SINAI Online - Departemen Kesehatan Palestina mencemaskan ketatnya blokade yang terjadi di Jalur Gaza akan mengancam keberlangsungan pe...
SINAIOnline- Departemen Kesehatan Palestina mencemaskan ketatnya blokade yang terjadi di Jalur Gaza akan mengancam keberlangsungan penyediaan pelayanan kesehatan bagi warga.
Ahad (26/1), Menteri Kesehatan, DR. Mufid Almakhllaty menegaskan di sela-sela pertemuannya bersama pejabat kementerian bahwa jalur ini hidup selama tujuh bulan dalam kondisi yang sulit dimana hal tersebut sangat berdampak buruk bagi kesehatan dan pelayanan kesehatan. Dan pihak kementerian telah berjuang keras menjaga pelayanan kesehatan itu agar tetap eksis.
Dia mengungkapkan bahwa usaha untuk terus menjaga eksistensi pelayanan kesehatan ini merupakan sebuah prestasi besar dimana mereka tetap berjuangan dengan gigih walaupun dalam kondisi diblokade sejak pertengahan tahun lalu.
Almakhllaty mengatakan, "Meskipun dalam kondisi ekstrim seperti ini, kami akan terus mencoba mendistribusikan logistik berupa makanan dan memberikan pengarahan kepada masyarakat seputar pelayanan dasar kesehatan, serta menghindari terhentinya pelayanan penting seperti cuci ginjal, perawatan anak, perawatan intensif, ruang operasi dan UGD".
Dia menambahkan,"Gaza masih hidup walaupun selama tujuh bulan berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di berbagai sektor terutama sektor kesehatan. Semenjak ditutupnya perbatasan Rafah dan dihentikannya pengiriman bantuan-bantuan, stok logistik berupa obat-obatan yang tersisa hanya sekitar 30%. Akhirnya kementeriannya harus menutupi kebutuhan obat-obatan dan bahan medis itu sampai 80%. Bahkan kenyataan pahit harus dialami oleh pasien yang akan berobat ke luar Palestina saat langkah mereka dihenti saat sampai di gerbang perbatasan karena tertutup dan adanya larangan masuk bagi tenaga-tenaga ahli medis. Kami hanya menerima staf medis mingguan untuk melayani pengobatan khusus dan menyediakan program kesehatan bagi staf medis kami".
Dijelaskan juga bahwa pemblokadean dan penghentian impor bahan-bahan bangunan berdampak negatif dalam pembangunan proyek kesehatan seperti Rumah Sakit Indonesia, Rumah Sakit Bersalin di wilayah tengah dan proyek rehabilitasi dan perluasan di komplek medis Nasser.
Di sisi lain, Almakhllaty mengungkapkan krisis bahan bakar dan produksi minyak bumi merupakan tantangan nyata. Dalam upaya mengatasi krisis tersebut, kementeriannya menjalin hubungan dengan otoritas internasional di bidang kesehatan, kemanusiaan dan HAM dalam bentuk laporan harian tentang dampak negatif dari blokade dan penghentian akses kesehatan ini.
Pada tahun 2013 terdapat banyak prestasi di bidang medis yang dicapai oleh departemennya. Hal ini menunjukkan keseriusan staf mereka dalam melakukan pelayanan kesehatan meski dalam kondisi krisis. Karena ini merupakan tanggung jawab kami terhadap rakyat Palestina untuk mewujudkan proses pembangunan serta mengurangi penderitaan-penderitaan yang dialaminya.
Ahad (26/1), Menteri Kesehatan, DR. Mufid Almakhllaty menegaskan di sela-sela pertemuannya bersama pejabat kementerian bahwa jalur ini hidup selama tujuh bulan dalam kondisi yang sulit dimana hal tersebut sangat berdampak buruk bagi kesehatan dan pelayanan kesehatan. Dan pihak kementerian telah berjuang keras menjaga pelayanan kesehatan itu agar tetap eksis.
Dia mengungkapkan bahwa usaha untuk terus menjaga eksistensi pelayanan kesehatan ini merupakan sebuah prestasi besar dimana mereka tetap berjuangan dengan gigih walaupun dalam kondisi diblokade sejak pertengahan tahun lalu.
Almakhllaty mengatakan, "Meskipun dalam kondisi ekstrim seperti ini, kami akan terus mencoba mendistribusikan logistik berupa makanan dan memberikan pengarahan kepada masyarakat seputar pelayanan dasar kesehatan, serta menghindari terhentinya pelayanan penting seperti cuci ginjal, perawatan anak, perawatan intensif, ruang operasi dan UGD".
Dia menambahkan,"Gaza masih hidup walaupun selama tujuh bulan berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di berbagai sektor terutama sektor kesehatan. Semenjak ditutupnya perbatasan Rafah dan dihentikannya pengiriman bantuan-bantuan, stok logistik berupa obat-obatan yang tersisa hanya sekitar 30%. Akhirnya kementeriannya harus menutupi kebutuhan obat-obatan dan bahan medis itu sampai 80%. Bahkan kenyataan pahit harus dialami oleh pasien yang akan berobat ke luar Palestina saat langkah mereka dihenti saat sampai di gerbang perbatasan karena tertutup dan adanya larangan masuk bagi tenaga-tenaga ahli medis. Kami hanya menerima staf medis mingguan untuk melayani pengobatan khusus dan menyediakan program kesehatan bagi staf medis kami".
Dijelaskan juga bahwa pemblokadean dan penghentian impor bahan-bahan bangunan berdampak negatif dalam pembangunan proyek kesehatan seperti Rumah Sakit Indonesia, Rumah Sakit Bersalin di wilayah tengah dan proyek rehabilitasi dan perluasan di komplek medis Nasser.
Di sisi lain, Almakhllaty mengungkapkan krisis bahan bakar dan produksi minyak bumi merupakan tantangan nyata. Dalam upaya mengatasi krisis tersebut, kementeriannya menjalin hubungan dengan otoritas internasional di bidang kesehatan, kemanusiaan dan HAM dalam bentuk laporan harian tentang dampak negatif dari blokade dan penghentian akses kesehatan ini.
Pada tahun 2013 terdapat banyak prestasi di bidang medis yang dicapai oleh departemennya. Hal ini menunjukkan keseriusan staf mereka dalam melakukan pelayanan kesehatan meski dalam kondisi krisis. Karena ini merupakan tanggung jawab kami terhadap rakyat Palestina untuk mewujudkan proses pembangunan serta mengurangi penderitaan-penderitaan yang dialaminya.
Redaktur: Rendian Saputra
Sumber: pls48