Catatan Mahasiswa Indonesia di Mesir Muslimide Online - Kemarin, dengan hati yang cemas, aku berangkat menuju Bu'uts. Jalan-jal...
Catatan Mahasiswa Indonesia di Mesir
MuslimideOnline- Kemarin, dengan hati yang cemas, aku berangkat menuju Bu'uts. Jalan-jalan utama dipenuhi para demonstran. Beberapa kali mobil yang kutumpangi bertemu jalan buntu. Suara tembakan dan teriakan terdengar dengan jelas. Sesampai dekat Duwai'ah, tiga orang penumpang wanita bercadar minta turun. Di depan tiga wanita baik-baik itu, seorang ibu muda berjilbab tapi berpakaian modis dengan sinis berkata, "Udah, turunin saja mereka disini. Mereka pasti pengikut Mursi. Orang-orang bodoh, cari mati." Sampai kapan kalian akan membenci wanita-wanita bercadar?
-Akhirnya aku sampai di Bu'uts. Puluhan teman mahasiswa berbagai negara berkumpul di ruang televisi asrama Bu'uts, menyaksikan berita pembantaian terhadap demonstran di Rab'ah. Sementara itu, para pekerja Bu'uts, yang notabene-nya adalah orang-orang Mubarak dan pro Sisi, tertawa-tawa, seakan yang mereka saksikan hanyalah pembunuhan dalam game anak-anak. Sampai kapan kalian akan membenci Islamis?
-Tadi malam, ketika aku ingin keluar asrama mencari makanan, seorang teman yang baru saja dari luar berkata, "Jangan keluar. Aku baru saja dari luar. Banyak preman bawa senjata memberhentikan mobil-mobil yang lewat. Mereka memeriksa penumpang dan memukuli yang berjenggot." Sampai kapan kalian akan membenci orang-orang berjenggot?
-Jam 15.00 tadi aku kembali ke Hay Asyir. Jalanan sepi. Beberapa ibu-ibu Mesir menyetop mobil yang kutumpangi, semuanya ingin menuju tempat yang sama: Masjid Iman di Makram Abid, tempat jenazah syuhada yang sempat terselamatkan dari pembakaran oleh militer di Rab'ah. Bisa jadi diantara jenazah itu adalah keluarga mereka. Dalam mobil, seorang bapak-bapak berkata, "Orang IM itu, mereka memukuli dan membunuh sesama mereka, biar nanti yang tertuduh adalah militer."
Dalam hati aku beristirja' berkali-kali. Bapak-bapak ini sama bodohnya dengan beberapa mahasiswa temanku dan beberapa masyarakat awam Indonesia yang telah tercuci otaknya oleh media sekuler. Bagaimana mungkin para demonstran itu membunuh sesama mereka. Masuk akalkah jika DR. Baltaji membiarkan putrinya, Asma', dibunuh oleh demonstran sepertinya, lalu setelah itu berpura-pura menangisi jenazahnya? Logiskah jika DR. Khairat Syathir mengajak putra-putrinya ke Rab'ah untuk nanti mereka bunuh sama-sama? Waraskah jika DR. Abdurrahman Uwais berkata ke teman-temannya para demonstran, "nanti tembak aku, ya. Habis itu kalian rekam, bilang bahwa pembunuhku adalh militer." Hanya orang-orang tak waras yang berfikir seperti itu.
Kebencian telah membutakan mata kalian dari melihat kebenaran, melumpuhkan akal kalian dari berfikis yang rasional. Sampai kapan kebencian kalian itu akan dipertahankan?
