Muslimide Online - ANKARA – (25/2) Komunitas masyarakat Azerbaijan yang berada di ibu kota Turki memperingati 25 tahun hari pembantai...
MuslimideOnline- ANKARA – (25/2) Komunitas masyarakat Azerbaijan yang berada di ibu kota Turki memperingati 25 tahun hari pembantaian yang dilakukan oleh angkatan bersenjata Armenia di kota Khojaly.
Pembantaian ini merupakan pembunuhan jumlah besar etnis
Azerbaijan selama perang Nagarono-Karabakh. Menurut Azerbaijan Human Rights
Watch dan pengamat internasional lainnya, pembantaian dilakukan oleh angkatan
bersenjata Armenia dengan bantuan Regimen Rusia ke-366.
Dilansir dari laman [dailysabah.com] – Menyebutkan bahwa
peserta berkumpul di taman Azerbaijan yang berlokasi di kota Oran, provinsi
Ankara. Mereka mengadakan upacara peringatan bagi para korban serta mengutuk
aksi pembantaian massal tersebut.
Ikut berpartisipasi juga dalam acara peringatan ini,
puluhan orang Azerbaijan dan rakyat Turki. Hadir pula Duta Besar Azerbaijan
untuk Turki ,Baquerov dan Wali Kota Oran ,Mustafa ‘Aq serta Ketua Organisasi
Persahabatan Turki-Azerbaijan, Nejdet Ornovan.
Duta Besar Azerbaijan, Baquerov mengatakan dalam acara
tersebut, “Kita terbebani dengan ingatan kelam pembantaian Khojaly, yang mana
kita berharap agar itu menjadi episode terakhir dari perlakuan keji Armenia
yang terjadi selama 100 tahun.” Sementara Wali Kota, ‘Aq mengatakan bahwa luka
yang dialami oleh warga Azerbaijan masih membekas sejak 25 tahun yang lalu.
Disebutkan bahwa tentara Armenia melakukan aksi
pembunuhan massal Khojaly selama dua malam, yaitu pada tanggal 25-26 Februari
tahun 1992 di wilayah Karabakh.
Tercatat korban pembantaian berjumlah 613 warga sipil
Azerbaijan muslim; termasuk diantaranya 106 wanita, 83 anak-anak, dan 70 orang
tua, serta 483 orang mengalami luka parah, 1.275 orang menjadi sandera, dan
hilangnya 150 orang dari mereka.
Armenia telah menjarah wilayah Karabakh sejak tahun 1992,
lalu mencuatlah konflik antar dua negara setelah berakhirnya era Uni Soviet.
Pada saat itu juga kelompok separatis, yang menghendaki atas pemisahan diri
dari wilayah Azerbaijan, mengambil alih daerah pegunungan yang dalam
pertempuran berdarah telah menewaskan sekitar 30 ribu jiwa.
(Red/Widhy)
