Oleh : Edgar Hamas Muslimide Online - Dataran stepa Mongol pernah menjadi saksi lahirnya seorang anak, yang kela...
MuslimideOnline-Dataran stepa Mongol pernah
menjadi saksi lahirnya seorang anak, yang kelak akan membuat dunia berubah rona
wajahnya untuk sekian zaman. Kini, kita mengenal Mongolia sebagai negeri yang
hampir tak pernah lagi terdengar. Letaknya di yang berada dalam himpitan
raksasa ekonomi Tiongkok dan negeri Beruang Merah Rusia, membuatnya seperti tak
berkutik. Tapi, andaikan saya adalah anak dari bangsa Mongol, pasti pernah ada
kebanggan besar dengan sejarahnya.
Di Abad pertengahan, para
sejarawan menyepakati bahwa bangsa Mongol adalah satu dari sekian kekuatan
besar yang memberi pengaruh luas di dunia. Bahkan Michael Hart dalam bukunya
100 Manusia paling Berpengaruh sepanjang sejarah menjadikan salah satu tokohnya
–yang akan kita ulas ini- sebagai pemegang peringkat ke 21, mengalahkan
Alexander, Napoleon, ataupun Hitler yang sama-sama pernah melakukan ekspansi
besar.
Sekitar tahun 1162 Masehi,
bangsa Mongol tak pernah mengira memiliki wanita yang melahirkan tokoh hebat
yang diabadikan sejarah. Bayangkan saja, penunggang kuda yang berpindah-pindah,
perang antar suku yang berkepanjangan, membuat mereka menjadi masyarakat yang
terpinggirkan. Lahirlah seorang anak bernama Temujin. Ia adalah anak dari
seorang kepala suku kecil diantara ratusan suku-suku Mongol yang ada kala itu.
Di masa kecilnya, ia mesti menyaksikan ayahnya dibunuh di depan matanya, diusir
dari kampong halamannya, hingga menjadi budak yang dibeli murah di kerajaan
Tangut. Masa kecilnya sungguh berkabut.
Masa remajanya juga tak kalah
lesu. Ia menjadi tawanan perang dan dipekerjakan layaknya hewan ternak di
sawah-sawah musuhnya. Gelang besi menjuntai di sekeliling lehernya. Penderitaan
itu bertambah getir ketika ia sengaja diberi makan setiap hari, agar kelak
ketika ia besar, musuh-musuhnya bisa membunuhnya. Sebab dalam adat Mongol,
seorang anak tidak boleh dibunuh, maka ia masih bertahan. Temujin tumbuh
menjadi seorang yang nuraninya mati, disiksa setiap hari, kabur lalu ditangkap,
lari lalu dipenjara.
Kebangkitannya bermula dari
keberhasilannya meloloskan diri dari musuhnya, untuk kemudian bergabung bersama
rekan ayahnya, Toghiril, dan bersama rekannya yang dulu pernah menolongnya,
Jamukha. Ia menjadi seorang pembunuh yang gesit, juga melakukan serangkaian
penyerangan kilat untuk membalas dendam pada musuh-musuhnya. Akhirnya terbit
sebuah keinginan di hatinya untuk menyatukan semua suku Mongolia dalam
kekuasaannya. Sebab ia tahu, bangsa Mongol sangat lihat menunggang kuda, pandai
memanah dan suka berperang. Hanya saja tak ada yang menyatukan mereka. Maka,
Temujin mengambil kesempatan itu. Ia satukan bangsa Mongol dengan kekuatan juga
kecerdasan taktiknya, hingga semua suku bersatu dalam benderanya.
Sejak saat itu, semua bangsa di
dataran Mongolia pada tahun 1206 bersatu untuk pertama kalinya di bawah
pimpinan Temujin, yang kala itu digelari oleh pengikutnya dengan nama; Kaisar
Semesta, atau dalam bahasa Mongolnya adalah, Genghis Khan. Masa muda yang
getir, penindasan dan penganiayaan yang menimpa dirinya membuatnya tumbuh menjadi
penguasa kejam.
Jangan ditanya berapa wilayah
yang telah ia kuasai. Dalam sekejap, pasukan Mongol menguasai Cina, Korea, Asia
Tenggara termasuk sebagian wilayah Indonesia, lalu menuju ke barat menyerang
Khilafah Islam sampai menjatuhkan Baghdad. Eropa pun ia hadapi, sampai-sampai
mengalahkan gabungan pasukan Jerman dan Bulgaria, hampir pula memukul mundur
seluruh dataran Eropa. Wilayah yang sangat-sangat luas pada masanya,
ditaklukkan dengan cara-cara yang mengerikan.
***
Di zaman yang berbeda, dari
bangsa yang berbeda, ada satu kisah yang hampir mirip dengan apa yang dialami
oleh Genghis Khan. Namun kali ini berasa dari bintang gemintang kaum Muslimin.
Tersebutlah di sebuah zaman ketika dinasti Ummayyah runtuh tahun 750 Masehi,
saat itu wangsa Abbasiyah meruntuhkan kepemimpinan wangsa Ummayah di Damaskus.
Sejak perebutan kekuasaan itu, banyak sekali anggota keluarga wangsa Ummayah
yang dikejar sampai ke sudut negeri, kemudian di bunuh. Saat itu fitnah
benar-benar mejangkiti dunia Islam.
Adapun ia, namanya Abdurrahman
bin Muawiyah, adalah satu dari sekian cucu Khalifah Bani Ummayah yang dikejar
oleh tentara-tentara Abbasiyah hingga ia kabur dari negeri ke negeri untuk
mencari bantuan dan pertolongan. Abdurrahman lari dari Iraq menuju Mesir,
hingga kemudian ia mendapat pertolongan dari pamannya yang berada di Maroko.
Berapa usianya saat itu? Masih sangat muda, 19
tahun, namun penderitaan yang ia alami begitu dalam, sehingga membuatnya
menjadi pribadi yang berbeda dengan remaja sebaya yang lain. Saat itu
Abdurrahman adalah satu-satunya cucu yang mengalir di nadinya darah
kepemimpinan Bani Ummayah. Ia bingung, sebab jika ia kembali ke timur, yakni ke
sekitar Arab dan Syam, ia akan dibunuh. Jika ia tetap berdiam di Maroko, ia
juga sedang diincar oleh pemimpin Khawarij saat itu, Abdurrahman bin Habib yang
juga membenci Bani Ummayah. Akhirnya, di saat genting seperti itu, ia melihat
satu tanah yang paling tepat untuknya; Andalusia.
Andalusia kala itu adalah tanah
kaya raya – yang kini adalah Spanyol dan Portugal- namun penduduk muslimnya
dalam keadaan terpecah belah, saling membanggakan suku dan bangsanya
masing-masing. Banyak sekali ragam suku yang menghuni negeri Andalusia, seperti
bangsa Barbar, bangsa Arab, dan bangsa Arab itupun terbagi-bagi menjadi suku-suku
yang saling bersengketa. Padahal di utara mereka, kerajaan Kristen sedang
bersiap meruntuhkan kekuasaan Islam di Andalusia. Namun Abdurrahman memilih
negeri itu, karena ia satu-satunya negeri yang terpisah oleh samudera, dan
disanalah banyak sekali orang yang loyal dengan Bani Ummayah.
Tahun demi tahun ia lewati.
Abdurrahman bin Muawiyah berhasil menyatukan bangsa-bangsa yang tadinya
bersengketa di Andalusia. Bayangkan, uniknya, di masa keberhasilannya yang
gemilang, usianya baru menginjak 25 tahun, sebuah pencapaian besar bagi seorang
pemuda. Dari Andalusia yang telah ia satukan, ia mengumumkan berdirinya kembali
negeri Bani Ummayah yang kedua, yang berdiri terpisah dari Kekhalifahan Bani
Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Karena kecerdasan dan kepiawaiannya
mengelola sebuah negeri dengan tangkas, suatu hari Khalifah Abu Ja’far
Al-Mansur –Khalifah Abbasiyah- bertanya pada menterinya, “Apakah kalian tahu
siapa itu Rajawali Quraisy?”. “Engkau wahai Amir” sahut mereka. “Tidak, bukan
aku, sebutkanlah nama-nama yang kalian kenal”, maka para menteri menyebutkan
nama-nama besar yang menjadi raja hebat di zamannya. “kalian semua salah”, kata
Al-Manshur, “Rajawali Quraisy adalah Abdurrahman bin Muawiyah”.
***
Antara Temujin dan Abdurrahman
bin Muawiyah, keduanya adalah bintang sejarah yang melukiskan kisahnya
masing-masing dengan caranya sendiri. Baik Temujin yang kelak dikenal dengan
Genghis Khan, ataupun Abdurrahman bin Muawiyah, sama-sama mengalami masa kecil
yang pahit; diusir, dikejar, diburu, diancam dan menjadi pelarian
bertahun-tahun. Namun ternyata di masa jaya mereka berdua, sikap yang mereka
anut begitu berbeda. Temujin menjadi kejam, Abdurrahman menjadi bijaksana. Apa
yang membedakan keduanya?
Bisajadi, jika Abdurrahman bin
Muawiyah bukanlah seorang Muslim, ia akan lakukan hal yang sama sebagaimana
Genghis Khan lakukan dengan kejam pada sepertiga daratan bumi. Namun, dalam jiwa
Abdurrahman bin Muawiyah bersemayam darah kepemimpinan, ketangkasan, kehebatan
politik Bani Ummayah yang telah dijinakkan sumbu-sumbu potensi kerusakannya
oleh Islam. Siapa tak kenal Abu Sufyan, Muawiyah, dan Bani Ummayah lain yang
dikenal dengan kehebatannya berpolitik dan berperang. Islam telah memberi
celupan tersendiri bagi Abdurrahman sehingga ia menjadi pribadi yang, walau
pahit masa lalunya, ia memaafkan dan tetap bijaksana.
Berbeda dengan Genghis Khan. Ia
percaya segala kekuatannya bersumber dari Dewa Tengri, sebuah kepercayaan yang
dianut oleh bangsa Mongol kala itu. Orangtuanya mendidiknya untuk membunuh
tanpa ampun, dan ia hidup di tengah sistem rimba yang membabi buta. Sehingga,
dengan adat-adat Mongol yang didominasi hal-hal kasar, ia menjadi penguasa yang
kejam. Dalam perangnya, Genghis Khan dan pasukannya membakar bangunan, meluluh
lantakkan sebuah kota, dan menyembelih penduduknya. Walau ia membuat hukum yang
terkenal dengan ‘Yasiq’ kemudian dijadikan dasar hukum bangsa Mongol, hukum itu
tetaplah memiliki banyak kelemahan dan menguntungkan mereka sendiri.
Islam, selalu saja memberi
celupan yang menyeimbangkan. Memberi angin segar di tengah padang gersang, dan
memberi api hangat di tengah kedinginan. Membuat yang lemah menjadi kuat,
mengubah yang kejam menjadi penyayang. Wallahu A’lam.
