Oleh : Edgar Hamas Muslimide Online - Sama-sama muda, keduanya bertalenta. Kesemuanya merupakan bingkai yang merangkum beribu peson...
Oleh : Edgar Hamas
MuslimideOnline- Sama-sama muda, keduanya bertalenta. Kesemuanya merupakan bingkai yang merangkum beribu pesona yang unik dan menawan. Lah, tapi yang satu lahir di komik Marvel, yang satu lagi lahir di madrasah peradaban Nabi Muhammad. Yang satu muncul tiba-tiba dan langsung menyeruak media, ditiru banyak penggemar dan muda-mudi dalam menjalani laku hidup, yang satu kini namanya ‘diredupkan’ sejarah yang kian hari kian terbalik. Kejam nian.
Spider-Man dan Usamah bin Zaid.
Kesemuanya memiliki prestasi dan cakupan popularitas yang besar. Keduanya
sama-sama berkiprah dalam jagat kepahlawanan, heroes, bravery, dan
keduanya ada sebagai produk sebuah misi. Ya, misi yang berlawanan.
Biar saya perkenalkan, yang satu,
namanya Spider-Man alias Peter Parker. Mahasiswa tekun yang mencintai
seorang bernama Marry Jane. Kehidupannya rapuh, ia hidup dari cinta semu dan
karena sebuah keberuntungan, ia digigit seekor laba-laba misterius saat sedang
studi ke Laboratorium Biologi. Seketika ia berubah menjadi kekar, tak perlu
lagi berkacamata, laku hidupnya berubah 180 derajat, hingga akhirnya ia memesan
baju ketat dengan lambang laba-laba di dada, bergelantungan di dinding-dinding
New York, menangkap penjahat, sesekali bertemu Marry Jane dan… sesuatu yang
tidak halal terjadi.
Dan
(anehnya) dia menjadi pahlawan
Perkenalkan, yang satu ini wajahnya
hitam, badannya kekar dan ia bukan apa-apa sebelumnya. Pemuda ini terus belajar
dan mencintai Cintanya Sang Maha Cinta. Ia bukan anak saudagar, tapi sebuah
risalah telah datang dan mengubah segalanya tentang arab, termasuk dirinya.
Masa kecilnya telah diasuh oleh Seorang Guru Peradaban, karakter, jiwa,
perangai, hingga taktik dan keberanian telah dikecapnya, bersama Ayah yang juga
kesayangan nabi. Hingga, usia 17 tahun hidupnya, mempertemukannya dengan takdir
kepahlawanan yang spektakuler ; memimpin balatentara terbaik melawan Imperium
terbesar saat itu, Romawi.
Dan (jelaslah) dia menjadi pahlawan. Pahlawan
sungguhan.
Namun bukan dunia jika tidak penuh tipu
daya. Bandingkan, Spider-Man yang pahlawan fiktif itu menjadi poster dan
cover-cover majalah, merembes menjadi ikon kepahlawanan bagi anak-anak.
Gambarnya dipasang di wallpaper computer, topengnya dijual di
pasar-pasar, dari Ujung Spanyol sampai papua Nugini. Seorang tokoh fiktif yang
kemudian lahir tiba-tiba, dan langsung terkenal, membawa sebuah misi; Mind
Control, menjadi mindset ikon kepahlawanan.
Hingga terurai dalam sebuah riset, 75%
anak-anak kecil menyatakan pertama kali melihat adegan perzinaan, adalah ketika
mereka menyaksikan film Spider-Man. Memang benar ia Pahlawan, pahlawan bagi
Mafia Pengeksploitasi moral.
Spider-Man
adalah produk Perang Pemikiran.
Mengenaskan.
Dan, disudut yang lain. Nama Sang
pahlawan muda yang begitu populer di kalangan langit itu terkubur di pentas
ikon kepahlawanan. Bahkan kita sendiri kadang-kadang tak tahu siapa Usamah bin
Zaid. Ikon Superhero muda yang menggelora itu ditenggelamkan pasar dan
kepentingan bisnis yang mementingkan untung, hingga generasi ini lebih peka
mendengar Spider-Man, Power Ranger dan kawan-kawannya ketimbang Superhero
Usamah bin Zaid, Muzhaffar Quthuz, Khalid bin Walid, atau Muhammad Al-Fatih.
Padahal Usamah bin Zaid adalah cetakan generasi emas
Islam.
Ini bukan sebuah permainan semata.
Spider-Man, menurut saya adalah salah satu sampel dari sekian ratus ikon bohong
yang digunakan untuk menelikung orientasi generasi. Wah wah, nampaknya terkesan
dalam sekali ya? Ya, memang benar kan? Keteladanan memegang faktor utama dalam
membentuk karakter individu. Jika apa yang dilakukan legenda-legenda fiktif itu
dilihat, diperhatikan, diamalkan, wah.. sudah jadi generasi ompong namanya.
Berkhayal tiada batas, sementara peradaban terus berlari.
Alhamdulillah, setelah sekian lama
generasi ini ditantang tontonan superhero khayalan, suatu kali saya menjumpai
anak-anak kecil di pusat kota, sedang bermain perang-perangan. Yang satu
berteriak,
“Aku
jadi Nabi Sulaiman!”
“Aku
pokoknya jadi Shalahuddin!”
“Ah,
jangan… itu aku….!”
Ayah
dan Ibu mereka tertawa renyah. Mensyukuri.
Anak-anak TK itu bermain
pedang-pedangan, seru sekali nampaknya. Alhamdulillah. Saya bukan bersyukur
karena mereka main perang-perangan, melainkan tingkah polos mereka yang sudah terpatri
deretan nama-nama Agung, mereka telah disuapi hikayat dan cerita kepahlawanan
yang agung nan semerbak wanginya….. yang kelak akan mereka teladani , hingga
mereka lahir kembali sebagai penerus keemasan pendahulunya.
Antara Spider-Man dan Usamah bin Zaid.
Keduanya terkanal. Yang satu terkenal di penjuru media karena film dan
komik-komik, yang satunya berbeda, ia terkenal di penjuru langit karena
keshalihan dan keluhuran budi pakertinya.
Antara Spider-Man dan Usamah bin Zaid,
Keduanya hebat, yang satu hebat bohongan yang dijadikan proyek uang bagi
Bisnisman tak bertanggungjawab, hebat main sarang laba-laba dan pandai main
ayunan di dinding-dinding kota. Yang satunya hebat, baru 17 tahun sudah
memboyong kemenangan spektakuler memukul Mundur Romawi di masa-masa tenarnya.
Hebat Karena ditunjuk menahkodai Sahabat Senior, Umar bin Khottob, Abdurrahman
bin Auf dan sahabat superhero lain juga.
Antara Spider-Man dan Usamah bin Zaid.
Keduanya membawa misi yang berlawanan. Yang satu hanya tokoh fiktif namun
menjerumuskan orientasi sebuah generasi. Yang satunya membawa misi kemanusiaan,
mengantarkan manusia dari penghambaan pada manusia menuju pada penghambaan pada
Tuhannya Manusia, misi cerdas yang unik dan menawan.
Antara Spider-Man dan Usamah bin Zaid,
keduanya superhero, entah di alam nyata atau hanya fiktif belaka. Dan
keduanya adalah perlambangan perang yang takkan pernah usai , antara kebenaran
dan kebathilan. Anak-anak yang bermain perang-perangan dengan menyebut deretan nama
Kamen Raider dan Power Ranger tentu sangatlah berbeda dengan mereka yang sudah
hafal nama Ahmad Yassin, Yahya Ayyash, Imad Aqil dan memerankannya dalam petak
umpet intifadhah mereka.
Kini dunia menunggu,
apakah akan lahir generasi baru yang terinspirasi Superhero gadungan yang
berwarna-warni, ataukah dunia akan terperangah dengan kelahiran kembali
generasi emas itu, generasi yang terinspirasi dari laku bijak dan luhur
pendahulunya, yang mengecap jejak-jejak yang telah ditempuh leluhur besar
mereka, para manusia yang berdiri tegak mengumpulkan kerikil dan serakan hikmah
menjadi bangunan kokoh bernama peradaban. Peradaban sungguhan tentunya.
