Oleh: Muhammad Zakaria Darlin, Lc. * Membubarkan secara paksa hingga menumpahkan darah sekelompok orang yang berdemonstrasi secara d...
Oleh: Muhammad Zakaria Darlin, Lc. *
Redaktur: Harun AR
Membubarkan secara paksa hingga menumpahkan darah sekelompok orang yang berdemonstrasi secara damai di sebuah negara "demokrasi" adalah pelanggaran HAM berat. Dapat dikatakan damai, karena sebelum-sebelumnya tidak ada terjadi keributan apapun di pusat demonstra, hingga akhirnya hari ini keributan kembali pecah setelah ada serangan dari pihak kepolisian dan militer terhadap demonstran.
Beberapa hari sebelumnya pun, Kementerian Dalam Negeri sudah jauh-jauh hari memperingatkan warga yang berada di sekitar pusat demonstrasi untuk tidak keluar rumah di hari "H" pembubaran massa secara paksa, yang telah direncanakan dengan matang ini. Saya sempat melihat postingan beberapa teman Mesir yang menunjukkan tatacara agar aman di rumah yang wilayahnya dekat dengan pusat demo, saat terjadi pembubaran secara paksa nanti. Ternyata hari ini adalah hari H yang dimaksud.
Ada beberapa opini yang mengatakan bahwa militer sudah jengah dengan demonstrasi yang lama-kelamaan mengundang perhatian dunia internasional. Tekanan ini yang membuat militer akhirnya mengambil tindakan represif.
Perlu diketahui juga, bahwa kebanyakan rakyat Mesir ini percaya dengan kekeramatan "militer" yang dulu sempat dipuji oleh Rasulullah saw sendiri. Ditambah lagi dengan peristiwa demi peristiwa sejarah, yang membuktikan kekebalan jasa militer untuk melindungi negaranya dalam peperangan melawan Israel. Apalagi dengan adanya program wajib militer ijbariy (secara paksa), yang memaksa rakyat untuk mengamini setiap tindakan militer, karena mereka dan anak-anak mereka sendiri adalah didikan militer tersebut. Mau tidak mau, mereka akan merasa "satu partai" dan "satu jiwa" dengan militer itu sendiri. Assya'ab wal geisy Eid Wahdah. Makanya setiap hari setelah subuh, selalu saja imam di Masjid Hussein dan kebanyakan masjid lainnya membaca Qunut Nazilah untuk junud dan militer mereka. Walaupun tidak dipungkiri, imam juga mendoakan umat Muslim agar dilindungi darahnya.
Sebagai pasukan dan angkatan bersenjata terbesar di Afrika dan di dunia Arab, bahkan masuk urutan ke -10 di dunia, militer Mesir sepertinya punya rasa percaya diri yang tinggi -karena dipercayai oleh rakyatnya- dan merasa memiliki tanggung jawab untuk memimpin kemana arah negara ini akan mereka bawa. Maka janganlah heran, jika sewaktu-waktu militer akan mengambil kuasa di negeri ini.
Satu pertanyaan saya, kalau di negara demokrasi lainnya militer dapat dihakimi oleh massa. Di negeri ini, siapa yang akan menghakimi militer?
Beberapa hari sebelumnya pun, Kementerian Dalam Negeri sudah jauh-jauh hari memperingatkan warga yang berada di sekitar pusat demonstrasi untuk tidak keluar rumah di hari "H" pembubaran massa secara paksa, yang telah direncanakan dengan matang ini. Saya sempat melihat postingan beberapa teman Mesir yang menunjukkan tatacara agar aman di rumah yang wilayahnya dekat dengan pusat demo, saat terjadi pembubaran secara paksa nanti. Ternyata hari ini adalah hari H yang dimaksud.
Ada beberapa opini yang mengatakan bahwa militer sudah jengah dengan demonstrasi yang lama-kelamaan mengundang perhatian dunia internasional. Tekanan ini yang membuat militer akhirnya mengambil tindakan represif.
Perlu diketahui juga, bahwa kebanyakan rakyat Mesir ini percaya dengan kekeramatan "militer" yang dulu sempat dipuji oleh Rasulullah saw sendiri. Ditambah lagi dengan peristiwa demi peristiwa sejarah, yang membuktikan kekebalan jasa militer untuk melindungi negaranya dalam peperangan melawan Israel. Apalagi dengan adanya program wajib militer ijbariy (secara paksa), yang memaksa rakyat untuk mengamini setiap tindakan militer, karena mereka dan anak-anak mereka sendiri adalah didikan militer tersebut. Mau tidak mau, mereka akan merasa "satu partai" dan "satu jiwa" dengan militer itu sendiri. Assya'ab wal geisy Eid Wahdah. Makanya setiap hari setelah subuh, selalu saja imam di Masjid Hussein dan kebanyakan masjid lainnya membaca Qunut Nazilah untuk junud dan militer mereka. Walaupun tidak dipungkiri, imam juga mendoakan umat Muslim agar dilindungi darahnya.
Sebagai pasukan dan angkatan bersenjata terbesar di Afrika dan di dunia Arab, bahkan masuk urutan ke -10 di dunia, militer Mesir sepertinya punya rasa percaya diri yang tinggi -karena dipercayai oleh rakyatnya- dan merasa memiliki tanggung jawab untuk memimpin kemana arah negara ini akan mereka bawa. Maka janganlah heran, jika sewaktu-waktu militer akan mengambil kuasa di negeri ini.
Satu pertanyaan saya, kalau di negara demokrasi lainnya militer dapat dihakimi oleh massa. Di negeri ini, siapa yang akan menghakimi militer?
Redaktur: Harun AR
