Sabtu (12/07) merupakan hari paling berdarah sejak meletusnya konflik Palestina-Israel sejak Selasa kemarin. Lima puluh dua warga Palest...
Sabtu (12/07) merupakan hari paling berdarah sejak meletusnya konflik Palestina-Israel sejak Selasa kemarin. Lima puluh dua warga Palestina dinyatakan meninggal, sehingga total jumlah korban tewas mencapai 154 jiwa. Dalam kejadian ini, tidak seorangpun dari pihak Israel yang menjadi korban jiwa.
Dewan keamanan PBB sepakat untuk mendesak Israel dan Hamas agar menghormati “Hukum Kemanusiaan Internasional” dan menghentikan pertumpahan darah. Lima belas anggota dewan mendesak agar kedua belah pihak kembali pada restitusi gencatan senjata November 2012. Hal ini mengacu pada konflik dengan skala yang sangat mematikan di Gaza yang terjadi akhir-akhir ini.
Pada Jum’at lalu, PBB mengatakan 77% dari mereka yang tewas dalam serangan Israel adalah warga sipil. Salah seorang reporter Aljazeera melaporkan dari Rumah Sakit Al-Sifa di kota Gaza, bahwa fasilitas medis di wilayah itu sangat kewalahan. “Sebagian besar korban yang kita lihat di sini adalah warga sipil, dan ini sangat mengerikan,” katanya. Orang-orang benar-benar ketakutan, rumah sakit mengalami masalah dengan kurangnya fasilitas untuk menampung korban yang terus berdatangan.
Kedua belah pihak menolak untuk melakukan gencatan senjata. Israel terus menyusun pasukan di sepanjang perbatasan Gaza menjelang kemungkinan dilakukannya serangan darat. Warga Palestina di bagian utara Gaza diseru untuk mengevakuasi rumah mereka.
Serangan udara pada Sabtu (12/07) merupakan kampanye udara terbesar dan paling mematikan sejak 2012, tercatat bahwa serangan ini juga memakan korban dua orang keponakan perdana menteri Palestina, Ismail Haniya.
Pada Sabtu malam kemarin, serangan Israel menghantam distrik Tuffah di bagian timur kota Gaza, menargetkan rumah serta sebuah masjid dan mengakibatkan setidaknya 16 warga meninggal. Di antaranya adalah kepala polisi Tayseer al-Batsh yang juga terluka.
Hamas juga menembakkan roket setelah mengeluarkan peringatan bahwa pihaknya merencanakan untuk menembak kota Tel Aviv. Tiga roket tampaknya menargetkan Yerusalem, Hebron, dan Bethlehem. Tentara Israel dan sumber-sumber keamanan Palestina mengatakan tidak ada laporan tentang korban jiwa dari pihak Israel. Setidaknya, lebih dari 500 proyektil telah menyerang Israel selama konflik, tetapi tidak ada yang mengakibatkan kematian dari pihak Israel.
Amar Aziz
Sumber: Al-Jazeera
Dewan keamanan PBB sepakat untuk mendesak Israel dan Hamas agar menghormati “Hukum Kemanusiaan Internasional” dan menghentikan pertumpahan darah. Lima belas anggota dewan mendesak agar kedua belah pihak kembali pada restitusi gencatan senjata November 2012. Hal ini mengacu pada konflik dengan skala yang sangat mematikan di Gaza yang terjadi akhir-akhir ini.
Pada Jum’at lalu, PBB mengatakan 77% dari mereka yang tewas dalam serangan Israel adalah warga sipil. Salah seorang reporter Aljazeera melaporkan dari Rumah Sakit Al-Sifa di kota Gaza, bahwa fasilitas medis di wilayah itu sangat kewalahan. “Sebagian besar korban yang kita lihat di sini adalah warga sipil, dan ini sangat mengerikan,” katanya. Orang-orang benar-benar ketakutan, rumah sakit mengalami masalah dengan kurangnya fasilitas untuk menampung korban yang terus berdatangan.
Kedua belah pihak menolak untuk melakukan gencatan senjata. Israel terus menyusun pasukan di sepanjang perbatasan Gaza menjelang kemungkinan dilakukannya serangan darat. Warga Palestina di bagian utara Gaza diseru untuk mengevakuasi rumah mereka.
Serangan udara pada Sabtu (12/07) merupakan kampanye udara terbesar dan paling mematikan sejak 2012, tercatat bahwa serangan ini juga memakan korban dua orang keponakan perdana menteri Palestina, Ismail Haniya.
Pada Sabtu malam kemarin, serangan Israel menghantam distrik Tuffah di bagian timur kota Gaza, menargetkan rumah serta sebuah masjid dan mengakibatkan setidaknya 16 warga meninggal. Di antaranya adalah kepala polisi Tayseer al-Batsh yang juga terluka.
Hamas juga menembakkan roket setelah mengeluarkan peringatan bahwa pihaknya merencanakan untuk menembak kota Tel Aviv. Tiga roket tampaknya menargetkan Yerusalem, Hebron, dan Bethlehem. Tentara Israel dan sumber-sumber keamanan Palestina mengatakan tidak ada laporan tentang korban jiwa dari pihak Israel. Setidaknya, lebih dari 500 proyektil telah menyerang Israel selama konflik, tetapi tidak ada yang mengakibatkan kematian dari pihak Israel.
Amar Aziz
Sumber: Al-Jazeera
