Wahidul Kholis Fahmi Idris Musim Semi Arab atau yang lebih dikenal sebagai Arab Spring yang menjadi harapan kebangkitan Islam tel...
Wahidul Kholis
Fahmi Idris
Musim Semi Arab atau yang lebih dikenal sebagai Arab Spring yang menjadi harapan
kebangkitan Islam telah berjalan lebih dari dua setengah tahun lamanya. Namun ternyata, ia masih terus terasa bahkan
semakin membara di beberapa negara. Tengok saja Suriah, yang telah 2,5 tahun
lebih berjuang meruntuhkan kediktatoran dan kekejaman Bashar Asad.
Perjuangan rakyat
Suriah tidak
hanya dengan harta dan tenaga, bahkan darah pun tertumpahkan demi
merealisasikan mimpi musim semi yang menyejukkan. Hingga 3 kali
musim semi, mimpi kebebasan dan keadilan tak kunjung terealisasikan. Hingga akhir
Oktober 2013, Syrian Revolution Martyr
Database dalam situsnya mencatat bahwa angka korban meninggal sejak meletusnya
Revolusi Suriah mencapai 85381 jiwa dalam kurun waktu 955 hari.
Sementara itu, negara-negara lain yang telah sukses dalam
perjuangan revolusinya semisal Tunisia, Mesir, Libya,
dan Yaman masih harus menghadapi berbagai tantangan yang tak ringan.Sebut saja
Tunisia, setelah rezim Ben Ali ditumbangkan, negara tersebut guncang dengan
aksiTamarrud, seperti halnya Mesir.
Perjuangan Revolusi Suriah
Dari semua fenomena revolusi tersebut, tentunya Suriah
menjadi paling menggemparkan dunia saat ini. Bagaimana tidak? Selama 2,5 tahun
lebih, rakyat Suriah
terus berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Rezim Syiah Alawiyah yang
dipimpin oleh Asad menyatakan tak akan menyerah bahkan bersikeras untuk tetap
bertahan pada jabatannya dan menggunakan segala cara guna menggagalkan revolusi
rakyat, meski harus dengan jalur kekerasan.
Revolusi tersebut merupakan puncak dari kemarahan rakyat Suriah
sejak Hafez Asad –bapak
dari Bashar Asad– melenggang ke kursi presiden bersama Partai Sosialis Ba’ats
(Hizb al-Ba’ats al-Isytirâki) tahun 1963. Sejak saat itu, secara sistematis dan
terus-menerus rezim Asad melakukan segala hal untuk merealisasikan sebuah
kekuasaan mutlak di Suriah. Dengan menggandeng militer, rezim Asad mengambil berbagai kebijakan untuk
mengokohkan kekuasaan.
Kekuatan militer dan pihak keamanan ditingkatkan, hingga
menjadi kekuatan militer terbesar ke dua di kawasan regional setelah Mesir.
Konstitusi dan perundang-undangan
pun tak luput dari rekayasa
guna mencegah tumbuh dan berkembangnya segala gerakan oposisi, baik yang berideologi
Islam, Liberal
hingga Sosialis.
Sepanjang tahun 1979-1982, rezim Asad membasmi akar Jamaah Ikhwanul Muslimin
(IM) Suriah, khususnya sayap militer mereka. Dengan cara inilah, rezim Suriah
di bawah kepemimpinan Hafez Asad bisa bertahan.
Pada tahun 2000, ketika umur Hafez Asad semakin senja, ia
mengagendakan ‘pewarisan’ kekuasaan kepada putranya, Bashar Asad. Parlemen
Suriah pun lalu mengadakan rapat luar biasa untuk mengamandemen konstitusi
dengan mengubah batas minimal umur presiden Suriah. Sehingga, sang ‘putra
mahkota’ Bashar Asad bisa diajukan menjadi presiden dan memenangkan referendum
pada tahun tersebut. Bashar Asad kemudian kembali terpilih pada 2007, dan masih
menjabat sebagai presiden Suriah hingga saat ini.
Hingga akhirnya ketika Tunisia, Mesir, dan Libya berhasil menumbangkan
rezim korupnya, meletuslah Revolusi Suriah pada Maret 2011. Jadi salah besar
jika ada yang beranggapan
bahwa revolusi ini hanya sekedar gejala ‘latah’ atau ikut-ikutan saja. Revolusi
ini merupakan puncak kemarahan rakyat atas kesewenang-wenangan rezim Asad
semenjak sang ayah, Hafez Asad, naik pada tahun 63’ sampai kepada sang anak
Bashar Asad, pada tahun 2000.
Revolusi rakyat menuntut kebebasan ini memaksa
Asad berpidato di depan parlemen pada 31 Maret 2011. Dalam pidatonya,
ia pun berusaha
menenangkan
rakyatnya dan menjanjikan reformasi politik. Namun, keberhasilan revolusi Tunisia dan Mesir semakin
memantapkan hati rakyat Suriah bahwa keberhasilan revolusi adalah suatu
keniscayaan. Maka, di akhir
April 2011, Asad mulai gunakan
‘tangan besi’nya untuk melawan
gelombang revolusi rakyat.
Bahkan belakangan
rezim Asad semakin brutal dalam melancarkan serangannya. Beberapa pekan lalu
dunia internasional digemparkan dengan penggunaan senjata kimia oleh rezim Asad
terhadap rakyatnya sendiri.Tak lama setelah aksi keji tersebut, digelarlah Persetujuan
Jenewa antara Menlu AS, John Kerry dan Menlu
Rusia, Sergei Lavrov pada Sabtu (14/09/2013). Inti kesepakatan dua Negara utama anggota tetap Dewan Keamanan PBB
tersebut adalah pemusnahan senjata kimia Suriah selambat-lambatnya tahun 2014.
Rezim Asad Semakin Melemah
Jika kita mengamati langkah-langkah yang diambil oleh
rezim Asad belakangan, kita dapati semakin melemahnya kekuatan mereka, baik
secara fisik maupun mental. Dari segi kekuatan fisik misalnya, rezim Asad yang notabene
merupakan representasi dari kaum Syiah Alawiyah yang hanya 10% dari penduduk Suriah
harus melawan kemarahan mayoritas penduduknya.
Dengan jumlah itu, selama dua tahun terus
berperang melawan para mujahidin dan
pejuang Suriah. Ini tentunya sedikit banyak melemahkan persenjataan dan
kekuatan militernya. Bahkan sering kali justru para pejuanglah yang berhasil memenangi
pertempuran dan mengambil alih banyak persenjataan dan peralatan militer mereka.
Dan secara tidak langsung, ini menunjukkan semakin solidnya kekuatan pejuang
Suriah dalam melawan rezim Asad.
Selain itu, penggunaan senjata kimia terhadap masyarakat
sipil di atas juga mengindikasikan melemahnya persenjataan militer Suriah untuk menandingi pejuang
Suriah. Senjata
kimia yang seharusnya
merupakan pilihan terakhir bagi Asad ternyata telah digunakannya. Ini
mengindikasikan bahwa dirinya telah
kehabisan pilihan.
Adapun secara mental, Rezim Asad telah kebingungan
dan kehabisan ide untuk melawan para pejuang Suriah. Lihat saja, berbagai
peristiwa yang terjadi satu tahun belakangan, seperti penggunaan senjata kimia terhadap
masyarakat sipil dan pembunuhan kepada para tokoh agama. Kedua langkah ini
secara tidak langsung menunjukkan bahwa Asad telah kebingungan menghadapi para
pejuang Suriah. Sehingga
pada akhirnya
mereka pun sampai menggunakan strategi keji adu domba dengan mengorbankan siapa
saja, meski bukan dari kalangan militan. Bahkan betapa banyak ulama yang menjadi
korbannya. Belum lagi dengan semakin banyak pengikut Asad yang mulai berlepas
diri darinya. Bahkan beralih menentangnya dan bergabung dengan para pejuang
Suriah. Semua hal tersebut mengindikasikan semakin melemahnya kekuatan Bashar
Asad.
Selain itu, belakangan ini para ulama Suriah telah
mengagendakan program “Bunyânun Marsûs”
dengan menyatukan seluruh kelompok pejuang mujahidin Suriah. Minggu lalu saja
sekitar 50 elemen mujahidin dari berbagai penjuru Suriah bergabung membentuk
Jaisy Al-Islam (Tentara Islam). Semua ini akan membawa fajar baru bagi
perjuangan rakyat Suriah
demi mencapai cita-cita kebebasannya.
Kenapa Asad Tidak Menyerah?
Sejarah telah
mencatat bagaimana para pemimpin akan terus meladeni perlawanan rakyatnya
meskipun mereka sebenarnya tahu mereka akan kalah. Jefferson Davis tahu ia akan kalah dalam Perang
Sipil Amerika setelah jatuhnya Atlanta, namun ia terus saja berperang sampai akhir.
Muammar Gaddafi tentunya tahu ia
akan kalah dalam perang di Libya begitu serangan-serangan NATO dimulai, namun ia tetap melakukan perlawanan.
Hal yang sama terjadi pada diri Presiden Bashar Asad dari Suriah.
Kekalahan Asad
telah menjadi prediksi banyak pihak, bahkan semenjak awal revolusi Suriah meletus. Pada Februari
2011 direktur Inteligen AS dan CIA bersaksi di hadapan senat AS bahwa Asad
tidak akan tahan menghadapi tantangan tersebut. Lalu kenapa Asad terus bertahan dan tidak
menyerah? Hal
ini karena ia saat ini tak memiliki pilihan lain. Ia mungkin saja mengajukan negosiasi dengan para pejuang revolusi
dengan mengajukan pembagian kekuasaan, menegakkan demokrasi atau sejenisnya. Namun bisa dipastikan ini
akan menguntungkan pihak mayoritas Ahlussunnah
dan membawanya pada
kematian atau penjara.
Mengingat bagaimana kejamnya ia telah membantai
rakyatnya. Setuju untuk membuka proses politik kepada sebuah kelompok yang
merepresentasikan 70% populasi berarti sama artinya bahwa Asad turun ke posisi
minoritas dalam pemerintahan baru. Setiap diktator yang dibenci oleh rakyat
mengerti bahwa ini akan membawanya kepada hukuman penjara atau kematian di
tangan masyarakat yang marah. Belum lagi tuntutan dunia atas berbagai kejahatan
perang yang telah dilakukannya.
Selain itu,
pihak pejuang Suriah punya alasan yang masuk akal untuk menolak perundingan damai. Mereka tak
akan pernah percaya bahwa Asad –yang telah tega membantai rakyatnya dengan
senjata mematikan– akan menepati janjinya begitu mereka meletakkan senjata
nantinya. Mengangkat senjata menjadi satu-satunya jalan bagi pejuang Suriah
untuk mengimbangi Asad.
Lalu bagaimana
selanjutnya? Berdasarkan fakta sejarah, Asad akan terus berjuang maksimal menghancurkan
perlawanan rakyatnya. Segala cara akan ditempuh dengan dukungan dari Iran dan
Rusia sambil berharap pihak Internasional tidak akan turut campur dalam urusan
negaranya. Tapi waktu tak akan berpihak padanya. Perang yang berlarut-larut,
kemerosotan ekonomi dan finansial,
penurunan kekuatan setiap harinya, beban mental yang menekan. Semuanya akan menjadikan
rezimnya semakin melemah dan hancur. Hasil akhir yang paling mungkin baginya
adalah sebagaimana dialami Muammar Ghadafi di Libya, kekalahan dan kematian.
Peran Dunia Dalam Revolusi Suriah
Selepas penggunaan senjata kimia belakangan, dunia internasional
semakin keras mengutuk kekejaman Bashar Asad. Namun benarkah demikian? Bukankah
semua pelanggaran dan kekejaman Asad sudah melewati batas? Bukankah sudah
seharusnya ia diadili dan dihukum? Bukankah perlawanan dari seluruh penjuru
negeri menunjukkan ketidaklayakkannya sebagai pemimpin Suriah? Lalu apa yang
telah dilakukan dunia terhadap Asad dalam menghentikan kekejamannya di negara
sendiri?
“Tidak ada yang gratis dalam urusan diplomatik antar negara”. Demikianlah mungkin ungkapan
yang tepat menggambarkan pergolakan dunia menanggapi revolusi Suriah. Dua setengah tahun lebih rakyat Suriah terus berjuang
melengserkan rezim Bashar Asad. PBB tidaklah ‘melakukan’ apa-apa menyaksikan
korban berjatuhan setiap hari.
Iran yang sedang mengagendakan kebangkitan syiah di
kawasan tanpa henti memberikan dukungannya terhadap Asad. Hal ini karena
lengsernya Asad berarti sama
dengan hilangnya kuasa Iran di Syam. Maka pengokohan Asad akan semakin
menguatkan dominasi mereka di kancah Timur-Tengah. Sejumlah analis pun meyakini
bahwa Iran sebenarnya telah ikut andil dalam peperangan bersama Asad melawan
para pejuang revolusi. Hal ini terungkap
dengan bukti-bukti di lapangan tentang adanya tentara Iran yang bergabung bersama
tentara Asad.
Bahkan tak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya Iran lah yang mengomando Asad
untuk membantai rakyatnya.
Rusia pun tak jauh beda dengan Iran. Kiriman bantuan
senjata terus saja mengalir ke Suriah. Dengan memiliki Pangkalan Militer terakhirnya di Timur
Tengah, mereka akan mati-matian membela Asad. Kehilangan Asad akan berarti
kehilangan pengaruh sekaligus melemahkan kekuatan militer mereka di kancah
internasional.
Sementara itu Amerika yang berada dibawah bayang-bayang
lobi Zionis tak akan pernah tulus menyelesaikan konflik di Suriah. Konflik Syam
akan selalu dijaga dan dibiarkan membara demi menjaga keamanan Israel. Hal ini
karena dengan adanya konflik di Suriah, akan menjamin perbatasan Zionis dari
siapapun. Terlebih lagi mereka tidak akan pernah rela jika Suriah jatuh ke
tangan para Revolusioner yang didominasi para mujahidin yang sangat memusuhi
Israel. Mungkin inilah kenapa sampai 2,5 tahun lebih revolusi ini tak akan
pernah selesai.
Beginilah mereka bersikap terhadap perjuangan rakyat Suriah menuntut kebebasannya.
Kaidah untung-rugi menjadi prioritas utama. Tak peduli dengan ratusan ribu nyawa yang hilang. Anak-anak
yang menjadi yatim, kehilangan orang tua, tempat tinggal, dan sekolahnya.
Bahkan penggunaan senjata kimia berbahaya pun hanya menyisakan penyelidikan
yang tak kunjung usai tanpa memberikan hukuman yang nyata pada sang penjagal. Wallahu
a’lam
Editor: Muhammad Zakaria D
