Archive Pages Design$type=blogging

Analisa
Berita

Kebangkitan Turki dan Sejarahnya yang Mewangi

Muslimide Online  -  Lima jam itu begitu menegangkan. Tapi ia membuat dunia terkagum di akhirnya. Malam itu malam Jum’at, 15 Juli 201...

MuslimideOnline Lima jam itu begitu menegangkan. Tapi ia membuat dunia terkagum di akhirnya.

Malam itu malam Jum’at, 15 Juli 2016, ketika beberapa oknum militer Turki membuat sebuah kerusuhan terencana; berusaha mengkudeta pemerintahan yang sah. Hal pertama yang mereka lakukan untuk mengumumkan keangkuhan mereka adalah dengan menutup Jembatan Bhosporus, memblokade Jembatan Fatih Sultan Mehmet. Di saat yang sama, helikopter terlihat terbang rendah seperti mengawasi semua gerak-gerik rakyat Turki. Bandara-bandara ditutup, kemudian tank-tank baja masuk melumpuhkan segala aktivitasnya. “Kami sudah mendengar kemungkinan adanya kudeta” kata Binali Yildirim Perdana Menteri Turki, ”dan upaya mereka tidak akan dibiarkan! Siapapun yang melakukan kegilaan ini akan membayar dengan balasan yang paling keras!”

Belum selesai sampai disitu, mereka mengerahkan kekuatan untuk memutus siaran televisi nasional Turki (TRT). Di tengah hiruk pikuk yang menegangkan itu, Presiden Recep Tayyip Erdogan ternyata tidak sedang berada di Istanbul, namun bukan berarti kekuatan kudeta akan mencapai maksud tujuan mereka, samasekali tidak. Pada pukul 00:37 waktu setempat, beliau berbicara dalam siaran langsung lewat telepon dengan perwakilan CNN Turki, dan melakukan komunikasi yang benar-benar efektif untuk meredam usaha kudeta.

“Saya mengundang seluruh elemen bangsa untuk turun ke lapangan-lapangan”, seru Erdogan lewat video callyang tersiar cepat ke seluruh penjuru Turki, “Upaya ini adalah gerakan perkembangan yang memalukan dari oknum dalam angkatan bersenjata kita. Mereka akan mendapat hukuman dengan jawaban yang kami berikan bersama bangsa kepada mereka, demi persatuan negeri kita. Mereka akan membayar mahal di hadapan hukum!”
                Dan dalam sekejap, sorak sorai lantang rakyat Turki turun ke jalanan, dan hebatnya, itu semua terjadi di tengah malam. Mereka membanjiri jalan raya dan membawa bendera Turki sebagai bukti kesetiaan mereka pada Presiden Erdogan. Bahkan gema azan pun berkumandang di masjid-masjid, yang dalam sekejap menjadi markas koordinasi lapangan massa yang mendukung tegaknya Presiden Erdogan di pemerintahannya. Sebab semua tahu, Erdogan telah mendapat cinta rakyat, sesuatu yang tidak dimiliki oleh pengkudeta. Ya, cinta.

Singkatnya, seperti yang kita tahu hari ini, kudeta itu gagal total dalam 5 jam, dan situasi segera bisa dikontrol dengan baik oleh pemerintahan yang sah. Bicara tentang siapa yang mendukung kudeta ini, ternyata hanya dilakukan oleh segelintir oknum yang sakit hati pada Erdogan. Diantara berita yang kita tidak ketahui, ternyata banyak sekali tentara yang melaksanakan perintah tanpa tahu bahwa perintah itu adalah upaya untuk mengkudeta sang presiden. Sebab telah menjadi prestasi Erdogan juga, ia telah berhasil menjadi sahabat baik bagi kekuatan Militer Turki. Banyak jenderal berdiri di belakang beliau, membelanya dan ikut menumpas kaum sakit hati itu.

Itulah Turki. Turki yang hari ini, negeri yang kuat, negeri yang bersahabat, negeri yang dermawan dan gagah di hadapan dunia. Disegani musuh, dan di saat yang sama dicintai oleh kawan-kawannya. Dahulu masa-masa perang dunia ia dijadikan lelucon “The Sick Man in Europe”, kini ia menjadi hidup kembali dengan visi besarnya; Neo-Ottoman.
***

Bolehlah sejenak kita bertanya-tanya, mengapa Turki menjadi negeri yang memainkan peran besar di percaturan dunia hari ini? Sehingga ia begitu digandrungi oleh banyak peneliti. Media Eropa banyak mencatat segala rekam jejaknya, memujinya, dan kadang banyak mencacinya juga. Warga Gaza, Suriah, Rohingya dan kawasan yang sedang terzalimi begitu bahagia dan membela Turki. Ini jawabannya: Bangsa Turki telah sadar siapakah mereka sebenarnya. Turki bukan sekedar negara seperti negara-negara lainnya, bukan juga sekedar bangsa yang lahir secara wajar seperti bangsa-bangsa lainnya; mereka tumbuh dengan jihad dan perjuangan.

Ini salah satu kuncinya: Bangsa Turki menyadari sejarah mereka yang agung, dan itulah alasan mengapa mereka gigih berusaha mengembalikan kejayaannya. Di suatu masa, kita seringkali mendengar kata-kata Ir. Soekarno yang melegenda, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”. Kata-kata itu singkat, namun luas menyamudera maknanya. Tidak bisa tidak, yang namanya sejarah bangsa akan mempekenalkan pada mereka bagaimana nenek moyangnya bekerja membangun peradaban. Jika sejarahnya hebat, anak cucunya akan bangga dan tegak berizzah menghadapi dunia. Jika terkaburkan sejarahnya, kaburlah jatidirinya, runtuhlah percayadirinya.

Mau mengenal bagaimana bersinarnya lentera sejarah bangsa Turki? Sejenak kita akan berlayar sembari memetik hikmah, menuju masa lalu untuk menajamkan pandangan masa depan. Dan inilah Turki, masa lalunya yang gemilang membuatnya kini gagah menjulang…
***
AWAL KEISLAMAN YANG INDAH

“Di tahun 642 Masehi”, tulis DR Ali As-Shalabi dalam bukunya Ad-Daulah Al-Utsmaniyah; Awamil An-Nuhudz Wa Asbab As-Suquth, “bergeraklah tentara Islam menuju negeri di sebelah timur laut Persia, yang bangsa Turki hidup di sekitarnya. Disana, panglima Muslimin -Abdurrahman bin Rabi’ah- bertemu dengan Raja Turki Syahrabraz, dan sang Raja memutuskan untuk berdamai dengan pasukan Muslimin. Kemudian, dengan segera ia mengikrarkan kesiapan bangsa Turki untuk berjuang bersama kaum Muslimin membebaskan negeri Armenia.” Awal yang indah ini terjadi semasa pemerintahan Umar bin Khattab, radhiyallahu anhu.

Adapun di masa kekhalifahan Utsman bin Affan, pasukan Muslimin berhasil membebaskan negeri Tabaristan, kemudian menyebrangi Sungai Jihun. Di seberangnya, telah menunggu banyak sekali orang-oang Turki untuk memeluk Islam, dan “mereka menjadi pejuang tangguh, bangsa yang siaga untuk berjihad mendakwahkan agama Allah ke penjuru semesta”, tulis Ahmad bin Yahya dalam buku Futuh Al-Buldan.

Semenjak itu, panjang nian kisah mereka dalam berjuang menjaga bendera Islam. Dimula dari karir mereka menjaga kedaulatan Dinasti Abbasiyah, lalu merintis kerajaan Seljuq yang di kemudian hari menjadi legenda besar, sampai di akhirnya yang paling tangguh adalah di masa kekhalifahan Islam dipimpin oleh mereka, dengan bendera ‘Utsmani. Orang Eropa mengenal mereka dengan sebutan Ottoman, sebuah nama yang mengabadi di ingatan bangsa Eropa sebagai penakluk banyak sekali negeri mereka. Gagah disegani, indah dikenang, namun pahit bagi sang musuh.

PARA LEGENDA YANG MENDUNIA

Selama menjalani karir peradabannya, bangsa Turki telah melahirkan banyak bintang-bintang bersinar yang melegenda. Nama mereka harum dikenang alam langit, walau sayang, kini banyak yang terkubur oleh agenda kolonialisme Eropa. Sebagaimana telah disimpulkan oleh DR Ali Muhammad As-Shalabi -pakar sejarah Islam- ketika beliau mengumpulkan data valid untuk menulis riwayat negeri ‘Utsmani, “Tak henti-hentinya sejarawan Eropa, Yahudi, Nasrani dan Sekuler penuh dendam untuk terus mengaburkan sejarah Negara ‘Utsmani. Mereka menambahi cacat, membuat ragu, yang sayangnya, karya mereka justru dijadikan referensi sejarawan Arab untuk mendeskripsikan sejarah ‘Utsmani.”

“Prinsip sejarawan Eropa dalam menggambarkan Utsmani Turki, karena pengaruhnya yang besar terhadapfutuhat yang luas, khususnya setelah ibukota Romawi Timur –Konstantinopel- jatuh, kemudian kaum Muslimin menggantinya dengan nama ‘Islam Bol’ (Kota Islam, sekarang bernama Istanbul) membuat mereka penuh kedengkian dan gigih memerangi Islam. Kedengkian itu terlampiaskan pada kata, pekerjaan dan tulisan-tulisan mereka”, sambung beliau di kesempatan lain.

Memang pahlawan-pahlawan itu telah tiada, mungkin juga riwayat mereka dihapus dari buku sejarah. Namun nama mereka selalu diabadikan dengan kisah dan cerita. Lewat pendidikan, lewat pelatihan, masyarakat Turki kembali mengenal nenek moyang mereka lebih dekat, menjiwai kepahlawanan mereka lebih lekat. Akhirnya, jiwa para pahlawan bersemayam di relung hati rakyat Turki, baik yang kecil hingga dewasa.

1. Alp Arselan, Kesatria Pertempuran Manzikert

Saya jujur tidak tahu bagaimana harus memulai dan meringkas kiprah pahlawan-pahlawan Islam dari Bangsa Turki. Bukan karena tidak ada keistimewaan yang mereka miliki, justru karena begitu sulitnya merangkum karya mereka yang begitu agung. Sebagai contoh, Alp Arslan, seorang raja Bani Saljuq yang gagah berani melawan angkuhnya pasukan gabungan seluruh penjuru Eropa pimpinan Kaisar Romanos IV. Di hari yang bersejarah, pada Jum’at tanggal 26 Agustus 1071 Masehi.

Kaisar Romanos IV telah melanggar perjanjian damai antara Romawi Timur dan Kaum Muslimin untuk tidak saling menyerang selama waktu yang ditentukan. Namun hanya beberapa bulan setelah kesepakatan itu ditandatangani, ia malah sudah menyiapkan pasukan besar-besaran, bisa dibilang adalah yang terbesar sepanjang sejarah Romawi Timur. Bukan saja berniat untuk mengalahkan Alp Arselan, lebih dari itu dia ingin melumat Umat Islam sampai musnah dari muka bumi! Pasukan besar itu terdiri dari bangsa Yunani, Frank (Perancis dan Eropa Tengah), kepulauan Britania, Rusia, Slavia, Bosnia, Georgia, Normandia, Turki Kristiani, Bulgar, Armenia, yang kesemuanya dipimpin oleh pasukan elit ‘The Varangian Guard’, merekalah penjaga setia semua Kaisar Romawi Timur secara turun-temurun.

Jumlah yang sangat besar ini hanya dihadapi oleh 15 ribu pasukan Muslimin, sebab secara mendadak dan penuh kecurangan Kaisar Romanos IV memanfaatkan anggapan Alp Arselan bahwa mereka dalam keadaan gencatan senjata. Namun inilah sejarah Islam, selalu ada keajaiban di titik-titik klimaks peristiwa. “Ketika dua pasukan telah berhadapan di daerah Manzikert”, tulis Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah Wa An-Nihayah, “Alp Arselan turun dari kudanya, sejurus kemudian bersujud khusyu’ hingga debu memenuhi wajahnya, ia memohon pada Allah, kemudian Allah menolongnya.

Singkat kisah, terjadi kemenangan besar bagi pasukan Muslimin, dan kekalahan telak bagi pasukan gabungan Eropa. Sekitar 8000 pasukan musuh tewas, 4000 ditawan, setengah pasukan melarikan diri, itupun angka-angka versi Paul Markham, dalam bukunya ‘Battle of Manzikert; Military Disaster or Political Failure?’ yang tentunya memihak Barat. Kemenangan besar ini berpengaruh sepanjang sejarah, menghasilkan perubahan wajah kekuatan dunia. Pertama; Kemenangan Manzikert membuka jalan bagi bangsa Turki untuk menguasai Anatolia. Kedua; masuk Islamnya banyak bangsa, dan jadilah Islam sebagai aturan kehidupan mereka. Ketiga; Manzikert menjadi gerbang awal kaum Muslimin untuk membebaskan kota Konstantinopel. SubhanAllah.

2. Sultan Murad II; Pembangun Generasi Terbaik

Bisajadi banyak orang yang belum tahu siapa beliau. Namun percayalah, beliau adalah ayah dari seorang pahlawan yang mendakwahkan Islam ke seperempat wilayah bumi, ayah dari seorang anak yang mewujudkan mimpi besar umat Islam setelah 800 tahun penantian. Beliau Sultan Murad II, ayah dari Sultan Muhammad Al-Fatih, pembebas Konstantinopel.

Bagi penulis, beliau adalah pahlawan besar umat Islam yang mengajarkan semua ayahanda kaum Muslimin untuk mendidik anak-anaknya dengan sebaik-baik bimbingan. Beliau orang yang sibuk, bayangkan saja mesti mengurus jihad melawan musuh-musuh yang menghantui wilayah perbatasan kaum Muslimin, di saat yang sama mengatur ekonomi rakyat. Ayah yang bertanggungjawab, memerhatikan anaknya setiap saat dengan menjamin pendidikannya. Muhammad Al-Fatih tidak akan menjadi pembebas jika ia tak mendapatkan tarbiyah yang kuat dari ayahnya. Maka itulah, Sultan Murad II tidak mencipta bangunan megah, tidak pula membangun patung untuk mengenang dirinya. Tapi lebih jauh dari itu; beliau membangun sebuah generasi yang mewujudkan nubuwat Nabi, “Akan ditaklukkan Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin mereka, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan mereka.”

3. Sultan Muhammad Al-Fatih; Pewujud 800 Tahun Penantian

Setelah Sultan Murad II meraih momentum kepahlawanannya sebagai ayah yang hebat, lahirlah dari didikannya seorang panglima besar pengubah sejarah. Tahun 1453 Masehi, Kamis tanggal 29 Mei menjadi hari indah perwujudan tekad generasi Muslimin sepanjang zaman. Lewat tangan emasnya yang telaten, beliau berhasil memimpin 250 ribu pasukan lengkap beserta memandu mental mereka menuju dinding Konstantinopel yang hanya pernah dijebol 2 kali sejak ia diciptakan. Rantai-rantai laut yang berserabut tidak menghalangi kapal Utsmani menyebrangi setiap deru ombaknya. Ia, yang usianya masihlah muda, menghantam kedigdayaan Romawi Timur. Usailah riwayat mereka, bergantilah kota itu dari kesesatan menjadi rumah besar bagi Umat Islam, Islam Bol namanya.

Setelah usai membebaskan Konstantinopel, beliau tidak berdiam. Sesegera setelah itu pembebasan besar beliau lakukan, menghadapi area Balkan dan berjuang mewujudkan visi yang lebih besar; membebaskan kota Roma, yang kala itu menjadi ibukota Romawi Barat. Benar kata salah satu penulis, Jihad Turbani, bahwa Muhammad Al-Fatih telah membuka jalan besar dakwah Islam di Eropa Timur bahkan sampai ke tengah, menyebar risalah menuju seperempat wilayah bumi. Walau beliau wafat sebelum menuju Roma, tekad itu masih membara di jiwa anak cucunya.

Mereka yang tersebutkan di atas hanyalah segelintir dari ribuan pahlawan Turki yang membela Islam dengan mengagumkan. Setelah Sultan Muhammad Al-Fatih, lahirlah Sultan Salim I, seorang pemimpin yang untuk pertama kalinya menggagas penjagaan siaga pada Makkah dan Madinah. Sebab dikala beliau menjadi khalifah, ada usaha dari kaum Syiah untuk menghancurkan kuburan Nabi Muhammad. Dengan rahmat Allah, hal itu tidak terjadi, lewat perantara ketegasan dan keberanian Sultan Selim I.

Sultan Sulayman The Magnificent, yang kata Harold Laimb –Sejarawan Eropa- mendeskripsikan, “hari raya orang Kristen di Eropa itu banyak sekali, namun jika dilihat mana yang paling membahagiakan, ialah hari dimana Sultan Sulayman wafat”. Bayangkan saja, jika musuh sampai berpesta karena kematian pahlawan kita, menandakan betapa gagahnya beliau di hadapan musuh. Dalam pertempuran Mohawks menghadapi pasukan Hongaria, beliau dan kaum Muslimin mendapatkan kemenangan telak.

Siapa lagi? Najmuddin Erbakan, guru spiritual Recep Tayyip Erdogan. Lalu yang dinovelkan oleh Ustadz Habiburrahman El-Shirazy dalam novel Api Tauhid, beliaulah Sang Badiuzzaman Said Nursi. Di zaman yang tidak terlampau jauh, Sultan Abdul Hamid II, khalifah terakhir ‘Utsmani yang begitu tegasnya menolak tawaran Yahudi untuk membayar semua hutang Negara asalkan Palestina diberikan untuk mereka. Karena ketegasannya, beliau mengakhiri hidupnya di kastil tua, Pengorbanan yang tidak sia-sia. SubhanAllah.

Itu Turki, kita kapan?    

Itulah yang menjadi pertanyaan. Bangsa Arab telah memimpin dunia karena membawa kemuliaan Islam. Bangsa Persia juga mendapatkan lagi kemuliaannya sebagai muslimin ketika mereka berjuang demi Islam. Bangsa Mongolia, yang pernah memerangi Islam akhirnya banyak anak cucunya yang menjadi pembelanya. Bangsa Turki juga telah mengambil momentumnya. Sekarang nampaknya tiba saatnya kebangkitan itu disusun dari Timur, Indonesia serta negeri rumpun melayu. Bukan tidak mungkin, dari negeri kitalah jawaban masa depan itu berada.

Kita kapan? InsyaAllah sebentar lagi. 

Redaktur: Edgar Hamas

COMMENTS

BLOGGER: 1
Loading...
Name

14 Agustus 25 Januari 30June Abu Treka Afrika Tengah Afsel AKP Aktivis Al Azhar Al Quds Al-Aqsha al-Azhar Alaa Alam Islami Aljazeera Amerika Amnesty Analisa aqidah Ariel Sharon Artikel AS Asad Banjir Baradei Bashar Asad Bayan Bendungan Bentrokan Berita Bom Cara Catatan Darurat Daud Oglu Deal of Century Delga Demonstran Demonstrasi Dokumen Dr. Uwais Duka Dunia Islam Editorial El Baradei El-Sisi Emir Qatar Erdagon Erdogan Fatah Fikrah Filsafat FSA Fulul Fundamental Gaza Gaza Under Attack Ghazwul Fikr Ghouta Gugatan Gulen Haji Hamas Headline Hijriah history Human Rights Watch Ibnu Khaldun IHH Ikhwan inspirasi Internasional Investigasi Irak Iran Iraq ISIS Islam Islamis Israel Istanbul Ittihadiyah Jared Kushner Jaulah Jausy al Islam Jenewa Jilbab Jum'at Furqan Kajian Kandi Kardasyah Kata-kata Kawasan Keamanan Kebiadaban Kebijakan kemanusiaan Kemenangan Kenangan Kerjasama Kesaksian Ki-Moon Klaim Koalisi Nasional Mesir Koalisi Suriah Kolom Konferensi Bahrain Konflik Kontemplasi Krisis KSA Kudeta Kudeta Mesir Kultwit kunjungan lapu lapu Lawan Kudeta Lebanon Lebaran Legitimasi Mahasiswa Mahkamah Internasional Malaysia Maroko Masisir Masjid Media Mempersiapkan Anak Sekolah Meninggal Mesir Metro Militer Mir'ah Misi Kemanusiaan Mubarak Mursi Mursyid 'Amm Muslim Sri Lanka Muslim Suriah Naquib Al-Attas Nasihat Natal News Niswah nusantara Olahrga Opini Ormas Islam Otoritas Otoritas Palestina pahlawan Palestina Panen Raya Parade Militer Pariwisata Pasca Pembantaian PBB Pemadaman Listrik Pembakaran Masjid Pembangkangan Pembantaian PembantaianRab'ah Pembubaran Pembubaran Massa Pembubaran Partai Pemerintahan pemikiran Pemilu pemuda Pemutusan Diplomatik Penangkapan Pendidikan Anak Pendudukan Zionis Pengadilan Pengepungan Penguasa Pengungsi Penjajah Penjara Penjualan Penyerangan Jamaah Perang Percaya Diri Perlawanan Pernyataan Perundingan Pilihan politik Prahara Kudeta Prancis Profesor Propaganda Kudeta Provokasi Proyek Qur'anuna Rabea Rabia Rafah Raja Muhammad Bin Salman Ramadan realitas Refleksi Remaja renungan Revolusi Rezim Rezim Suriah Rohingya RS. Midany Rusia Salahuddin Saudi Sejarah Sejarah Mesir Sejarah Palestina Modern Serangan Serangan Israel Serangkaian Bom Sikap Sinai sirah Slider Solidaritas Somalia Sri Lanka Sunnaturasulina Suriah Survey Syabab Syatir Syiria tadabbur tafakkur Tahun Ajaran Baru Tahun baru hijriah 1438 talmud Taman Kanak-kanak Tamarrid Tanah Air Tanah Palestina Taujih taurat Tausiyah Timteng Tokoh Tokoh Muslim Trik trump Tsaqafah Tulisan Hamka Tunisia Turki Ukhuwah ulama Ulasan Umrah US Usbu' Rahil Ust. Zulfi Akmal Ust.Irsyad Syafar Wacana Wanita Wawancara Wawasan Yahudi Yarmuk Yaser Arafat Yordania Zionis
false
ltr
item
MUSLIMIDE ONLINE: Kebangkitan Turki dan Sejarahnya yang Mewangi
Kebangkitan Turki dan Sejarahnya yang Mewangi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWl3ynvM3iFASwVUvg3dgIVh3EgyE2c2BS2rmSfIQVAOTx_mlWhDkh9NQIgPb1asCY_I7Db_Jp0pDBHr1aHLfUxmnrLn1xc9_y5AjXVcOBxs64dqBlgyx7rIePVBBggnbbwdNGZxwy-Vs/s1600/fetih.JPG
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWl3ynvM3iFASwVUvg3dgIVh3EgyE2c2BS2rmSfIQVAOTx_mlWhDkh9NQIgPb1asCY_I7Db_Jp0pDBHr1aHLfUxmnrLn1xc9_y5AjXVcOBxs64dqBlgyx7rIePVBBggnbbwdNGZxwy-Vs/s72-c/fetih.JPG
MUSLIMIDE ONLINE
http://muslimide.blogspot.com/2016/07/kebangkitan-turki-dan-sejarahnya-yang.html
http://muslimide.blogspot.com/
http://muslimide.blogspot.com/
http://muslimide.blogspot.com/2016/07/kebangkitan-turki-dan-sejarahnya-yang.html
true
865542636231413322
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago