Muslimide Online - Hari ini (2/8) kembali digelar demonstrasi besar-besaran oleh massa pendukung Presiden Mursi dengan tema "Mesir M...
MuslimideOnline- Hari ini (2/8) kembali digelar demonstrasi besar-besaran oleh massa pendukung Presiden Mursi dengan tema "Mesir Melawan Kudeta." Demonstran bergerak usai shalat Jum'at dari 32 kantong massa dan masjid-masjid yang ada di Ibukota (Kairo) menuju beberapa titik demonstrasi, diantaranya lokasi Rab'ah el Adawiyah, Nahda Square, Ramsis dan beberapa titik lainnya. Selain itu di berbagai provinsi luar Kairo aksi serupa juga berlangsung, rakyat turun ke jalan mengutuk kudeta berdarah yang dilakukan oleh militer.
Sementara itu pihak Dewan Kementrian Mesir masa transisi pada Rabu lalu telah menurunkan mandat kepada Kemendagri -yang membawahi kepolisian- untuk membubarkan demonstran di Rab'ah al Adawiyah dan Nahdah Square dan beberapa demonstrasi lainnya secara hukum karena dipandang sudah menjadi ancaman terorisme yang meresahkan.
Namun pihak demonstran sepertinya tidak gentar dengan ancaman ini. Sebagaimana pernyataan Aliansi Nasional Pro Legitimasi dan Anti Kudeta kemarin bahwa demonstran tidak akan meninggalkan lapangan sebelum tuntutan mereka dipenuhi, kembalinya legitimasi Presiden Mursi dan diaktifkan kembali UUD 2012 serta Parlemen yang dibubarkan beberapa waktu lalu.
Terlihat kali ini demonstran terlihat lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Mereka sudah menyiapkan topeng darurat yang dibuat dari botol kemasan air mineral dan gelas-gelas plastik untuk mengantisipasi serangan gas air mata oleh aparat kepolisian. Bahkan mereka juga telah memagari wilayah sekitar demonstrasi dengan tumpukan karung berisi pasir sebagai benteng perlindungan dari tembakan peluru aparat dan preman, belajar dari insiden pambantaian minggu lalu.
Sementara itu Grand Syeikh Al Azhar, Prof. Dr. Ahmed Tayeb kembali menekankan penolakannya terhadap penggunaan kekerasan sebagai solusi konflik. Grand Syeikh menyatakan bahwa pemerintah berkewajiban menjaga keamana seluruh kekuatan politik dan rakyat Mesir. Grand Syeikh menekankan bahwa seluruh rakyat Mesir berhak melakukan unjuk rasa secara damai. Maka solusi untuk keluar dari konflik ini -menurut Grand Syeikh- adalah duduk bersama, musyawarah mencarikan solusi, bukan kekerasan.
Di lain sisi perseteruan yang kian meruncing antara dua kekuatan Pro Legitimasi dan Pro Kudeta menimbulkan munculnya kekuatan baru poros tengah yang menamai dirinya "Massa Ketiga". Massa ini digagas oleh sekelompok liberal, golongan kiri dan beberapa kalangan yang mengklaim dirinya sebagai Islam moderat. Mereka berupaya memunculkan suara baru menentang dua kubu yang sedang bertikai dan berupaya menjauh dari dua kekuatan ini. Namun kekuatan "Massa Ketiga" ini menurut beberapa pengamat tidak akan mendapat banyak dukungan karena wujud dan arah pro-kontra yang ada saat ini sangat jelas.
Adapun pihak Pro Mursi tidak mempermasalahkan jika ada kelompok lain yang juga menentang Mursi, yang penting selama mereka tidak mengkhianati revolusi dengan menyerahkan kekuasaan pada militer. Menurut mereka keberadaan kelompok ini akan semakin memperbanyak barisan penentang kebijakan militer. (chan)
Redaktur: Harun AR
Sementara itu pihak Dewan Kementrian Mesir masa transisi pada Rabu lalu telah menurunkan mandat kepada Kemendagri -yang membawahi kepolisian- untuk membubarkan demonstran di Rab'ah al Adawiyah dan Nahdah Square dan beberapa demonstrasi lainnya secara hukum karena dipandang sudah menjadi ancaman terorisme yang meresahkan.
Namun pihak demonstran sepertinya tidak gentar dengan ancaman ini. Sebagaimana pernyataan Aliansi Nasional Pro Legitimasi dan Anti Kudeta kemarin bahwa demonstran tidak akan meninggalkan lapangan sebelum tuntutan mereka dipenuhi, kembalinya legitimasi Presiden Mursi dan diaktifkan kembali UUD 2012 serta Parlemen yang dibubarkan beberapa waktu lalu.
Terlihat kali ini demonstran terlihat lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Mereka sudah menyiapkan topeng darurat yang dibuat dari botol kemasan air mineral dan gelas-gelas plastik untuk mengantisipasi serangan gas air mata oleh aparat kepolisian. Bahkan mereka juga telah memagari wilayah sekitar demonstrasi dengan tumpukan karung berisi pasir sebagai benteng perlindungan dari tembakan peluru aparat dan preman, belajar dari insiden pambantaian minggu lalu.
Sementara itu Grand Syeikh Al Azhar, Prof. Dr. Ahmed Tayeb kembali menekankan penolakannya terhadap penggunaan kekerasan sebagai solusi konflik. Grand Syeikh menyatakan bahwa pemerintah berkewajiban menjaga keamana seluruh kekuatan politik dan rakyat Mesir. Grand Syeikh menekankan bahwa seluruh rakyat Mesir berhak melakukan unjuk rasa secara damai. Maka solusi untuk keluar dari konflik ini -menurut Grand Syeikh- adalah duduk bersama, musyawarah mencarikan solusi, bukan kekerasan.
Di lain sisi perseteruan yang kian meruncing antara dua kekuatan Pro Legitimasi dan Pro Kudeta menimbulkan munculnya kekuatan baru poros tengah yang menamai dirinya "Massa Ketiga". Massa ini digagas oleh sekelompok liberal, golongan kiri dan beberapa kalangan yang mengklaim dirinya sebagai Islam moderat. Mereka berupaya memunculkan suara baru menentang dua kubu yang sedang bertikai dan berupaya menjauh dari dua kekuatan ini. Namun kekuatan "Massa Ketiga" ini menurut beberapa pengamat tidak akan mendapat banyak dukungan karena wujud dan arah pro-kontra yang ada saat ini sangat jelas.
Adapun pihak Pro Mursi tidak mempermasalahkan jika ada kelompok lain yang juga menentang Mursi, yang penting selama mereka tidak mengkhianati revolusi dengan menyerahkan kekuasaan pada militer. Menurut mereka keberadaan kelompok ini akan semakin memperbanyak barisan penentang kebijakan militer. (chan)
Redaktur: Harun AR
