“Sebagian besar Al-Qur'an berisi kisah. Sebagian besar kisahnya adalah kisah para Nabi. Kisah para Nabi itu bukan ketika merek...
“Sebagian besar Al-Qur'an berisi kisah. Sebagian besar kisahnya
adalah kisah para Nabi. Kisah para Nabi itu bukan ketika mereka telah menua,
namun sungguh ceritera itu ditulis indah dalam Qur'an ketika mereka remaja.”
***
-MuslimideOnline Kata siapa Al-Qur’an memiliki 6666 ayat? Sejatinya jika kita mau
menghitungnya, maka akan kita temukan Ayat Al-Qur’an berjumlah 6236 ayat,
keseluruhannya adalah petunjuk hebat nan paripurna yang mengantar manusia dari
tak tau menahu sampai menjadi sokoguru.
Adapun mengapa ada yang mengatakannya 6666 ayat, hal itu dilandasi
dari kalimat cerdas yang terucap lihai yang diriwayatkan Said Jubair bin Abbas,
dari Ulama besar Ibnu Abbas radhiallahu anhu, ketika beliau berkata, “Al-Quran
ini, 6000 ayatnya adalah kisah, 600 ayatnya berupa tanda kebesaran Allah, 60
ayatnya adalah aturan mu’amalah, sedangkan 6 ayatnya adalah berisi hukum-hukum
hudud.” Namun kuncinya, tidak mesti satu ayat mengandung satu makna bukan?
Kadang satuayat begitu kaya mengandung kisah, muamalah juga hudud. Seperti
itulah Al-Qur’an, kaya!
Namun sahabat, tulisan ini akan menggambarkan pelita yang belum
terungkap, hati kita begitu berdebar dan agaknya takjub bahwa Al-Qur’an yang
setiap hari kita baca ini didominasi isinya dengan kisah, kisah, lalu kisah,
kemudian kisah lagi, hingga hampir dua pertiga isi Al-Qur’an adalah kisah dan
sejarah.
Memukau!
Sebenarnya kisah-kisah di Al-Quran bicara tentang siapa? Tentang
apa? SubhanAllah, ternyata sebagian besar kisah dalam Quran ini adalah ceritera
pemuda tangguh yang mengemban tugas memperbaiki dunia, dan di satu sisinya,
mengisahkan pemuda ringkih dan rapuh, jangankan membela islam, mereka malah
menyumpah serapah risalah.
Al-Qur’an mengantar ummatnya dengan kisah-kisah pemuda, agar kapanpun,
siapapun dan bagaimanapun keadaan ummat ini, selalu terbit semangat muda yang
bergelora untuk menjaga panji ummat ini hingga tak akan jatuh, sampai Israfil
meniupkan sangakakalanya, kelak di akhir umur dunia.
Inilah remaja dan pemuda yang terukir indah sekaligus pedih dalam
Al-Qur’an, kita ingat-ingat, lalu kembali me-review, sejurus kemudian
mari mengambil hikmah dengan segera, agar intisari ilmu tak menguap-uap di atas
kepala lalu hilang layaknya asap yang ditelan awan.
HABIL YANG
GIAT BERKARYA, QABIL YANG MALAS BEKERJA
Sahabat tau siapa penghuni bumi
pertama? Sudah terkenal kisahnya, dan tak diragu lagi bahwa Nabi Adam a.s dan
Siti Hawa, adalah penduduk awal bumi yang menakjubkan ini. Dalam Al-Qur’an,
kisah Nabi Adam dan Siti Hawa dikemas sedemikian rupa, digambarkan dengan
begitu indah nan berhikmah, agar kita bisa mengambil pelajaran.
Mari kita simak, dalam skanario
besar hidup Nabi Adam, beliau mempunyai anak yang terabadikan namanya dalam
sejarah. Yang satu dikenang sebagai pahlawan, yang satunya disebut pembunuh
pertama di muka bumi. Mari kita berkenalan dengan mereka; Habil juga Qabil,
kakak adik yang di usia remaja mereka, Allah rekamkan jejaknya hingga hari ini
kita dapat mengambil hikmah sejarah darinya.
Inilah kisah remaja perdana di
wajah bumi, dalam indahnya untaian Qur’ani:
“Ceriterakanlah
kepada mereka kisah kedua putra Adam -Habil dan Qabil- menurut yang sebenarnya,
ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari
mereka berdua -Habil- dan tidak diterima dari yang lain –Qabil-. Ia berkata
(Qabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya
Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".
"Sungguh
kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali
tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku
takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam."
"Sesungguhnya
aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu
sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah
pembalasan bagi orang-orang yang lalim."
Maka hawa nafsu Kabil menjadikannya menganggap
mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di
antara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak
menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia
seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: "Aduhai celaka
aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat
menguburkan mayit saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara
orang-orang yang menyesal.
(Al-Ma’idah : 27-31)
Saya tergelitik membuat sebuah kalimat untuk meringkas hikmah nan
bermartabat ini, beginilah bunyinya :
“Jadi
pemuda itu yang mempersembahkan apa yang terbaik untuk Allah, seperti Habil
yang giat dan tekun memilah persembahan teragung untuk Allah.
Jangan
jadi pemuda malas yang bekerja enggan, berkarya susah, ketika melihat yang lain
sukses dia malah mendengki, seperti Qabil yang tak suka kesalihan Habil, maka
ia membunuhnya.”
Habil bekerja giat, optimistis dan tak setengah-setengah dalam
berjuang, maka Allah mencintai remaja tipe yang seperti ini. Remaja yang punya
orientasi melaksanakan yang terbaik dan berkontribusi yang terbaik akan
dicintai lingkungannya, dihormati orang-orang di sekelilingnya dan diberi
penghargaan dari Allah atas jerih payahnya. Habil, beliaulah inspirasi remaja
yang tak setengah-setengah berkontribusi,
Qabil, lihatlah dia, sudah pendengki, pemalas, enggan pula
berkarya. Habil yang seorang peternak, bersemangat mencari hewan ternak terbaik
untuk dipersembahkan pada Tuhannya, Qabil malah beralasan banyak, abai dan tak
mau bersusah-susah, maka ia yang bekerja sebagai petani, memilih hasil panen
yang sudah jelek, busuk, yang aromanya sudah memuakkan seakan tak punya harga.
Remaja dengan tipe seperti ini, jangankan cinta Tuhan, cinta wanita pun
sepertinya tak bisa diraihnya.
KAN’AN SI REMAJA PEMBERONTAK
Dalam
lintasan sejarah, Nabi Nuh adalah Nabi yang begitu sabar, rentang waktu 900 tahun
untuk berdakwah beliau lalui dengan berbagai intimidasi dan celaan. Dari awal
dakwahnya hingga bahteranya berlayar melewati bumi yang tertutup air bah ,
hanya 70 orang yang menyambut seruannya untuk menyembah Allah.
Naasnya lagi,
keluarga beliau menjadi salah satu penentang kerasnya. Sang anak yang bernama
Kan’aan, sudah diingatkan berkali-kali masih saja ia tak gunakan nurani. Sudah
dinasehati berulang-ulang tetap saja fikirannya berkabut kelam penuh dendam.
Inilah karakter remaja nakal dan pembangkang. Kan’an adalah ibrah yang mesti
kita ambil; bahwa Ayah yang shalih tidak menjamin anaknya kelak menjadi shalih
pula.
Kan’an
terpengaruh lingkungan yang buruk, ia dididik masyarakatnya untuk membenci
ayahnya sendiri, mengutamakan egoisme dan nafsu belaka, sehingga puncaknya,
kebenaran walau terlihat jelas di hadapan mata, tak ada arti baginya selain
harus menjauh dan mencela.
Beginilah
Al-Qur’an menceritakan dengan singkat namun memikat, surat Hud ayat 42 hingga
43, “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam
gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di
tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu berada
bersama orang-orang yang kafir."
Lalu
Kan’an dengan kedengkiannya menjawab ketus, "Aku akan mencari
perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata:
"Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah saja Yang
Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah
anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.”
Maka
selesailah kisah hidup Kan’an, bukannya berakhir baik, ia malah membantah
nasihat ayahnya untuk naik bahtera, berbekal keangkuhan ia bertekad menaiki
puncak gunung yang dia kira akan menyelamatkannya dari air bah, naas, seribu
naas, wajah bumi tertutup semua dengan birunya samudera, bukan sehari dua hari,
namun bertahun-tahun lamanya. Itulah nasib keangkuhan, merasa menang, akhirnya
jadi pecundang di akhir skenario. Kasian kasian kasian.
INI ISMAIL, REMAJA DENGAN AQIDAH PALING MANTAP
Tipe
remaja yang satu ini adalah yang ‘The Best’. Nabi Ismail yang digambarkan
sebagai seorang pemuda berhati bersih, terabadikan dalam Qur’an dengan begitu
nyata, dan jujur mengharukan. Jika ini dibuat film, dijamin orang-orang yang
menontonnya akan menangis, bagaimana tidak? Nabi Ismail yang lama tak jumpa
dengan ayahanda tercinta, setelah melepas rindu, ayahnya, Nabi Ibrahim diperintahkan
Allah untuk menyembelihnya. Ah, kisahnya sungguh berhikmah, beginilah Al-Qur’an
melukiskannya:
“Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup
berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya
aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar".
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim
membaringkan anaknya atas pelipisny), nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami
panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi
itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang
yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan
Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Quran Surat
Ash-Shaffat, ayat 102 sampai 107)
“Seorang pemuda yang mempersembahkan nilai-nilai
pengorbanan dan pembelaan dengan gambaran yang sangat indah dan menakjubkan”,
tulis Syaikh Muhammad Said Hawwa dalam bukunya ‘Shina’ah Asy-Syabaab’ “Hal ini
berbekas pada keimanan yang sempurna, sehingga dia mempersembahkan dirinya
untuk disembelih. Apakah ada buah keimanan dan pengorbanan yang melebihi ini?
Dialah pemuda yang bernama Ismail, yang berjiwa muda yang bertaqwa dan suci.”
Sungguh Ismail muda menjadi inspirasi generasi muda
Islam hari ini di Palestina dan dunia islam seluruhnya. Bagaimana tidak?
Keimanan yang tinggi membuat seorang pemuda menjadi kokoh prinsipnya, gaya
fikirnya melampaui zamannya, kedewasaannya begitu matang, dan sikap ketaatannya
begitu totalitas.
Satu catatan penting yang mesti kita petakan dengan
benar. Kan’an anak nabi, Ismail juga anak nabi, namun apa yang membedakannya?
Kedua remaja ini hidup dalam gaya yang berbeda. Kan’an mengikuti hawa nafsu,
sedangkan Ismail mengikuti kemauan risalah. Kan’an menjadikan angkuh sebagai
prinsip utamanya, Ismail menjadikan taat menjadi pondasi cara berfikirnya.
Banyak lagi kisah dan inspirasi remaja dalam Al-Qur’an
yang sangat sayang jika tidak kita ulas dengan seksama. Akan banyak lagi
tipe-tipe remaja, masalah dan cara solusinya yang tertuang menakjubkan dalam
Al-Qur’an, seperti kisah remaja Nabi Yusuf, inspirasi hikmah Nabi Yahya muda,
dan yang paling fenomenal adalah Ashabul Kahfi. Semoga di lain kesempatan bisa
kita ulas bersama, hingga hati makin hidup, hikmah makin terkumpul, dan
keyakinan pada Al-Qur’an makinlah Berjaya.
Untuk memudahkan kita menjelajah hikmah ini, ayat-ayat
ini recommended untuk kita selami samudera hikmahnya; “Sebagian besar Al-Qur'an berisi kisah. Sebagian besar kisahnya
adalah kisah para Nabi. Kisah para Nabi itu bukan ketika mereka telah menua,
namun sungguh ceritera itu ditulis indah dalam Qur'an ketika mereka remaja”
1.
Ibrahim
muda, mengajak bangsanya berlogika untuk menemukan keesaan Tuhan (Al-Anbiya
ayat 60)
2.
Yahya
muda, semenjak kecil telah dikaruniai hikmah dan kebijaksanaan. (Maryam ayat
15)
3.
Nabi
Yusuf menjadi pejuang kebenaran semenjak mudanya (Yusuf ayat 22)
4.
Ismail
muda, begitu hebat meyakini perintah Allah dan taat pada ketentuan-Nya (Ash-Shaffat
ayat 102-107)
5.
Pemuda
Ashabul Kahfi, legenda remaja yang mempertahankan Aqidah (Al-Kahfi : 13-15)
6.
Inspirasi
Pemuda Dai di Kisah Ashabul Ukhdud (Al-Buruj)
