Muslimide Online - Satuan kepolisian dan tentara Mesir menyerang perkampungan Delga yang terletak di distrik Deir Mawas, Provinsi Menya...
MuslimideOnline- Satuan kepolisian dan tentara Mesir menyerang perkampungan Delga yang terletak di distrik Deir Mawas, Provinsi Menya Mesir pada Senin pagi (16/9). Militer menerapkan status darurat sementara untuk Delga dan menangkap puluhan warga pengunjuk rasa anti kudeta dengan tuduhan penyerangan terhadap gereja dan sarana milik Koptik.
Saksi mata melaporkan bahwa dalam aksinya polisi dan tentara menggunakan helikopter dan menembakkan gas air mata hingga menyebabkan beberapa orang terluka. Mereka juga memutus jaringan internet dan komunikasi ke kampung tersebut.
Kantor betita "Sharq al Awsat" melaporkan bahwa militer telah menguasai pintu-pintu masuk ke desa yang dihuni 120 ribu jiwa tersebut, menghalangi jalur keluar masuk dan menetapkan jam malam di sana.
Sumber-sumber lokal mengatakan bahwa dua helikopter terbang rendah di perkampungan Delga dalam rangkaian operasi militer mengejar beberapa oknum yang menyelamatkan diri ke daerah-daerah pertanian dan perbukitan sekita perkampungan.
Dilaporkan bahwa tentara dan kepolisian yang didukung dengan kendaraan lapis baja menyebar di sekitar pusat keamanan dan gereja-gereja di wilayah Provinsi Menya, terutama di pinggiran Nil, di depan kantor gubernur dan kantor-kantor keamanan di sekitar komplek sekolah serta jalan protokol Menya.
Namun perlu diketahui bahwa pastor Ayoub Joseph pengelola Gereja Mar Girgis di Minya telah mengkonfirmasi pada Agustus lalu bahwa oelaku pembakaran gereja di Menya adalah kawanan preman, sementara para Syaikh dalam khutbah Jum'atnya sebetulnya telah menyerukan seluruh warga untuk melindungi gereja.
Melalui interaktif dengan salah satu saluran televisi swasta Mesir, Joseph telah menjelaskan bahwa peristiwa yang terjadi di desa tersebut tidak ada kaitannya dengan kelompok-kelompok Islam. Namun ada pihak-pihak mencoba mencari keuntungan dari peristiwa untuk merampok dan menjarah.
Joseph menambahkan bahwa para preman telah kerap kali melakukan penyerangan terhadap gereja sejak peristiwa 3 Juli, ia menekankan bahwa para preman berupaya menjarah benda peninggalan yang berusia 1500 tahun.
Adapun gereja Koptik Ortodok telah menegaskan sikapnya mendukung polisi dan militer untuk menghadapi apa yang disebut organisasi kekerasan bersenjata dan kelompok teroris baik di dalam maupun diluar.
Dan militer mengkudeta Presiden Mursi pada 3 Juli setelah berlangsung demonstrasi yang menuntut penggulingannya. Kemudia militer menunjuk pemerintah sementara dan melimpahkan tanggung jawab kepada pemerintahan baru untuk segera mengamandemen UUD dan mengagendakan pelaksanaan pemilu parlemen dan presiden pada 2014 mendatang.
Militer kembali mengukir sejarah baru dengan pembubaran paksa demonstran pro Mursi di Rabeah dan Nahdah pada 14 Agustus lalu. Ribuan terbunuh dan mengalami luka-luka. Polisi dan militer melakukan operasi berdarah menumpas pendukung Mursi tanpa pandang bulu, apakah dari gerakan Ikhwanul Muslimin yang merupakan partai Presiden Mursi atau mereka yang memenangkan pemilu legislatif pada 2012 lalu.
*Aljazeera
Redaktur: Harun AR
