Muslimide Online - Pemerintah sementara Mesir mengambil alih proyek yang dirancang oleh pemerintah Dr Hisham Qandil di bawah Presiden te...
MuslimideOnline- Pemerintah sementara Mesir mengambil alih proyek yang
dirancang oleh pemerintah Dr Hisham Qandil di bawah Presiden terpilih Mohammed
Morsi dan mengklaim itu menjadi proyek mereka. Misalnya, Menteri Listrik dan
Menteri Perindustrian pemerintahan interim baru-baru ini mengumumkan bahwa
Mesir mengambil langkah memanfaatkan batu bara untuk menghasilkan listrik.
Kepada kantor berita Anadolu pada Ahad (29/3) Menteri
Listrik dan Energi Ahmad Imam mengatakan, "Komite Tinggi Energi di Dewan
Menteri telah menugaskan Kementerian Lingkungan Hidup dan pejabat berwenang
untuk mempelajari dampak lingkungan dari penggunaan batu bara di pembangkit
listrik dan pabrik semen."
Imam mengatakan bahwa Perusahaan Induk Listrik Mesir telah
mengidentifikasi tiga lokasi untuk membangun pembangkit listrik pertama
menggunakan batu bara, antara lain: kawasan Mosa Springs di timur laut Mesir, Dumyat
Barat di bagian utara dan Safaga di timur Mesir.
Namun Mahmud Ahmed Shehata, wakil Komite Energi dan Industri
pada 15 April lalu telah mengumumkan pembangunan stasiun pembangkit listrik
pertama menggunakan batu bara di Safaga, Provinsi Laut Merah dan diperkirakan
akan menghasilkan energi 5.000 megawatt. Jadi proyek ini sudah dirintis oleh
Perdana Menteri Hisyam Qandil dan Fraksi Partai Kekebasan dan Keadilan di
Parlemen Mesir sebelum dikudeta. Adapun setelah itu hanya pengembangan.
Pada 21 Mei lalu juga telah diadakan seminar oleh sebuah
pabrik semen yang berbasis di Qima bekerjasama dengan Universitas Janoub
El-Wadi untuk membahas dampak lingkungan jika menggunakan bahan bakar batubara
sebagai pengganti solar. Seminar ini telah merekomendasikan menggunakan batu
bara untuk menghasilkan listrik dan pemerintah sepakat dengan rekomendasi
tersebut.
Satu bulan berikutnya, Dr Tarek Moustafa Ketua Komite Industri
Energi pada tanggal 17 Juni mengumumkan bahwa pemerintah telah menyetujui
proposal yang diajukan oleh Fraksi Partai Kebebasan dan Keadilan guna merekomendasikan
perusahaan swasta untuk mengimpor batubara untuk mengimbangi kekurangan energi.
Pabrik semen kemudian diinstruksikan beralih menggunakan batubara sebagai
pengganti gas alam untuk menyediakan energi guna pengoperasian pembangkit
listrik.
Dr Mustafa mengatakan bahwa, "Telah ada kesepakatan
tentang perlunya menggunakan batu bara untuk menghasilkan listrik di berbagai
industri bukan hanya industri semen." Ini menunjukkan bahwa
"Kementerian Perindustrian, Minyak dan Lingkungan telah merancang aturan
untuk mengimpor batubara dan mengajukannya pada pertemuan Dewan Tertinggi
Energi, yang diperkirakan akan berlangsung dalam waktu dua minggu guna
mengeluarkan resolusi khusus untuk mengimpor batu bara sebagai pengganti gas
pada pembangkit listrik." Dia menambahkan bahwa, sebuah platform di
pelabuhan Dakhilah telah disiapkan untuk menampung enam juta ton batu bara.
Dr Moustafa juga menjelaskan, "Studi untuk membangun
beberapa pelabuhan untuk mengimpor batubara, terutama di Ain Sukhna dan
Alhmorin di Laut Merah, sedang dilakukan secara paralel dengan merancang
rencana untuk mempersiapkan kereta api guna mengangkut batu bara dari pelabuhan
ke pabrik-pabrik."
Satu minggu sebelum kudeta, pada tanggal 25 Juni, Mahmoud
Shehatah, anggota Komite Industri dan Energi di Majelis Syura / MPR, mengatakan
dalam sebuah laporan bahwa komite telah merekomendasikan menggunakan batu bara
sebagai sumber energi. Dengan demikian disarankan adanya restrukturisasi
Departemen Perindustrian dan peningkatan jumlah pekerja untuk mengakomodasi
rencana baru ini.
Shehatah menambahkan bahwa ketentuan hukum telah diciptakan terkait
rencana mengimpor batubara untuk pabrik semen, seiring dengan pembangunan
pabrik batu bara di Safaga untuk menghasilkan 5000 megawatt energy listrik.
Selein itu juga menekankan perlunya mempelajari
alasan teknis dan keuangan mengatasi kegagalan proyek energi baru ini.
Dia menunjukkan bahwa proyek-proyek interkoneksi listrik
dengan Sudan, Arab Saudi dan Libya akan menghemat 7000 megawatt sementara
pengiriman gas alam ke 14 juta rumah akan memberikan dukungan untuk negara 1,5
milyar pound, serta memisahkan distribusi dari produksi dan memerangi
penyelundupan solar.
