Hari ini kita kembali diingatkan dengan kisah kelam yang pernah terjadi di bumi Palestina. Sebuah aksi pembantaian yang sangat kejam o...
Hari ini kita kembali diingatkan dengan kisah kelam yang pernah terjadi di bumi Palestina. Sebuah aksi pembantaian yang sangat kejam oleh tentara zionis Israel terhadap rakyat Palestina yang dikenal dengan pembantaian Sabra Satila yang berlangsung 16 September 1982.
Ketika itu, tentara ‘Israel’ yang dipimpin Menteri Pertahanan ‘Israel’,
Ariel Sharon, mengepung Sabra dan Shatila lalu membiarkan para milisi
Kristen Maronit Libanon yang dipimpin Kaum Falangis membantai pengungsi
di dalamnya.
Pembantaian tersebut berlangsung selama tiga hari (16-18 September
1982). Sekitar 3.500-8.000 orang, termasuk anak-anak, bayi, wanita, dan
orangtua dibantai dan dibunuh secara mengerikan. Tentara ‘Israel’ yang
dipimpin oleh Ariel Sharon dan kepala stafnya, Rafael Etan, memastikan
pasukan mereka mengepung kamp pengungsi lalu mengizinkan Kaum Falangis
menyerang dan membunuh ribuan pengungsi yang tidak bersalah.
Sabra adalah sebuah pemukiman miskin di pinggiran selatan Beirut
Barat, Libanon, yang bersebelahan dengan kamp pengungsi UNRWA (Badan PBB
untuk Pengungsi Palestina) Shatila yang dibangun untuk para pengungsi
Palestina pada 1949. Selama bertahun-tahun penduduk dari kedua wilayah
ini menjadi semakin bercampur, sehingga biasa disebut “Kamp
Sabra-Shatila”.
Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menggunakan Libanon selatan
sebagai pangkalan penyerangan mereka atas ‘Israel’, sehingga tentara
‘Israel’ mengklaim bahwa pembantaian itu untuk mencari 1.500 personil
PLO yang menurut mereka berada di kamp Sabra-Shatila. Padahal
sesungguhnya kelompok PLO sedang berada di tempat lain, skenario
pencarian anggota PLO hanyalah karangan ‘Israel’. Kelompok PLO sedang
melawan serangan ‘Israel’ di area lain, sehingga sebagian besar yang
berada di kamp pengungsian saat pembantaian terjadi adalah perempuan tua
dan anak-anak.
Setelah pembantaian tersebut, Mahkamah Agung ‘Israel’ membentuk
Komisi Cahan untuk menyelidiki kejahatan terhadap ribuan pengungsi
tersebut. Pada tahun 1983, Komisi Cahan mengumumkan hasil “penyelidikan”
pembantaian tersebut dan memutuskan bahwa Sharon “tidak langsung
bertanggung jawab”. Maka Sharon pun melanjutkan karir politiknya,
menjadi Perdana Menteri ‘Israel’ dan memegang berbagai posisi penting
sampai ia menderita stroke pada 4 Januari 2006 lalu berada dalam keadaan
koma sejak saat itu.
Pembantaian Sabra-Shatila bukanlah yang pertama atau terakhir
dilakukan tentara ‘Israel’. Pasukan Zionis melakukan banyak pembantaian
terhadap rakyat Palestina di tempat-tempat berbeda, di antaranya Jalur
Gaza, Deir Yassin, Qibya, Tantour, Jenin, Al-Quds, Hebron, dan lainnya.
Hingga kini tidak pernah ada satu pun komandan atau tentara ‘Israel’
yang secara resmi bertanggung jawab atas kejahatan dan pembantaian
terhadap rakyat Palestina.
Sabra dan Satila juga bukan satu-satunya aksi biadab yang menumpahkan darah rakyat Palestina. Sederet aksi kejahatan yang dilakukan oleh zionis terhadap rakyat Gaza menjadi saksi yang tak terbantahkan akan kebiadaban bangsa Israel. Pertanyaannya adalah sampai kapan bangsa Palestina harus mengalami penderitaan dan ketidakadilan ini, sampai kapan dunia Arab bungkam dan memilih menonton pembantaian atas rakyat Palestina dari kursi empuk dan istana mewah mereka. (knrp/sinai)
Sabra dan Satila juga bukan satu-satunya aksi biadab yang menumpahkan darah rakyat Palestina. Sederet aksi kejahatan yang dilakukan oleh zionis terhadap rakyat Gaza menjadi saksi yang tak terbantahkan akan kebiadaban bangsa Israel. Pertanyaannya adalah sampai kapan bangsa Palestina harus mengalami penderitaan dan ketidakadilan ini, sampai kapan dunia Arab bungkam dan memilih menonton pembantaian atas rakyat Palestina dari kursi empuk dan istana mewah mereka. (knrp/sinai)
Redaktur: Harun AR
Sumber: knrp/hidayatullah
Sumber: knrp/hidayatullah
