Oleh: Nur Inayah Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dalam Musnadnya, sebuah hadits dari Rasulullah Saw. yang berbunyi: عَنْ عَبْدِ ...
Oleh: Nur Inayah Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dalam Musnadnya, sebuah hadits dari Rasulullah Saw. yang berbunyi:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: "ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ"
Abdurrahman bin Auf ra. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Apabila seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mentaati suaminya, maka dikatakan kepadanya: "Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai."
Bagi setiap wanita, hadits ini jelas merupakan sebuah kabar gembira, sebab surga yang diidamkan oleh seluruh penduduk bumi beridentitas muslim itu, dapat dengan mudah ia peroleh. Bahwa memasuki surga bukanlah suatu perkara yang sulit baginya. Dua diantaranya; shalat dan puasa. Shalat dan puasa termasuk kategori Al-Ma'lum min Ad-Din bi Adh-Dharurah, sesuatu yang sudah sangat jelas, aksiomatis dalam ajaran agama. Artinya, semua sepakat akan kewajiban mendirikan shalat dan melaksanakan puasa. Maka, bila keduanya merupakan kewajiban yang sifatnya perseorangan -yang mau tidak mau harus dikerjakan-, nyatalah kasih sayang Allah terhadap wanita, karena jalan yang dibukakan untuknya meraih surga justru dari hal-hal yang diwajibkan kepada seluruh muslim, baik pria maupun wanita. Akan berbeda tentunya jika tuntunan yang disampaikan Rasulullah ini hukumnya sunah.
Ada beberapa hal yang ingin penulis urai di sini:
Pertama, esensi dari ibadah-ibadah wajib yang kita kerjakan. Manusia seringkali "terjebak" dalam rutinitas ibadah yang ia lakukan, yang dalam ungkapan Harjani Hefni yaitu "katsrotul misas tufqidul ihsas", terlalu banyak merasa akan mematikan rasa. Shalat yang didirikan lima kali dalam sehari semalam tak lagi memiliki ruhnya. Puasa selama sebulan berlalu tanpa memberi pengaruh tarbawi dalam diri. Realita yang ada jelas memberi simpulan bahwa kebanyakan manusia gagal mengambil nilai-nilai dari ibadahnya.
Inilah mungkin salah satu faktor yang menjadi landasan syaikh Usamah pernah berujar: "Laa budda minassa'i qablal wa'i", wajib mendahulukan kesadaran yang penuh sebelum adanya usaha. Manusia harus sadar betul apa yang akan atau sedang ia kerjakan. Karena seseorang yang membangun segala aktifitasnya di atas sebuah kesadaran dan pemahaman yang utuh tentu akan memberi pengaruh pada si pelaku, jauh berbeda dengan yang melakukannya sebatas ritual belaka atau sekedar menggugurkan kewajiban.
Dari sini penulis mengambil sebuah simpulan, bahwa yang menuntun seorang wanita ke surga bukanlah shalat dan puasa yang dikerjakan sekedarnya. Shalat yang masih dibarengi takabur, belum mampu menghargai waktu, gemar mengeluh dengan ketetapan Allah dan lain sebagainya, tentunya bukan hal ini yang Allah inginkan! Demikian halnya dengan wanita yang berpuasa di bulan Ramadhan, namun tidak secara maknawi, maka akan jatuh ke dalam perkara yang diharamkan baik perkataan maupun perbuatan. Belum lagi jika sepanjang hari puasa dihabiskan dengan tidur, nonton, atau berselancar ria di dunia maya, tentu yang demikian akan menghilangkan kesempatan baginya untuk meraih keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan.
Kedua, hadits yang penulis angkat ini, seperti memberi simpulan bahwa wanita—terutama yang telah berumahtangga— tak perlu berpayah-payah mencari surganya di luar rumah. Jika ia selalu berupaya melaksanakan dan menjaga shalat dan puasanya dengan baik, dengan segenap kemampuannya, mentaati suaminya selama itu tidak termasuk maksiat pada Allah, maka semoga hal itu mampu mendekatkannya pada rahmatNya.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah benarkah kita mendamba surga? Atau sudah seberapa intenskah kita berdoa pada Allah agar dianugerahkan surgaNya yang tinggi? Atau telah sesuaikah pinta kita akan surga dengan realita amal kita hari ini? Tak seorangpun mengetahui di mana Allah akan menempatkannya pada hari akhir kelak setelah dihisab, namun saat ini hampir setiap orang dapat memuhasabah dirinya. Jika ingin menjadi pantas mendapat ridha Allah dan menghuni surgaNya, tentu amal-amal shalih menjadi sebuah bukti yang nyata akan kebenaran asa kita. Amal shalih yang bermanfaat bagi pribadi, keluarga, masyarakat, dan umat manusia.
Ketiga, kendatipun jalan kemudahan telah dibuka, namun jalan masuk neraka juga membentang luas. Maka membekali diri dengan pemahaman agama secara optimal, tidak memperturutkan nafsu, dan berlapang dada menerima kebenaran, secara garis besar menjadi poin penting yang dipegang agar tidak mudah tergelincir pada perbuatan yang mengundang murka Allah, atau paling tidak, tidak menjatuhkan kita ke dalam pekerjaan yang tidak mendatangkan apa-apa kecuali kesenangan sementara dan kesia-siaan.
Berbahagialah setiap wanita, karena agama yang dibawa oleh Penutup Para Nabi ini betapa telah memuliakannya hingga ia mencapai derajat paling agung sebagai manusia ciptaan Allah. Dr. Ismail Muqoddam dalam mengawali bukunya, Al-Mar`ah baina Takrim Al-Islam wa Ihanah Al-Jahiliyah menuliskan; perempuan adalah setengah dari umat, lalu ia yang melahirkan setengahnya lagi kepada kami, maka ialah umat seutuhnya. Keistimewaan dan kemudahan yang Allah berikan semoga menjadi sarana baginya untuk dapat meretas jalan menuju surgaNya yang tinggi. Wallahu A’lam.
*Mahasiswi Fakultas Studi Islam, Jurusan Syari’ah Islamiyah, Univ. Al-Azhar Cairo.