Oleh:Salman Arif* Muslimide Online - Polemik perang sipil Suriah yang dimulai sejak revolusi 15 Maret 2011 hingga kini (2 Oktober 201...
![]() |
| Oleh:Salman Arif* |
MuslimideOnline- Polemik perang sipil Suriah yang dimulai sejak revolusi 15
Maret 2011 hingga kini (2 Oktober 2015, tanggal tulisan ini dibuat) masih
berjalan tak tau kemana arahnya. Korban semakin banyak berjatuhan. Data dari Syrian
Observatory for Human Rights (SOHR) per 4 Desember 2014 menunjukkan bahwa
korban tewas telah mencapai 200 ribu jiwa. CNN Indonesia juga mengutip berita
pada 15 Maret 2014 pada sumber yang sama bahwa angka korban meninggal bertambah
sebanyak 15.000 jiwa selama tiga bulan selanjutnya (Januari-Maret).
Kondisi negara yang semakin memanas, membuat gelombang
pengungsian tak bisa dibendung lagi. United Nations High Commissioner for
Refugees (UNCHR), badan khusus PBB yang menangani pengungsian, merilis data per
17 September 2015 bahwa jumlah pengungsi Suriah yang menyelamatkan diri ke luar
negeri mencapai angka 4.068.760 jiwa. Sejumlah 2,1 juta jiwa yang terdaftar di
UNCHR menyebar di Mesir, Irak, Lebanon dan Yordania. Sebanyak 1,9 juta jiwa
ditampung di Turki dan 24 ribu berada di Afrika Utara. Adapun warga Suriah yang
mencari perlindungan Internasional di Eropa mencapai angka 428.735 jiwa.
Pengungsi Suriah di Mesir
Proses masuknya pengungsi di Mesir, diatur oleh UNCHR
berdasarkan MoU dengan otoritas Mesir. Asylumseeking (orang yang melarikan diri
dari negaranya karena konflik dan belum diterima sebagai pengungsi di negara
lain) harus mendaftar dulu ke UNCHR hingga diberikan “The Yellow Card”
dan mendapatkan perlindungan dari UNCHR. Selanjutnya asylumseeking diwawancarai
untuk menentukan apakah pengungsi bisa masuk suatu Negara atau tidak. Proses
ini cukup panjang bahkan sampai satu tahun. Kalau proses selesai, mereka akan
diberikan “The Blue Card” sebagai tanda pengungsi resmi. Kartu tersebut
harus dicap oleh Kementerian Luar Negeri untuk mendapatkan izin tinggal di
Mesir.
Jumlah pengungsi Mesir berdasarkan data Mei 2014 berjumlah
78.187. Sebanyak 12.470 ditempatkan di Damietta, 29.714 di Alexandria dan
sisanya menyebar di berbagai provinsi lainnya. Sedangkan data terupdate
pengungsi Suriah yang dirilis Amnesty Internasional di Mesir berjumlah 132.375
jiwa.
Awal kedatangan pengungsi sekitar akhir 2011 menggunakan visa
turis dan mendaftar sebagai pelajar untuk mendapatkan perpanjangan izin tinggal
atau mendaftar langsung ke UNCHR sebagai pengungsi. Sebagian malah tak memiliki visa saat sampai
di Mesir.
Mantan Presiden Mesir, Muhammad Mursi dalam pidatonya di
Universitas Kairo pada 30 Juni 2012 menyatakan, "Kami sebagai orang Mesir,
selalu mendukung orang-orang untuk mendapatkan kebebasan, menentukan nasib sendiri,
dan hak-hak pemerintahan sendiri. Ini adalah prinsip-prinsip umum yang semua
orang di dunia percaya. Hari ini, Mesir mendukung rakyat Palestina dan juga rakyat
Suriah. Penumpahan darah orang-orang Suriah harus berhenti. Kami akan melakukan
yang terbaik untuk menghentikan pertumpahan darah dalam waktu dekat." Dan
Mursi secara terbuka mengumumkan bahwa
pintu Mesir terbuka selebar-lebarnya tanpa visa bagi pengungsi Suriah, mereka diberikan
akses penuh layanan publik seperti perawatan kesehatan gratis dan pendidikan.
Saat Mursi dikudeta oleh militer, pengungsi Suriah dilarang
masuk ke Mesir tanpa visa karena meraka dicurigai sebagai gerakan yang akan
membantu Ikhwanul Muslimin dan akan “memperuncing masalah keamanan” negara.
Kendala bagi pengungsi Suriah di Mesir adalah susahnya
mencari penghidupan. Di Mesir sendiri, angka pengangguran cukup tinggi. Makanya
sebagian besar pengungsi tinggal di luar kota-kota besar karena murahnya biaya
hidup terutama biaya sewa rumah. Di Kairo, terlihat sebagian kecil warga Suriah
mencoba untuk meminta-minta di pusat keramaian terutama masjid.
Berdasarkan data Amnesty Internasional tahun 2013, banyak
para pengungsi yang sudah sampai di Mesir, berupaya bermigrasi ke Italia
melalui pantai Alexandria dengan jasa ilegal dengan membayar USD 2.500. Sekitar
1500 berhasil diamankan temasuk 400 warga Palestina yang dulunya juga mengungsi
di Suriah.
Pengungsi Suriah di Turki
Pemerintahan Erdogan menyambut baik dan “buka pintu”
terhadapa pengungsi Suriah yang datang. Sejak Juni 2011, Turki menampung sekitar
1,9 juta pengungsi yang ditempatkan di 22 kamp di perbatasan Turki-Suriah di
antaranya Osmaniye, Nizip dan Karkamis. Sekitar 80% berasal dari
provinsi-provinsi utara Suriah, terutama dari Idlib, Latakia, Azaz dan Aleppo
utara, meskipun ada jumlah kecil dari ibukota Suriah, Damaskus. Sekitar 800.000 jiwa tinggal
di luar kamp. Pada bulan Mei 2013 pemerintah Turki telah menghabiskan sekitar USD
4,5 milliar untuk akomodasi pengungsi.
Para korban perang Suriah di Turki diperlakukan seperti tamu,
bukan sebagai pengungsi. Awalnya UNCHR melakukan pendataan dan wawancara
terhadap pengungsi, namun terhenti saat perubahan kebijakan Turki. Pemberlakuan
sebagai “tamu” mendatangkan kecemasan di kalangan pengungsi karena mereka tidak
memiliki status yang jelas di Turki. Bisa jadi mereka akan dideportasi. Namun
demikian, para pengungsi diperlakukan secara baik, Turki memberikan kamp
pengungsian yang standar dan layak. Memenuhi segala kebutuhan pangan dan
obat-obatan. Erdogan dalam forum-forum dunia sering menyindir negara-negara
yang tak peduli dengan rakyat Suriah.
Pengungsi Suriah di Barat (Eropa, Amerika, Australia)
Di Eropa, pencari suaka perlindungan pengungsi mencapai angka
428.735 jiwa yang tersebar di berbagai negara Eropa. Jumlah yang paling besar
berada di Jerman yaitu sebanyak 20.000 jiwa. Selain itu juga ada di Austria,
Norwegia, Firlandia, Spanyol dan lain-lain. Di Australia ada sekitar 5.600
jiwa. Di Kanada ada sekitar 1.300 jiwa pengungsi.
Kedatangan pengungsi Suriah ke Eropa memunculkan ketakutan
pada negara-negara Eropa. Kecemasan itu salah satunya dilatarbelakangi oleh
sejarah bangsa Yahudi yang mengungsi ke Eropa tahun 30-an yang menjadi bumerang
bagi Eropa. Saat para pengungsi sampai diperbatasan, Eropa hanya menerima yang
beragama Kristen dan membiarkan muslim terkatung-katung di perairan. Sebagian
malah rela untuk murtad demi bisa masuk ke negara-negara Eropa dan menetap
disana.
Perjalanan menuju Eropa juga tak mudah. Mereka harus
mengorbankan banyak harta untuk membayar para penyelundup supaya bisa menaiki
kapal dan perahu karet tanpa perlengkapan yang memadai yang belum tentu bisa
berlayar di tengah amukan ombak.
Yang paling menyorot perhatian dunia adalah peristiwa Aylan,
seorang balita yang ditemukan meninggal di pantai dekat Badron Turki. Aylan dan
keluarga mencoba menyeberang menuju Yunani dan akhirnya kapal yang ditumpangi
tenggelam.
Sekitar 350.000 migran telah melakukan perjalanan berbahaya
untuk mencapai pantai Eropa sejak Januari tahun 2015, menurut data yang dirilis
oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), lebih dari 2.600 migran
telah tenggelam saat menyeberangi laut Mediterania. Pemerintah Turki juga telah menyelamatkan lebih dari 42.000 migran
di Laut Aegea dalam lima bulan pertama tahun 2015.
Berita yang masih hangat dalam pemberitaan akhir-akhir ini
adalah saat pencari suaka memasuki Hungaria dan dihadang oleh polisi saat
menuju negara Eropa lainnya. Walaupun tujuan pengungsian adalah Austria, namun
pengungsi yang hendak melewati Hungaria juga diminta untuk mendaftarkan diri
sebagai pengungsi supaya bisa masuk ke negara tersebut. Akhirnya mereka
terpaksa melakukan demonstrasi dan berkejar-kejaran dengan polisi. Dan yang
paling santer dalam pemberitaan adalah saat seorang wartawati yang menjatuhkan
seorang pengungsi paruh baya yang menggendong anak saat berlari menghindari
kejaran polisi. Kebencian pada pengungsi Suriah begitu terasa oleh sebagian
warga Hungaria dan Eropa.
Arab Saudi Tidak Menerima Pengungsi Suriah?
Berita miring tentang ketidakpedulian Saudi terhadap
pengungsi Suriah ternyata tidak berlandaskan data yang valid, melainkan hanya
berlandaskan kepentingan pihak tertentu.
Lebih dari 500.000 warga Suriah telah masuk Saudi sejak
meletusnya revolusi di Suriah, namun mereka tidak disebut dan diperlakukan
sebagai pengungsi, karena diberikan izin tinggal dan kerja di Saudi. Sebelum
tahun 2011, warga Suriah yang tinggal di Saudi berjumlah 250.000 jiwa. Kini
pada tahun 2015 berjumlah 750.000 jiwa ditambah 100.000 pelajar Suriah yang
diizinkan sekolah secara gratis. Semuanya menambah jumlah seluruh warga Suriah
di Saudi berjumlah 1,5 juta jiwa.
Perhatian Negara Teluk Lainnya?
Seperti Bahrain, Kuwait dan UAE, Qatar dan Oman menetapkan
kebijakan yang meyulitkan para pencari suaka. Belum lagi perbandingan jumlah
warga pendatang dan penduduk asli yang cukup tinggi, terutama di UAE dan Qatar.
Namun demikian, negara-negara teluk telah mengumumkan untuk memberikan
pendanaan sebesar USD 1,8 milliar kepada PBB dalam menangani pengungsi Suriah.
Menurut CNN, banyak warga Suriah yang masuk ke negara-negara
Teluk secara resmi dengan visa lalu kemudian menetap. Data dari badan
kemanusiaan PBB, UNOCHA, menujukkan dari total donasi untuk krisis Suriah dari
2012 hingga 2015, Kuwait menempati urutan ke-5 penyumbang terbesar dengan
jumlah USD 940 juta. Arab Saudi di urutan ke-7 dengan USD 586 juta, Uni Emirat
Arab di urutan ke-10 dengan jumlah USD 405 juta, Qatar di urutan ke-12 dengan
USD 235 juta, Oman di urutan ke-29 sejumlah USD 23 juta dan Bahrain, di urutan
ke-41 dengan sumbangan USD 3,5 juta.
Pengungsi Suriah di Timur Tengah non-Negara Teluk
Lebanon menjadi tuan rumah sekitar 1,2 juta pengungsi dari
Suriah yang berjumlah sekitar satu dari lima orang di negara tersebut. Jordan menampung
sekitar 650.000 pengungsi atau sekitar 10% dari populasi. Di Irak ada sebanyak
249.463 pengungsi.
Kekurangan dana paling rentan terjadi di Lebanon yang hanya
menerima USD 13.50 per bulan atau kurang dari setengah dolar sehari untuk
bantuan pangan. Lebih dari 80% dari pengungsi Suriah di Yordania hidup di bawah
garis kemiskinan lokal.
Secara garis besar, para pengungsi Suriah belum mendapatkan
sambutan yang maksimal dari dunia, baik di Timteng, Eropa maupun negara-negara
Teluk. Beberapa Negara ada yang welcome dengan penggungsi namun terbatas
dalam pendaanan dan sebaliknya. Ada yang tak siap dengan misi kemanusian yang
diagung-agungkan karena berbenturan dengan perbedaan keyakinan dan sentimen
kebangsaan. Juga pemahaman bahwa nasionalisme seorang muslim yang tidak dibatasi
ruang dan waktu belum dirasakan seutuhnya oleh pemegang kekuasaan negara-negara
muslim.
Ada satu pertanyaan, mengapa para pengungsi Suriah
meninggalkan Turki yang disebut sebagai negara paling baik pelayanan pengungsi
dan memilih menyeberangi laut menuju Yunani yang mempertaruhkan nyawa?
*Penulis adalah pengkaji dunia Islam di Lembaga Studi Informasi Alam Informasi, Mesir.
*Penulis adalah pengkaji dunia Islam di Lembaga Studi Informasi Alam Informasi, Mesir.
