Oleh : Edgar Hamas “Bahagia dan kelezatan yang sejati , ialah bilamana dapat mengingat Allah” Muslimide Online -...
Oleh : Edgar Hamas
“Bahagia
dan kelezatan yang sejati , ialah bilamana dapat mengingat Allah”
MuslimideOnline-Seseorang pernah kebingungan menjalani
kehidupannya, lalu ia datang pada salah
seorang Menteri terbaik di zaman Dinasti Abbasiyah, namanya Yahya bin Khalid Al-Barmaky,”Wahai
tuan, apakah bahagia itu?”, tanyanya dengan mengharap jawaban yang terbaik.
Yahya Al-Barmaky dengan singkat
menjawab,”Perangai yang tenang, ingatan yang kuat, pikiran yang Bijaksana, dan
sabar meraih apa yang kau inginkan!”
Kawan, aku yakin kau ingin bahagia.
Semua orang sudah akrab dengan kata bahagia. Bukankah itu tujuan mengapa
manusia hidup dan bekerja? Bukankah demi kebahagiaanlah manusia belajar ke
penjuru dunia dan mencari harta yang berlipat-lipat? Namun uniknya, Ilmuwan dan
para Filsuf yang jenius itu hingga hari ini malah makin kebingungan mencari
arti bahagia. Kenapa?
Sudah 2% saja orang barat yang
berangkat ke Gereja setiap Minggu. Mereka tak temukan bahagia dalam misa dan
doa-doa mereka di hadapan Uskup Agung. Sudah makin meningkat angka Harakiri,
tradisi bunuh diri yang dilakukan bangsa Timur jikalau tujuan hidup mereka
tidak terpenuhi. Depresi dan Stress berat sudah menjadi Peringkat 3 Penyebab
kematian di Dunia versi WHO. Stress mencari harta , ingin bahagia, dan di saat yang
sama hati mereka kering kerontang. Hancur berkeping-keping.
Bahagia yang mereka cari malah makin
menjauh!
Hendrik Ibsen, dia seorang bijak dari
Norwegia yang sering berkecimpung dalam Filsafat. Namun hingga kematiannya
tahun 1906 , ia samasekali tak menemukan arti sejati dari bahagia, makin putus
asa.
Sebelum
kematiannya, ia berkesimpulan mengenai bahagia yang terkesan putus asa,”Mencari
bahagia itu hanya menghabiskan umur saja! karena jalan untuk menempuhnya sangat
tertutup, setiap usaha untuk melangkah kesana senantiasa dihantam mundur.
Karena mula-mula manusia menyangka perjalanan menuju bahagia itu dekat, padahal
ia telah berjalan menuju jurang yang sangat dalam!”
Coba kawan berfikir, Filsuf yang
berfikir jauh ini telah putus asa mengenai kata ‘bahagia’. Bahagia di mata
Barat sudah tak berbentuk lagi. Semakin nafsu mencari definisinya, malah
semakin kabur maknanya!
Memang kalau nafsu yang sudah bicara, ‘Bahagia’
akan sangat berbahaya bagi orang lain. Contoh saja, Ada seorang Pahlawan yang
rela berjuang membela tanah airnya. Tujuannya mulia memang, ingin berjuang dan
mengorbankan jiwanya, itulah bahagia di benaknya, awalnya. Tiba-tiba setelah ia
memperoleh kemerdekaan dan jadi Pahlawan yang dihormati, ia melupakan bahagia
sejati yang ia fikirkan dahulu. Dengan gelar pahlawan, ia mencaplok wilayah
negara orang. Dengan gelar pahlawan, ia membantai orang tak berdosa. Atas nama
bahagia yang ternoda, ia menodai kemanusiaan!
Dan ternyata banyak juga Filsuf yang
sependapat dengan Hendrik Ibsen, salah satunya Thomas Hardy, Ariel Sharon dan
Netanyahu. Mereka mendefinisikan bahagia dengan pembantaian dan pembunuhan yang
menurut mereka adalah kesegaran bagi mata mereka.
Barat sudah mencari arti bahagia,
namun mereka gagal. Nah, sekarang Giliran Islam menghadirkan tokoh-tokohnya
untuk menjelaskan bahagia sebenar-benarnya. Lanjut?
Inilah agama yang menghadirkan
kebahagiaan sejati bung! Yeah! . Setiap Filsuf Muslim masing-masing punya
definisi tentang bahagia. Namun tak satupun dari mereka yang bilang bahagia itu
menghabiskan umur saja! Hehe, terlalu pendek akal kalau berkata seperti itu
kan? .
Dengan
sederhana, Ibnu Khaldun yang dikenal Eropa sebagai Bapak Peletak Dasar
Sosiologi berkata tentang bahagia,”Bahagia itu adalah tunduk dan patuh
mengikuti garis-garis yang ditentukan Allah dan perikemanusiaan.
Kebanyakan manusia mengukur bahagia
dari banyaknya harta, gelar yang tinggi, nama yang masyhur. Tolak ukur yang
membuat orang-orang sholeh tersenyum geli! Hehe, cukup dengan menjalankan
Ketentuan Allah, maka bahagia akan datang dengan sendirinya. Termasuk Harta dan
Kuasa juga!
Buya Hamka, tentu semua orang sudah
kenal Pembuat Karya Besar “Di bawah Lindungan Ka’bah” dan “Tenggelamya Kapal
Van Der Wijk” yang sudah difilmkan ini. Buya Hamka –Ulama dan Sastrawan
sekaligus Pahlawan Nasional Indonesia- pernah memimpin redaksi Majalah ‘Pedoman
Masyarakat’ yang eksis di tahun 1937. Suatu saat, ada Muballigh dari Bintuhan
bernama Oei Ceng Hien yang meminta Hamka menambah Rubrik khusus yang membahas
tentang Bahagia.
Maka setelah disetujui, Hamka sendiri
yang mengisi Rubrik khusus itu, hingga sekarang kau bisa temukan kumpulan
tulisannya tentang bahagia di buku “Tasawuf modern”. Hamka mencantumkan
Kebahagiaan hakiki pada beberapa hal;
Pertama, meninggalkan barang yang
terlarang. Pencuri, sekaya apapun dia. Aku jamin dan kau pun menjamin hidupnya
tidak akan damai, selamanya! kecuali ia bertaubat dan mengembalikan hak milik
yang dicuri. Kaupun begitu, selama kita memakai hak milik orang lain tanpa izinnya,
beneran deh, hidup ini serasa diselimuti rasa bersalah; kecuali yang hati dan
jiwa sudah mati.
Kedua, Menjalankan yang Telah
diperintahkan.
“Kita sholat biar apa sih yah?”, tanya
sang anak yang antusias. “Biar sehat nak, kan sholat kaya olahraga, jadi kita
bisa sehat”.
“Berarti kalau aku senam poco-poco aja
nggak papa ya yah? kan senam juga bikin sehat?”
Si Bapak Tersedak.
“Pak, kenapa sih minum Bir itu
haram?”, tanya si anak lagi. “Ya jelas lah nak, kan Bir itu bikin mabuk, nanti
kalau mabuk banyak maksiatnya lho”, jawab ayah dengan mantap.
“Tapi kalau aku minum birnya setengah
gelas aja kan nggak bikin mabuk yah? gimana dong?”
Si Ayah bingung menjawab lagi.
“Yah yah yah, Katanya Babi itu haram
ya? bener nggak sih? emang kenapa yah?” Tanya si anak lagi, kali ini ia
mengharap jawaban yang komplit.
“Wah iya dong nak. Kan Babi itu ada
Cacingnya , ada racunnya! Hi… Nanti bisa sakit lho!”
Si Bapak anggap itu jawaban yang
paling logis.
“Kalau babinya nggak ada cacing sama
nggak ada racunnya , berarti boleh dimakan dong yah?”
Sang Ayah menunduk, di batinnya dia
berfikir,”Nih Anak kok kepo banget ya? Moga-moga dia jadi ulama Fiqih deh!”
,hehe.
Setelah Anak dan Ayah ini datang ke
Rumah Guru Ngaji untuk Silaturrahim. Sang Anak menanyakan 3 hal yang sama. Sang
Guru tersenyum dan menjawab dengan bijak,
“Nak, Allah ciptakan perintah Sholat,
untuk menyaring; siapa yang tunduk pada perintah Allah, siapa yang tidak. Allah
haramkan bir untuk menguji manusia; mana yang taat pada Allah, mana yang
berpaling. Allah mengharamkan babi, semata-mata untuk menguji manusia; mana
yang menurut pada Ketentuan Allah, mana yang melanggar. Gitu aja kok repot?”
“Oooooo”, kata Bapak dan Anak.
Menjalankan perintah tanpa banyak
tanya, itulah sifat yang dimiliki Generasi Emas Sahabat di masa Nabi Muhammad.
Tak banyak tanya, tak banyak protes kaya Bani Israil. Mereka dengar, mereka
taat, mereka kerjakan, mereka dapat gelar : Generasi terbaik sepanjang zaman!
Ketiga, menjauhi yang Jahat dan Mengerjakan
yang Baik. Ingat betul kalimat ini, menjauhi tandanya; jangan dekati apalagi
mengerjakannya. Mengerjakan berarti; langsung laksanakan semaksimal kita, tanpa
menunda-nunda. Istilah seorang Ulama’ : Kalau mau mengerjakan kebaikan itu
mikirnya “Bagaimana nanti”; tidak usah pikir banyak , langsung laksanakan dan
raih pahala. Kalau mau mengerjakan maksiat mikirnya, ”nanti bagaimana?” ; pikirkan
akibat-akibat dan kerugian yang akan ditimbulkan dari maksiat tadi. Mantap!
Mantap! hehe.
Akhirnya , tuturkan sejenak syair dari
Hutai’ah ini..
Menurut Pendapatku, bukanlah
kebahagiaan itu pada mengumpulkan harta benda.
Tetapi Taqwa pada Allah, itulah
bahagia!
Taqwa pada Allah adalah bekal terbaik
yang dapat disimpan.
Pada sisa Allah saja Orang Bertaqwa
akan merasa bahagia!
