Oleh : Yazid Arif | @yazidarif Muslimide Online - Dewasa ini kita seringkali mendengar kalau seseorang belum punya pasangan ma...
Oleh : Yazid Arif | @yazidarif
MuslimideOnline- Dewasa ini kita seringkali mendengar kalau seseorang
belum punya pasangan maka digelarilah dengan ‘jones’ alias jomblo ngenes. Disebabkan
menjomblo di dunia sama seperti menyusuri jalan sepi yang dipenuhi onak berduri.
Sudahlah hidup susah tak pula ada yang menemani. Begitulah mungkin penyebab
gelar ngenes dilekatkan pada para pejomblo di dunia.
Tapi tenang, para jomblo tak usah bersedih, sebab
Rasulullah saw menyampaikan kabar gembira sejak 1400-an tahun lalu kepada
jomblowan-jomblowati bahwasanya tak ‘kan ada jomblo di surga nanti.
Tersebut dalam sebuah hadits ketika Ibnu Sirrin bertanya
pada Abu Hurairah ra, “Wanita atau lelakikah yang lebih banyak di surga?”
Abu Hurairah menjawab:
‘Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
bersabda,
إِنَّ
أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ
الْبَدْرِ، وَالَّتِي تَلِيهَا عَلَى أَضْوَإِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ،
لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ
وَرَاءِ اللَّحْمِ، وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ
“Sesungguhnya
gelombang pertama yang masuk surga wajahnya secerah bulan ketika purnama.
Gelombang kedua secerah cahaya bintang yang berkilau di langit. Setiap orang
memiliki dua istri. Sumsum tulang betisnya kelihatan dari balik daging. Di surga
tidak seorang pun yang menjomblo.” (HR. Ahmad 7152 dan Muslim 2834).
Maka, sengenes apapun
menjomblo di dunia tak usah disesali, tak usah diratapi. Sebab ada pula yang
berpasangan di dunia hanya untuk menjaga gengsi. Bahkan berbahagialah wahai
para jomblo, sebab sekali pun mati menjomblo di dunia, bidadari dipersiapkan
untukmu nanti di surga. Yang sumsum tulang betisnya itu dapat terlihat dari
balik daging yang menyelimuti, karena saking cemerlangnya.
Sekarang jangan terfokus
pada kejombloan yang disandang tapi apa yang dikerjakan seorang jomblo agar
bisa meraih surga di akhirat nanti. Karena ulama-ulama dahulu pun ada dan
banyak pula yang menjomblo, namun usaha-usaha untuk meraih surga pun tak
terbilang dahsyatnya.
Imam Ibnu Jarir At Thabari
misalnya. Seorang ulama yang terkenal dengan kitab tafsir Jami’ Al Bayan fi
Ta’wil Al Quran dan kitab Tarikh At Thabari menjomblo hingga akhir
hayat, namun kejombloan itu tidak sebagai pelemah semangatnya untuk terus
berkarya menggapai surga. Bahkan jika karya yang pernah ditulis, dibagi dengan
umurnya dari baligh hingga wafat yaitu pada umur 86 tahun, maka dihasilkanlah
beliau menulis 14 lembar tiap harinya.
Imam Yahya bin Syaraf An
Nawawi, ulama yang mempunyai banyak karya yang masyhur dan menjadi rujukan bagi
umat Islam setelahnya. Semisal kitab Riyadhu As Shalihin dan kitab Arbain
An Nawawi yang mengandung hadits-hadits dasar-dasar dan amal-amalan bagi
seorang muslim. Beliau juga menjomblo hingga hembusan nafas terakhirnya namun
pantang surut untuk selalu berkarya bagi umat manusia.
Begitulah, seorang jomblo
usahlah bersedih dan mundur dari panggung kehidupan hanya karena kejombloannya.
Jomblo bukanlah sebuah nasib buruk yang merundung kehidupan seseorang, malah
bisa jadi nasib baik yang masih ditunda kedatangannya. Karena lagi-lagi kata
Rasulullah saw, “Takkan ada jomblo di surga.”
Wallahu a’lam bisshowab.
