Oleh : Edgar Hamas | @edgarhamas “Nyanyian-nyanyian pesta kembali menjadi tangisan-tangisan duka, Dan berita duka disebarkan d...
Oleh : Edgar Hamas | @edgarhamas
“Nyanyian-nyanyian pesta
kembali menjadi tangisan-tangisan duka,
Dan berita duka disebarkan dia
antara gemerlapnya pesta”
MuslimideOnline- Syair di atas diutarakan oleh Amir Asy Syu’araa, Ahmad Syauqi, tepat ketika ia menyadari bahwa khilafah Utsmaniyah telah runtuh di Istanbul. Dunia arab dan negeri-negeri muslim begitu terguncang dengan robohnya rumah besar kaum Muslimin yang telah menanungi dunia Islam 4 abad lamanya. Di saat yang sama, gemuruhlah Eropa dengan dendang hura dan semarak cita, terbahak dalam pesta-pesta meriah setelah tahu bahwa musuh besar mereka telah terbenam bersama kenangan-kenangan kemegahan. Utsmaniyah, singa penguasa dua benua dan dua samudera itu, telah mati.
Khilafah
Utsmaniyah, jauh sebelum 3 Maret 1924 –tepat 93 tahun yang lalu- telah lama
dirongrong ancaman. Hutang yang melilit dan krisis keuangan membuat Khilafah
kemudian banyak meminjam hutang dari banyak negara Eropa. Perang Dunia I pula
menyisakan aroma duka; wilayah yang dibagi-bagi oleh Rusia, Italia, Inggris dan
Italia. Perang antar etnis disulut oleh intelijen Barat untuk membuyarkan
proyek persatuan Islam yang digadang Sultan Abdul Hamid. Setelah reda satu
pemberontakan, terbit lagi pemberontakan lain di tempat yang berbeda.
Pada
tahun 1922, sebenarnya, kelompok Yahudi Dunamah yang masuk dalam gerakan
nasionalis Turki pimpinan Mustafa Kamal, telah berhasil mengubah Khilafah dari
kekuasaan yang luas menjadi simbol yang tak bisa melakukan apa-apa. Kemudian
tak lama setelah itu, mereka copot jabatan Sultan Wahiduddin Khan –Sultan terakhir
Khilafah Utsmaniyah-, namun belum berani menghapus sistem Khilafah yang ada.
Sebab mereka paham, menghapus Khilafah saat itu akan membangkitkan geram amarah
dunia Islam dan akan berakhir dengan perang.
Barulah
setelah itu, mereka mengangkat keponakan Wahiduddin Khan yang tak memiliki
pengaruh dan kekuatan samasekali. Mustafa Kamal bahkan berlebihan dalam
menghina kehormatannya sebagai khalifah Umat Islam. Ia mengeluarkan perintah
kepada walikota Istanbul untuk menghapus semua bentuk kebesaran Khalifah dan
rombongannya ketika melaksanakan shalat. Pun di saat yang sama, gaji Khalifah
dijatuhkan menjadi nominal yang sangat kecil, pengikutnya diwajibkan menjaga
jarak darinya, dan para Ulama penentang Mustafa Kamal harus hengkang dari
Istanbul.
Menjadi
klimaks dari proyek nista para kelompok Mustafa Kamal dengan banyak Yahudi di
dalamnya, pada satu hari tertanggal 3 Maret 1924 yang pilu. Dalam sidang umum
perwakilan rakyat Turki –yang didominasi oleh kelompok Mustafa- dicetuskanlah
kebijakan untuk menghapus sistem Khilafah. Kebijakan ini mengandung dua
perintah besar; melakukan pemisahan agama dan negara, dan melengeserkan Sultan
dan memindahkan kekuasaan pada Mustafa Kamal.
Tak
lama setelah itu, diproklamirkanlah sebuah negara kosong dengan janji-janji
kosong dan cita-cita yang kosong oleh Mustafa Kamal. Rakyat Turki yang telah
dibohongi olehnya begitu terkesima dan silau pada langkah-langkahnya. Sejarawan
dibayar untuk menulis kehebatan Mustafa sebagai Attaturk, Bapak
Pembangun Turki.
Padahal
setelah itu, setelah ia mendustai rakyat Turki, makinlah ia di atas angin;
leluasa dengan congkak menindas para Ulama, menciderai simbol-simbol suci Umat
Islam, hingga puncaknya, ia dengan suara meninggi berani-beraninya menistakan
Al Quran. “Kita sekarang beda di abad-20 dan tidaklah mungkin kita berjalan di
belakang kitab yang membahas buah Tin dan Zaitun!”. Orang yahudi yang berada di
belakangnya bertepuk tangan sembari berseloroh angkuh, “Kami telah serahkan
negara pada Attaturk, dan kami buang Ka’bah untuk orang Arab.”
Apakah
Perlu Bagi Kita untuk Mengenang Keruntuhan Ini?
Tidak
sepatutnya seorang muslim melupakan sejarah megahnya, namun di saat yang sama
tak layak baginya untuk meronta mengenang masalalu diiringi tangisan sendu
tanpa mencoba mengambil hikmah. “Tak ada harapan bagi Umat yang lalai
masalalunya, tidak ada masa depan bagi Umat yang tak tahu kebesarannya. Namun
berhenti saja pada masalalu dengan tangis duka adalah tanda kemalasan,
sebagaimana di saat yang sama, tak peduli dengan sejarah adalah sebuah
kedengkian jua kebodohan”, pesan DR Mustafa As Siba’i dalam Kitab Min Rawa’i
Hadharatina.
Runtuhnya
Khilafah Utsmani, mengajak kita untuk menyelam dalam ramainya arus peradaban.
Ternyata, kita pernah, bahkan beberapa kali runtuh dalam rentang 1438 tahun
umur Umat ini , namun keadaan hari ini seakan mengabarkan pada kita bahwa everything
is ok, bahwa semua baik-baik saja. Tidak, keruntuhan Utsmani jadi contoh
bahwa Umat Islam bisa jatuh terperosok jika menjauh dari rahasia kemenangan
kita. Apa itu?
DR
Raghib Sirjani mengungkapkan, bahwa jatuhnya sebuah peradaban tidak terjadi
tiba-tiba tanpa dirasa. Lebih jauh dari itu, keruntuhan disebabkan oleh proses
yang sangat panjang, yang bermula dari: jauhnya manusia dari Islam. Ketika
retak sendi kemenangan, maka pupus harapan, kekayaan tak ada arti, kemegahan
hanya ilusi, sementara jurang gelap itulah sebenarnya yang menghampiri.
Tidak
akan cukup satu tulisan untuk mendeskripsikan betapa kacaunya keadaan Umat
Islam saat Khilafah Utsmani runtuh, namun bisa dipastikan alasan utamanya
adalah hilangnya Islam di hati kaum Muslimin. Dan datanglah kemudian, mahar
yang harus dibayar untuk menuju kebangkitan kembali, adalah kembalinya kita
pada Islam sebagaimana generasi Sahabat Nabi. Biarlah Imam Malik mengakhiri
tulisan ini dengan pesan gagahnya, “Tak akan bangkit Umat ini kecuali dengan
perkara yang telah membangkitkan generasi sebelum mereka.”
Wallahu
A’lam
Referensi
Untuk Menelaah Keruntuhan Khilafah Utsmani :
1.
Ad Daulah Utsmaniyah, DR Ali Muhammad Asy Shallaby.
Mu’assasah Iqra, Kairo.
2.
Nakbah Al Ummah Al Arabiyah bi Suquth Al Khilafah
Al Utsmaniyah, Muhammad Al Khair Abdul Qadir. Maktabah Wahbah, Kairo.
3.
Dirasat Li Suquth Tsalatsina Daulah Islamiyah. DR
Abdul Halim ‘Uwais. Mu’assasah Iqra, Kairo.
