Muslimide Online -Memperingati setahun pembantaian Israel atas rakyat Gaza dalam operasi "Pillar of Defence" pada 2012 lalu, H...
MuslimideOnline-Memperingati setahun pembantaian Israel atas rakyat Gaza dalam operasi "Pillar of Defence" pada 2012 lalu, Hamas menyerukan rakyat Palestina di Gaza, Tepi Barat dan Israel untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan. Pembantaian yang dilakukan pasca pembunuhan komandan militer Hamas, Ahmed Jabari tersebut telah memicu kemarahan kalangan aktivis internasional. Aksi tersebut dipandang sebagai tindakan "permusuhan."
Propaganda yang dilancarkan Israel masih bersikukuh melakukan pembenaran. Pada waktu bersamaan korban jiwa berjatuhan akibat serangan yang mereka lakukan atas nama "memberantas teroris." Direktur pelayanan urusan strategi Israel, Jenderal Yossi Kuperwasser menegaskan perlunya untuk memantau Gaza setiap harinya. Ia menggambarkan Hamas sebagai organisasi teroris yang bertekad untuk menghancurkan Israel dengan aktivitas terorisme. Kuperwasser juga mengkhawatirkan kemajuan-kemajuan kapasitas persenjataan Hamas, sehingga Israel berkomitmen untuk terus meningkatkan kemampuan militernya.
Pernyataan seperti ini memperkuat jeda sementara dalam eskalasi agresi militer Israel ke Gaza. Namaun pendudukan ilegal yang mereka lakukan terus menindas hak-hak rakyat Palestina karena sifat abadi mereka yang keras kepala sehinga kecaman internasional pun seakan gagal. Taktik ini menjadi jaminan bagi mereka untuk terus memperpanjang isolasi terhadap Gaza (selama tidak lakukan agresi militer), masyarakat internasional pun "dipaksa" engggan mengutuk tindakan mereka. Israel mendapat kebebasan yang seluasnya melakukan aktivitas tanpa ada yang membatasi selama tidak mengganggu "kepentingan" masyarakat internasional. Israel tentunya memastikan bahwa pelanggaran internasional bisa dihindari, namun tetap akan menimbulkan kerusakan lebih lanjut di Gaza. Hal ini harus menjadi renungan secara kolektif bagi masyarakat Palestina.
Retorika juga berperan dalam menerapkan fragmentasi identitas Palestina. Saat ini terus digambarkan seakan adanya pemisahan geografis antara Gaza dan tepi Barat. Mereka yang membatasi hubungan Hamas dengan Gaza mengabaikan panggilan perlawanan untuk pembebasan Palestina. Hal ini menyebabkan banyaknya pelanggaran yang dilakukan secara terpisah di Tepi Barat, karena kepatuhan otoritas terhadap Israel terkait masalah keamanan. Penyimpangan pandangan politik semakin jelas walaupun Abbas sudah mendeklarasikan pengunduran dirinya dari negosiasi. Padahal sejatinya negosiasi masih berlanjut. Hamas sudah berulangkali mengecam perundingan. Perlawanan adalah langkah pasti bagi bangsa Palestina untuk menentukan nasib masa depan mereka.
Keanehan cara pandang internasional terkait permasalahan Gaza, mengingatkan kita tentang dimana hukum internasional tersebut dikutip. Saat pertumpahan darah tak bisa dielakkan, dunia internasional dan PBB melepas tanggungjawab. Hal ini membuat pelanggaran hak asasi manusia lainnya tak terperhatikan dan tak mampui dihentikan. Dengan adanya pengabaian dampak ini membuat pendudukan Israel terus berlanjut. Pada sisi yang sama juga akan memperluas dampak perlawanan masyarakat pribumi terhadap pendudukan ilegal dan blokade. Ini akan menjadi perlawanan terhadap campurtangan internasional dan akan membuka kran pelanggaran berkepanjangan, akibat dari ketidak pedulian.
Middle East Monitor
Redaksi: Harun AR
