nya dalam setiap tindak tanduk dan perkataan, bukan malah ikut-ikutan keras dan berkata “yang macam-macam” kepada kelompok lain.
Aku (Bukan) Salafi
Dalam bab terakhir Majmu’ah Rasail milik Al-Banna dijelaskan bahwa aqidah salaf dan khalaf adalah satu. Walaupun salaf menyatakan tidak ada takwilan, dan khalaf menyatakan ada takwilan terhadap ayat yang mutasyabihat dalam memahami sifat-sifat Allah, namun bukan berarti salah satunya ada yang menjisimkan Allah. Tidak seperti itu. (Rujuk Majmu’ah Rasail).
Pengikut Salafi siapa bilang mereka tidak mengamalkan Mazhahib Arba’ah dan hanya berpegang pada satu qaul? Mereka bukan berpegang pada satu qaul, tapi mereka melakukan pentarjihan pada setiap muqaranah masail fiqhiyah nya. Hingga mereka cenderung “seolah” melakukan satu amalan rajih saja dari aro’ ulama tersebut. Bahkan di LIPIA sendiri, terdapat kitab-kitab fiqih imam yang empat, bahkan kitab fiqih Dzohiriyah “Al-Mahalla nya Ibnu Hazm” yang menghalalkan ghina’ (nyanyian) masih tersimpan di sana. Kalaulah mereka mengamalkan Qaul nya Ahmad Bin Hambal saja, sudah barang tentu tidak ada kitab-kitab tersebut di rak-rak perpustakaan LIPIA Jakarta yang katanya perpus Islamy terbesar di Asia Tenggara itu. Belum lagi para pengajar dan dosennya, mereka kebanyakan malah mengambil dari Al-Azhar Mesir. Sebagaimana , “LIPIA hari ini sudah semakin terbuka pemikirannya”, ujar salah seorang Mahasiswa Syariah mustawa 5 di LIPIA Jakarta.
Contoh lain dalam masalah yang lebih furu’iyyah, ikhtilaf ulama ini adalah masalah Tawassul. Para Ulama membagi Tawasul menjadi 3 macam:
1. Tawassul dengan amal shaleh
2. Tawassul dengan orang shaleh yg masih hidup
3. Tawassul dengan orang shaleh yg telah wafat
Untuk yang pertama dan kedua para ulama sepakat akan kebolehannya. Untuk yang ketiga para ulama berbeda pendapat. Ada yang membolehkan ada yang melarang. Karena hal ini berada dalam lingkup khilafiyah, maka tidak sepantasnya hal ini menjadi perpecahan umat. Kita diperbolehkan mengikuti ijtihad dari ulama pada salah satu pendapat tersebut. Sementara tawasul yang disyariatkan dan disepakati oleh semua ulama adalah tawasul dengan Asmaul Husna (nama2 Allah yg telah sampai kepada kita). Karena Allah Maha dekat, Maha mendengar, dan Maha penerima doa.
Dalam hal tabarruk, Imam Nawawi malah terang-terangan menjelaskan :
“Barangsiapa terbetik dalam benaknya bahwa mengusap dengan tangan dan semisalnya lebih mendatangkan barakah, maka keyakinan itu tidak lain bersumber dari kebodohan dia dan kelalaiannya sebab keberkahan itu hanya bisa didapat dengan melaksanakan syariat. Bagaimana mungkin keutamaan diupayakan dengan perbuatan yang bertolak belakang dengan kebenaran ?! (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab:VIII/275)
Hal ini ditujukan kepada orang awam yang tidak berilmu, yang meninggalkan ibadah yang sudah ada di syariat dan lebih memilih meminta-minta di dekat kuburan dengan mencium dan mengusapnya. Namun ini juga bukan dalil atas tidak bolehnya tabarruk-an.
Imam Al-Ghazali (w.505H) berkata : “Sesungguhnya mengusap dan mencium kuburan merupakan adat kaum Yahudi dan Nasrani”. (Ihya’ Ulumuddin I/254). Al-Maqrizi asy-Syafi’i (w. 845 H) berkata: “Syirik dalam bentuk perbuatan seperti sujud kepada selain Allah, Thawaf bukan di Baitullah (Ka’bah), Mencukur rambut dalam rangka beribadah dan tunduk kepada selain Allah, mencium batu selain hajar aswad yang ia sebelah kanan Allah di bumi , mencium kuburan atau mengusapnya dan sujud kepadanya”. (Tajridut Tauhid al-Mufid hal. 31).
Masalah Kuburan yang ditinggikan :
Imam As-Syafi'I berkata : "Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan mesjid, kawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya" (Al-Muhadzdzab 1/140, Al-Majmuu' syarhul Muhadzdzab 5/280)
"Aku suka jika kuburan tidak ditambah dengan pasir dari selain (galian) kuburan itu sendiri. Dan tidak mengapa jika ditambah pasir ...dari selain (galian) kuburan jika ditambah tanah dari yang lain akan sangat tinggi. Akan tetapi aku suka jika kuburan dinaikan diatas tanah seukuran sejengkal atau yang semisalnya. Dan aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan…
Aku telah melihat di Mekah ada diantara penguasa yang menghancurkan apa yang dibangun diatas kuburan, dan aku tidak melihat para fuqohaa mencela penghancuran tersebut"(Al-Umm 1/277)
Bahkan keterangan mengenai tidak adanya pembangunan kuburan semenjak zaman Rasul saw, para Khalifah, hingga zaman kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah, barulah setelah itu bermunculan pembolehan meninggikan kuburan lebih dari sejengkal ini. Semua bisa dilihat di kitab Akhbarul Madinah karya Ibnu Zabalah dan tulisan Ibrahim Al-‘Allaf Al-‘iraqiy serta banyak periwayatan mengenai kubur Utsman bin Ma’zhun, As’ad, dan Sa’d bin Mu’adz.
Dalam hal ibadah khusus malam juma’atan:
"Janganlah kalian mengkhususkan malam jum'at dari malam-malam yang lain dengan sholat malam, dan janganlah kalian mengkhususkan hari jum'at dari hari-hari yang lain dengan puasa, kecuali pada puasa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian" (yaitu maksudnya kecuali jika bertepatan dengan puasa nadzar, atau ia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, atau puasa qodho –lihat penjelasan Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaaj 8/19)
Dari semua keterangan dan dalil naqliy di atas, kita bisa mengetahui dengan pasti apakah semua ulama Salafi itu sesat dan melakukan pilah-pilih pada qaul ulama? Ataukah hanya rumor belaka yang datang dari karangan para pembenci kelompok Salafi, hingga menyebabkan jurang perbedaan yang semakin mencukam. Apakah benar qaul di atas milik kaum Khawarij? Kalau tidak, lantas kenapa kita memfitnah sesuatu yang kita pun belum pernah belajar di sana atau bergaul dengan Ulama mereka yang dianggap “khawarij” ini?
Dan kemudian kita melihat datang sebuah generasi yang tanpa mau belajar, membaca karangannya, hingga merujuk ke kitab-kitab ulama yang bersebrangan pendapat dengannya, dan mereka inilah yang kemudian memperbesar jurang ikhtilafiyah antara dua mazhab besar sunni saat ini.
Fitnah Kesamaan Ideologi IM dan Salafi Di Mesir
Al-Azhar, sangat berbeda dengan Universitas lainnya, hingga ia mau menampung seluruh ideologi Sunni yang ada secara terang-terangan. Kalau di LIPIA barangkali ada mahasiswa yang tidak menganut paham Salafiy, namun belajar dan menumpang makan dan tidur di sana, bahkan diberi beasiswa. Namun ini hanya bisa berjalan secara diam-diam saja, di luar itu tidak ada yang berani menentang, walaupun sebagian dosennya pun berasal dari berbagai macam manhaj dakwah yang berbeda (Saudi-Mesir-Suriah-Sudan-Indonesia), masyayikh judud tidak terlalu memberikan efek yang nyata untuk membuka pikiran mahasiswa. Bahkan di Universitas Madinah, mahasiswa yang ketahuan menyimpan video konspirasi seperti serangan militer Amerika di Iraq beberapa waktu yang lalu, sudah ada yang menjadi korban Drop Out secara tidak hormat.
Sementara Universitas Al-Azhar, dengan segala kelapangan dan keluasan ilmu para Ulamanya, tidak ada yang mensyaratkan harus ini dan itu, bahkan memeriksa kegiatan mahasiswanya satu persatu. Al-Azhar lapang dada menerima semua golongan Sunni yang ingin mencari ilmu dan menegakkan kebenaran. Tidak perlu ada kewajiban hadir dalam muhadaroh di kelas, karena suatu paksaan untuk menuntut ilmu akan berakhir dengan kejahilan belaka. Ulama Al-Azhar sangat memahami akan arti keikhlasan dalam tholabul ilmi, merekalah ulama yang benar-benar sufi. Rendah diri dan tidak memerlukan jabatan, kepopuleran maupun pujian.
Al-Azhar ‘alamiyah dan mendunia. Al-Azhar menaungi Sufiyyin, Salafiyyin, Ikhwaniyyin, bahkan menaungi pemerintahan Mursi. Al-Azhar adalah aset milik umat, bukan milik mazhab tertentu. Dan ini sudah diungkapkan dalam demikian banyak khutbah khotib Jum’at di Masjid Al-Azhar yang selalu membawa misi universal Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Kalaulah Al-Azhar sangat berlapang dada kepada Qibthiyah (Kristen Koptik) dan pernah berusaha mendamaikan Sunni dengan Syiah, maka apalagi dengan saudaranya sesama Muslim Sunni. Tidak seharusnya ada stereotype berlebihan dalam menanggapi kelompok tertentu.
Mungkin begitu pula kita perlu untuk mencerna dengan pintar perbedaan mendasar antara kelompok-kelompok lain yang berafiliasi dengan Al-Azhar sendiri. Seperti Ikhwanul Muslimin dan Salafi yang baru-baru ini diberitakan akan menguasai Al-Azhar dan menjadikannya sebagai milik IM dan Salafi. Bahkan ada yang mengambil sampel (repeated) dari satu guru saja, bahwa IM dan Salafi akan menutup Al-Azhar, ma’qul (masuk akal) kah?
Mereka mungkin belum membaca sejarah Hassan Al-Bana dalam mendirikan IM, atau mungkin tidak tahu siapa itu Al-Bana dan mengkategorikannya sejajar dengan ustadz di Mushalla (kata-kata yang semisal). Masih terngiang gaung kaum Liberal ini beberapa waktu yang lalu, bahkan dia seorang alumni Al-Azhar di Indonesia (berafiliasi kepada liberal) sendiri yang mengatakannya. Dia tidak pernah tahu bahwa Al-Bana bahkan seorang Sufi, dan masuk ke dalam salah satu tarekat tasawwuf dalan riwayat hidupnya. Namun mereka menutup mata dengan hal ini, lebih memilih diam dan mengusik daerah “borok” saja.
Bukan hanya Salafi , perlu juga dihindari “kelompok ekstrim” di setiap manhaj dakwah yang sangat suka menyudutkan dan mencari kelemahan lawan dakwahnya, hingga mengeksploitasi kelemahan dakwah saudaranya, dan mengikrarkan bahwa golongan dialah yang benar dan semua ijtihad ulama di kelompok lain adalah seolah salah. Padahal dia mengetahui bahwa kritikan-kritikan para Ulama al-Azhar itu tidak bersifat umum dan men-general kepada seluruh ulama Saudi misalnya, ataupun seluruh Negara Saudi adalah Wahabi Takfiriy, bukan seperti itu.
Kita juga perlu ingat, yang dikritik oleh Ulama Al-Azhar itu adalah beberapa ajarannya (tidak semua), dan bukan personalnya. Seperti halnya, tidak semua kesalahan personal itu bisa kita jadikan alasan untuk menyerang ajaran sebuah manhaj dakwah secara men-general (umum) bahwa semua ajarannya salah. Lantas pantas kah kata-kata khawarij dilemparkan kepada mereka? Sementara jarak kemunculan antara Khawarij dan Salafi sangatlah jauh ?
Kalau sudah begini, secara tidak sengaja kita juga telah masuk ke dalam golongan fanatik . Apalagi tanpa didasari ilmu yang cukup tentang manhaj dakwah kelompok yang dimaksud, akan sangat berbahaya membaca kitab-kitab secara sepihak saja untuk menyerang kelompok lain . Terlebih lagi hanya mendengarkan gossip dari teman sebangku di kuliah dan cercaan di catatan Facebook kepada kelompok dakwah lain,“cukuplah seorang dikatakan pendusta, jika ia menyampaikan kepada semua orang apa yang baru ia dengar (tanpa muthala’ah langsung)”.
Semua perbedaan ini seperti sebuah lingkaran setan. Sebagian kelompok Salafi mengatakan bahwa Sufi adalah ahli bid’ah, sementara sebagian kelompok Sufi berbalik mengatakan Salafi adalah Khawarij.
Semua pelecahan internal antar Sunni ini tidak akan ada habis-habisnya jika tidak disiasati dengan adil dan cermat. Karena perbedaan ulama ahli kalam sudah ada sejak zaman Khalifah Rasyidin Ali Bin Abi Thalib, ke hingga hari ini semakin runcing dan tajam pembahasannya, bahkan mereka tidak akan segan-segan mengkafirkan satu sama lain. Ini dia mengapa dikatakan, “kullu hizbin bima ladayhim farihin”, setiap kelompok itu pasti menyukai ajarannya masing-masing, berusaha melindunginya, bahkan sampai mencela kelompok lain pun bagi sebagian mereka, tidak masalah.
Peran Media sebagai Provokator Ulung
Sebuah pepatah barat yang cukup terkenal, “jika kau ingin menjual kebohongan, maka juallah melalui media”. Banyak orang awam bahkan terpelajar sekalipun yang tertipu dengan media masa. Mereka terkadang memilih media tertentu sebagai referensi manhaj dakwahnya. Bahwa mereka ini memilah dan memilih kabar yang datang kepada mereka untuk disebarkan kepada umat Islam yang lain. Dengan ujuan agar amnhaj dakwah mereka diterima masyarakat lain.
Padahal mereka tahu prinsip keadilan, bahkan terhadap orang yang kita benci sekalipun kita dituntut untuk bersikap adil. Allah telah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil…” (Al-Maidah:8)
Dan mereka paham bahwa berita yang tengah beredar sudah berubah beberapa derjat. Bahkan tak jarang, pendapat ulama tersebut sudah dipelintir oleh media dan “dimasak” terlebih dahulu agar menjadi panas dan siap cetak. Lantas apa bedanya mereka dengan orang Ahli Kitab yang menjelaskan satu kabar kemudian (yang sesuai dengannya) menyembunyikan kabar lain(yang ia tidak sukai)?
Melihat faktor keberhasilan media yang sangat besar, ada banyak kalangan yang memanfaatkan peranan media. Karena mereka tahu bahwa “ the new source of power is not money in the hand of few, but information in the hand of any”. Sumber baru dari kekuatan untuk menaklukkan dunia bukanlah uang di tangan segelintir orang, namun sumber itu ada pada penguasaan informasi di tangan orang yang terbatas. Ide ini pula yang mendasari apa yang kita kenal dengan protokoler Zionis hari ini.
Revolusi kebangkitan media ini ternyata tidak dibarengi dengan objektifitas di setiap berita yang mereka angkat. Kesadaran akan kebangkitan umat Islam yang semakin hari semakin “melek” agama membuat mereka kewalahan. Mereka memerlukan sebuah sistem untuk merusak pikiran muslimin secara khusus dan dunia secara umum mengenai Islam dan siapa yang sebenarnya Islam. Maka cara satu-satunya adalah melalui media-media.
Kepada masyarakat barat, mereka mengangkat berita bertemakan Islam sebagai teroris internasional dengan meakukan pengeboman di sana-sini hingga menjadikan Islam sebagai dalang utama terorisme berskala internasional. Dan sampai saat ini kita semua pastinya belum percaya ada orang Islam yang menabrakkan pesawat dengan gedung di Negara super power dengan liarnya. Bisa dibayangkan betapa banyak manusia yang mempercayai kabar kotor tentang umat Islam yang radikal dan suka kekerasan ini ?
Kepada masyarakat Islam, disajikan berita-berita pertikaian sesama dan perpecahan internal antar kelompok maupun Negara muslim Sunni. Perbedaan pola manhaj dakwah menjadi deadline di setiap media lokal yang mempunyai kepentingan dan misi manhaj tertentu. Hingga nanti mereka menginginkan negara Islam di atas bumi ini terpecah menjadi mozaik-mozaik kecil nan tak berdaya. Islam seperti buih, tak ada persatuan lagi. Jangankan untuk mendirikan khilafah, mendirikan syariat di Negara sendiri pun sudah tidak bisa lagi.
Kesimpulan
Dalam teori konspirasi sosialis-komunis, diterapkan sebuah percobaan. Ada yang namanya “doktrin”, yang terus menerus dicekoki oleh seorang tokoh dan kemudian disisipi sebuah pengkhianatan, contoh : seseorang Ayah menyuruh anaknya untuk melompat ke bawah dari gedung lantai 2 dengan jaminan anaknya tidak akan cedera. Karena kepercayaan kepada ayahnya, si anak melompat. Dan setelah melompat dan cedera, ternyata ia merasa dikhianati oleh sang Ayah. Kemudian sang ayah memberikan pelajaran di akhir percobaan : “Seharusnya kamu tidak mempercayai siapapun”. Sang anak pun akhirnya tidak mempercayai siapapun, termasuk Tuhan. Ini diantara pembelajaran yang diterapkan sosialis-komunis mengenai teori propaganda.
Teori ini sudah diterapkan secara inplisit oleh media-media masa, media cetak hingga media online dalam merauk kepercayaan masyarakat terhadap isi berita dan tema yang diangkat. Dengan bermodalkan ideologi yang berbeda, banyak media yang mengambil keuntungan dengan memanfaatkan kejadian yang mengandung unsur “kebencian” pada suatu sekte tertentu untuk menaikkan popularitas medianya plus menyebarkan ideologi yang berusaha untuk diusung. Tidak akan ada sebuah media memasukan berita yang tidak sesuai dengan ideologi yang dianut. Mereka terus mengulang dan mengulang berita yang senada untuk menebar kebencian diantara sesama Islam.
Dari yang kita temui sekarang, seluruh orang menyukai hal-hal yang cepat dan serba instant. Mereka ingin memasak mie dalam waktu dua menit, dan itu sudah menjadi kenyataan. Mereka ingin menjadi terkenal lewat ajang pencarian bakat dalam waktu satu bulan, juga menjadi kenyataan. Mereka ingin mendapatkan gelar wisuda dalam waktu 6 bulan, sudah bisa menjadi kenyataan juga dengan hanya bermodalkan transkrip nilai.
Salah? Tentu tidak. Selama semua nya masih dalam batas urusan duniawi.
Yang salah adalah ketika ada orang awam yang ingin pintar fiqh, namun hanya bermodalkan potongan-petongan fatwa-fatwa di google. Ketika ada yang ingin menjadi mufassir dan mentafsirkan Al-Qur’an, namun tidak hafal Al-qur’an dan hanya bermodalkan terjemahan Al-Qur’an. Ketika ada yang merasa sudah menjadi Degree, Magister, Doktor dalam bidang agama, namun masih sibuk mencela dakwah saudaranya sendiri. Bahkan ada yang menyerang sebuah manhaj dakwah yang menurut “kitab yang baru
dibacanya” di luar manhaj ahlussunnah wal jamaah, bahkan menganggapnya bukan Islam lagi. Satu hal yang perlu ditanyakan pada diri kita masing-masing yang suka mem-vonis golongan lain,
“sudah berapa jenis kitab yang kita baca?”
Bukan hanya satu, tapi rata-rata semua sekte (kalau boleh dikatakan sekte), semuanya menganggap dirinya benar dan yang di luarnya adalah salah, kalau tidak bid’ah atau kafir atau dhol. Semua, bahkan yang mengaku moderat pun, tak jarang masih suka mencaci dan mencela ijtihad para Ulama yang berseberangan pikiran dengan mereka. Sudah seharusnya kita memisahkan pembahasan Ilmu Kalam dan Ikhtilaf Fiqhiyah yang penuh dengan perdebatan dengan pembahasan prinsipil mengenai persatuan umat. Cukup sudah semua perdebatan itu terangkum di dalam kitab-kitab para Ulama, dan jangan pernah kita menyampaikan perbedaan yang memancing permusuhan kepada umat yang awam . Apalagi dengan membawa dan menyatakan kepada orang awam bahwa di luar kita adalah sesat, kafir, khawarij dan bid’ah. Karena inilah yang menyebabkan timbulnya pemikiran ekstrim yang merusak persatuan di dalam tubuh umat. Mau sampai kapan kita menilai amalan orang lain seperti ini? Tidak inginkah kita umat ini bangkit dan berjaya lagi? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Jujurlah pada hati nurani sendiri.[]
________________________________
Muhammad Zakaria Darlin | Mahasiswa Tingkat Akhir, Fakultas Bahasa Arab, Jurusan Sastra Arab Universitas Al-Azhar
