Oleh : Edgar Hamas Sejarah, tak lain tak bukan, hanyalah kumpulan kisah orang-orang besar yang menarasikan perubahan...
Oleh : Edgar Hamas
Sejarah, tak lain tak bukan,
hanyalah kumpulan kisah orang-orang besar yang menarasikan perubahan,
perbaikan, atau kehancuran, Langit sejarah telah terlanjur mencatat bahwa
mereka mengubah peta dunia.
MuslimideOnline-Keduanya
adalah simbol pemimpin yang berani mengambil langkah. Gaya mereka berdua tegas,
mereka berdua dijadikan ikon kegagahan dan keperkasaan dalam lembaran sejarah.
Leonidas, Raja Polis Sparta yang kisah hidupnya diabadikan dalam kronik film
‘300’. Dalam Perang Pertempuran Thermopylae itu, ia memimpin 300 pasukan Sparta melawan Kekaisaran
Persia yang dipimpin Xerxes. Ya, saat itu imperium Persia menaungi ratusan
negeri, dan Xerxes yang keras kepala itu mengincar Daerah Yunani sebagai bentuk
kecongkakannya.
Namun
heroisme Leonidas bersama 300 pasukan setianya berhasil menahan 200.000 pasukan
Persia itu, hingga tibalah pengkianat bernama Ephialtes yang menunjukkan jalan
bagi Pasukan Persia untuk menembus celah guna menghanguskan pertahanan Pasukan
Leonidas. Gugurlah 300 pejuang itu setelah berkutat dan membunuh 20.000 tentara
Persia (ini Pendapat Herodotus). Benar-benar fenomenal.
Dan Kronik yang menyejarah itu
kini menjadi kebanggan bangsa barat di depan sejarah kegemilangan Persia.
Dan sekarang mari kita
perekenalkan, seorang kekar besar nan tinggi yang namanya tertoreh dengan tinta
emas. Dia sebelumnya adalah imuwan dan salah seorang sosiolog masyhur di
kalangan Quraisy. Selain keilmuan yang mumpuni, watak dan tubuhnya membuatnya
menjadi juara gulat berkali-kali, ia selalu menang gulat, kecuali dengan dua
orang,; Nabi Muhammad dan Khalid bin Walid.
Umar namanya, Abu Hafsh Kunyah-nya,
Al-Faruq laqab-nya . Kini namanya tertoreh dalam urutan ke-51 di Buku
100 Manusia Paling Berpengaruh versi Michael Hart. Walaupun banyak orang yang
menyayangkan kenapa urutannya masuk ke 51, karena jasanya dalam membuat sistem
pemerintahan dan khazanah keilmuan sebenarnya besar dan memukau.
Dalam paragraf atas kita telah
membaca sekilas tentang hebatnya Leonidas menghadapi Xerxes, atau hematnya,
Yunani versus Persia pada tahun 480 SM. Selang beratus tahun kemudian baru Umar
bin Khattab dilantik menjadi Khalifah tahun 634 M, beliau memulai langkah baru
yang mengungguli Leonidas dan Xerxes.
Beriring sabda Nabi ketika
peristiwa Khandaq , Umar melangkah maju berkonsolidasi dengan panglimanya untuk
menaklukkan dua imperium besar; Romawi dan Persia. Tanahnya Leonidas dan Xerxes.
Tahun 636 Masehi pintu kemenangan nyaris terbuka bersamaan. Perang Yarmuk
memukul Romawi dari Asia Minor, Perang Qadisiyah pimpinan Saad bin Abi Waqqash
membuat kocar kacir pasukan Persia.
Kala itu, Keberanian Seorang
Tentara Muslim berarti mengungguli heroisme Pasukan Yunani dan menandingi
kekuatan pasukan Persia, bersamaan.
Mari kembali ke awal
pembicaraan. Leonidas dan Umar. Kesemuanya adalah tokoh yang mewakili peradaban
masing-masing. Leonidas adalah produk peradaban Romawi yang Keras, sedang Umar adalah
hasil didikan Madrasah Nabi Muhammad di Arab nan terang dengan cahaya
keislaman.
Figur kedua tokoh ini juga
sama-sama sudah dibuat film. Yang satu diberi nama ‘300’, disutradai oleh Zack
Snyder dan diproduksi tahun 2007, sedang Film ‘Umar’ disutradarai oleh Hatem
Ali dari Syria. Adapun Film ‘300’ itu diproduksi untuk bisnis tentunya. Berbeda
dengan Film ‘Umar’ yang hari ini dijadikan media bagi Guru-Guru sejarah
Kebudayaan Islam untuk menggambarkan pada murid-muridnya tentang Sejarah Islam
yang benar-benar terang benderang.
Kini kita berbicara tentang
Perilaku tokoh. Memang benar keduanya telah menorehkan sejarah berani di
lembar-lembar buku pengetahuan. Namun Leonidas adalah figur yang keras, keras
watak dan hati. Dalam Polis Sparta, ada sebuah tradisi bernama Agoge,
tradisi ketika seorang anak lelaki harus dikarantina di kamp-kamp militer
Sparta, mereka dididik untuk bertahan hidup dengan segala cara, termasuk
berkelahi, mencuri, memukul orang lain.
Hal itu membuat Tokoh Leonidas
bagi kita tak bisa dijadikan teladan, samasekali tidak.
Sedang Umar, masa kelamnya
memang ada. Masa-masa jahiliyahnya memang terekam dalam sirah Nabawiyah. Namun
seketika ia mencetak kain putih untuk menutup masa kelam hidupnya, menghias
kain putih hidupnya dengan khazanah keilmuan dan perjuangan gagah memukau.
Dan akhirnya kini, nama Umar
bin Khattab tersebut dalam Doa-doa para khatib, dalam dzikir pagi dan sore
kita.
Ya, kesimpulannya; keduanya
sama-sama tokoh besar, namun sejarah mencatatnya berbeda. Yang satu sekedar besar
karena pertempuran heroiknya melawan Persia. Yang satunya besar karena berhasil
menyatukan Antara Yunani dan Persia, dalam satu bendera; Islam.
Dan, Sejarah Umar bin Khottob
menjadi hikmah besar bagi kita, Dia tanpa islam mungkin hanya tetaplah Penyembah
Roti dan Batu, namun Islam mengubah jalan hidupnya, dari hanya Tokoh Lokal
Mekkah, menuju Khalifah yang mengatur lebih dari 25 negara yang berbeda bahasa.
Sama halnya dengan yang lain.
Tersebutlah rakyat jelata Persia bernama Salman, datang dari Persia , memeluk
islam, berjuang dan terdidik oleh Allah, dan akhir hidupnya beliau menjadi
Gubernur. Bilal juga, budak Habasyah yang dibebaskan Abu Bakar itu di akhir
hidupnya menjadi Gubernur.
Sungguh Islam membuat manusia
menjadi besar dan mencatat sejarah besar.