Oleh : Ilham Martasyabana, pelukis Sirah Nabawiyah. Muslimide Online - Peristiwa Hudaibiyah yang terjadi hari senin di awal bulan...
Oleh : Ilham Martasyabana, pelukis Sirah Nabawiyah.
MuslimideOnline-Peristiwa
Hudaibiyah yang terjadi hari senin di awal bulan Dzulqa’dah tahun keenam
Hijriyah (H) merupakan peristiwa bersejarah kaum Muslimin. Bukan hanya karena
kemenangan ‘tersembunyi’ yang diraih kaum Muslimin, dalam peristiwa ini
keunggulan komunikasi dan diplomasi Rasulullah SAW juga begitu nampak.
Rasulullah bersama sekitar 1400-1500 orang sahabatnya berangkat untuk
menunaikan ibadah Umrah ke Makkah. Tulisan ini bermaksud mengintip adegan
komunikasi-diplomasi dari kaum Muslimin saat berhadapan dengan Quraisy. Ketika
itu kaum Quraisy melarang rombongan kaum Muslimin memasuki Makkah. Kaum
Muslimin pun tertahan di wilayah Hudaibiyah, lalu terjadilah diplomasi dengan
utusan-utusan Quraisy. Salah satunya dengan Budail.
Utusan
pertama kaum Quraisy untuk menghentikan langkah kaum Muslimin adalah Budail bin
Warqa Al-Khuza’i. Ketika Budail menjadi utusan Quraisy untuk berunding dengan
Rasulullah dan kaum Muslimin, ia dipilih lantaran orang yang dekat hubungannya
dengan Rasulullah. Dalam mind-selfnya, kaum Quraisy menganggap Budail bisa
melunakkan tekad Rasulullah yang tetap teguh ingin berumrah bersama
rombongannya itu. Dalam teori interaksionisme simbolik, mind atau pikiran
bukanlah produk individu semata melainkan hasil dari proses dan interaksi
sosial diri. Tidak mungkin ada pemikiran jika tidak ada interaksi maupun proses
sosial dalam bentuk apa pun. Pikiran ‘punya dunianya’ lantaran ada interaksi.
Quraisy tahu betul Rasulullah adalah figur yang sangat memuliakan hubungan,
bukan melulu kekerabatan melainkan juga persekutuan serta persahabatan. Semua
individu-individu pembesar Quraisy punya pikiran yang sama tentang hal ini.
Quraisy pun memutuskan Budail-lah orang yang tepat berdialog dengan Rasulullah.
Dalam
konteks ini, Budail adalah simbol seorang utusan Quraisy di satu sisi dan orang
yang dekat hubungannya dengan Rasulullah SAW di sisi lain. Meskipun masih
musyrik, ia tidak memusuhi beliau. Ia merupakan salah seorang sesepuh Bani
Khuza’ah yang bijaksana. Bahkan ia memberikan kabar kepada Nabi SAW, “Mereka (Quraisy)
siap berangkat ke Hudaibiyah dengan membawa pasukan, mereka hendak memerangi
engkau dan menghalangimu masuk ke Masjidil Haram.”
Menarik
di sini jika maknanya diinterpretasikan: Rasulullah hanya bersabda sekali saja
bahwa beliau dan sahabat-sahabatnya tidak datang untuk berperang melainkan
untuk berumrah secara damai. Rasulullah juga memberikan pilihan agar Budail
bisa membujuk mereka. Kalau Quraisy tetap melarang, itu tandanya mereka telah
melarang orang-orang yang akan mengagungkan Baitullah. Adapun jika kaum
Muslimin diizinkan mengunjungi Baitullah, maka itu kesempatan kaum Muslimin
memperlihatkan risalah Islam di depan Ka’bah. Kedua pilihan itu sama-sama akan
menjadi pembicaraan seantero jazirah Arab. Kendati demikian, jika kaum Quraisy
mengajak berperang, maka Rasulullah dan para sahabatnya pun siap melayani
mereka hingga Allah menentukan kehendakNya. Makna dari lisan Rasulullah saat
berdiplomasi, justru Islam sedang memperlihatkan kekuatannya dengan cara yang
damai namun bisa memukul telak Quraisy tanpa peperangan. Citra Quraisy dalam
pandangan masyarakat Arab seolah dipertaruhkan, dan celakanya bagi Quraisy, ini
menjadi buah simalakama.
Budail
memahami semua yang disampaikan oleh Rasulullah. Sebagai pria yang bijaksana ia
langsung kembali lagi kepada Quraisy, ia kenal betul Muhammad SAW adalah figur
yang tidak pernah berdusta. Diplomasi Budail dan Rasulullah adalah simbol,
sedangkan maknanya ternyata mengundang uraian interpretatif dari figur hingga
kulturnya.
Walhasil,
laporan hasil Budail ke kaum Quraisy adalah perkataan “Wahai kaum Quraisy,
kalian begitu terburu-buru terhadap Muhammad. Ia tidak hendak berperang tapi
hanya berniat mengunjungi Baitullah ini.” Kita lihat bahwa cukup dengan sekali
pernyataan saja seorang Budail dari Bani Khuza’ah langsung percaya, ia
menyadari bahwa Rasulullah dan para sahabatnya ialah kaum yang pantang
berdusta. Kendati dibenci Quraisy dan suku-suku Arab lain lantaran beda aqidah
namun seluruh bangsa Arab mengakui bahwa Muhammad SAW beserta sahabatnya
merupakan kaum yang terpercaya. Lagi pula yang dibenci kafir Quraisy itu bukan
adab dan akhlak Islam. Mereka tak punya masalah dengan kepribadian kaum
Muslimin. Islam sangat dibenci lantaran mengancam adat-istiadat serta
norma-norma Quraisy. Islam dinilai mengancam kedudukan para pembesar Quraisy.
Ketinggian akhlak maupun adab kaum Muslimin memang tidak pernah disanksikan
oleh kawan maupun lawan.
Oleh
karena itu mendengar laporan Budail, para pembesar Quraisy malah berkata,
“Sekalipun kedatangannya bukan untuk beperang, demi Allah, dia sekali-kali
tidak boleh memasuki Makkah dengan paksa. Jangan sampai perihal kami ini
menjadi pembicaraan seluruh bangsa Arab.” Mereka bukan takut pada ancaman
perang mendadak dari kaum Muslimin, tetapi khawatir citra mereka jatuh di mata
bangsa Arab. Jika ketahuan bangsa Arab bahwa ritual ibadah kaum Muslimin begitu
meninggikan Rabbul Ka'bah bahkan punya risalah yang begitu damai, jelas
elektabilitas Quraisy bakal merosot. Bangsa Arab akan memandang, untuk apa kaum
Quraisy sejak lama mengusir dan memerangi kaumnya sendiri.
Maka
diplomasi Quraisy yang pertama ini jelas gagal. Akhirnya mereka mengirim
utusannya yang kedua, Mikraz bin Hafizh.
Belakangan,
Bani Khuza’ah yang juga termasuk informan Rasulullah perihal situasi politik
Makkah, memilih bersekutu dengan Madinah saat terjadi perjanjian Hudaibiyah.
Padahal sebelumnya mereka berhubungan akrab dengan Quraisy.
Ilham
Martasyabana, pelukis Sirah Nabawiyah.
