Oleh: Ilham Martasyabana “No civilization can prosver, or even exist, after having lost this pride and the connection with...
Oleh: Ilham Martasyabana
“No civilization can prosver, or even exist, after having
lost this pride and the connection with its own past” -Muhammad Asad (Leopold Weiss) dalam Islam at the Crossroad.
MuslimideOnline-Pada 19 November 2016 lalu, penulis pernah mengikuti
dauroh Quo Vadis Sirah Nabawiyah dari Sirah Community Indonesia (SCI)
yang diisi oleh Ustadz Asep Sobari, salah satu pakar sirah Nabawiyah di tanah
air. Dari situ diungkap, bahwa sebenarnya kualitas historiografi Islam,
khususnya sirah Nabawiyah jalan di tempat kalau tidak mau dibilang mundur ke
belakang. Karya-karya historiografi Islam (termasuk sirah) di saat ini tidak
beda jauh dari karya-karya historiografi ratusan dan bahkan 1000 tahun lalu, di
masa Ibnu Hisyam, Al-Waqidi, Ibnu Sa’d, Ath-Thabari, serta belum beranjak dari
fase masa Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dan Ibnu Katsir. Tentunya harus menjadi
pertanyaan para pemerhati sirah dan sejarah Islam: quo vadis Sirah
Nabawiyah? Sirah Nabawiyah sendiri merupakan pusat perhatian dalam ranah
sejarah Islam, karena sirah Nabawiyah membahas sejarah Rasulullah SAW dan para
sahabatnya, jika gambaran sirah Nabawiyah negatif akan berimbas ke
bidang-bidang sejarah Islam lainnya.
Di zaman kita ini, sirah Nabawiyah hampir tidak beranjak
dari konstruk narasi, ambil sana-sini dari sumber klasik seperti Ibnu Hisyam,
Al-Waqidi, Ibnu Sa’ad, Ath-Thabari, atau pun Khalifah bin Khayyath lantas
dipadukan menjadi sebuah paragraf dengan narasi modern. Tidak heran jika ada
yang mengkritik tajam: umat Islam sebenarnya belum menulis sejarah tetapi baru
sekedar menulis bahan-bahan (sumber) sejarah, seperti diungkapkan di dalam
dauroh SCI tersebut. Mengapa hanya sampai narasi?
Selanjutnya kita dapat memahami, bahwa semua krisis yang
menimpa ranah sejarah Islam dan historiografi berakar dari belum terpenuhinya
karya-karya historiografi yang punya metodologi maupun analisis kuat untuk
merekonstruksi sejarah Islam. Memang pada awalnya, kemunduran terjadi karena
peradaban Islam sendiri mengalami stagnansi dan belakangan, selama
berabad-abad, umat Islam mengalami pembodohan karena orientalisme dari penjajah
Barat. Karya-karya historiografi Islam baik di masa kemunduran peradaban Islam
hingga paruh pertama abad 20, sebagian besar (kalau tidak mau disebut “semua”)
belum dapat menjawab tantangan standar historiografi modern yang berkiblat ke
Peradaban Barat.
Kesadaran sejarah universal di era modern ini terjadi
karena Barat -sebagai pihak yang kini menjadi “Kiblat Peradaban”- mengalami
perubahan sosial-politik dan budaya yang amat signifikan akibat Renaissance,
Pencerahan, Revolusi Prancis, Revolusi Industri serta memuncak di abad 19.
Kenyataannya pengkajian sejarah modern menemukan bentuknya di awal abad 19
(Ankersmith. Refleksi Tentang Sejarah. Jakarta: Gramedia, 1986, h. 351).
Umat Islam sebenarnya sudah lebih dahulu “sadar sejarah”,
namun di sejak memasuki abad 19 dan 20 umat Islam belum dapat membentuk
historiografi modernnya sendiri terutama untuk menjawab tantangan modernisasi dan
westernisasi. Dalam hal ini umat Islam tertinggal cukup jauh, sebab-sebabnya
menurut Syaikh Akram Dhiya’ Al-Umari’
karena para sejarawan dan penulis sejarah Islam sendiri telah bersikap
inferior, mereka mencerminkan Islam itu sebagai simbol keterbelakangan dan
kebiadaban, menafsirkan futuhat yang dilakukan Kekhalifahan Islam dengan
rasa inferior, dan mereka secara sadar memang bermental inferior. Sebab lain
ialah kemalasan para sejarawan Muslim
yang menjiplak begitu saja tulisan-tulisan
orientalis dan peneliti Barat tanpa sikap kritis, sehingga para sejarawan Muslim hanya seperti ‘membeo’
apa yang dinarasikan oleh para orientalis. (Akram Dhiya’ Al-Umari, Shahih
Sirah Nabawiyah, Jakarta: Pustaka As-Sunnah, 2010) Padahal karya-karya
historiografi Islam di masa lalu bisa mengungguli karya-karya di zamannya, dari
peradaban lain. Terutama di masa Kekhalifahan Abbasiyah hingga di masa Ibnu
Khaldun (abad 14 M), di masa yang sama masyarakat Eropa Abad Pertengahan
(Barat) sedang mengalami Dark Age akibat kepercayaannya terhadap
takhayul.
Ilmu pengetahuan di Eropa tak berkembang dan hal yang
paling mencolok dari perkembangannya justru perihal kepercayaan-kepercayaan
irasional.
Dark Ages yakni masa Mediaval/Middle age (Abad
Pertengahan), kurunnya adalah Eropa semenjak jatuhnya Romawi Barat di abad ke-5
masehi hingga abad 15 masehi, menjelang renaissance. Hampir 1000 tahun.
Masyarakat Eropa hidup dalam kekangan Gereja Abad Pertengahan yang absolut dan
tirani, sampai-sampai di masa itu terdapat pembantaian-pembantaian atas nama
Gereja, jika ada orang-orang tertentu yang menyimpang menurut penafsiran
Gereja. Gereja seolah menjadi Tuhan masyarakat Eropa Dark Age.
Di masa itu masyarakat Eropa bahkan tidak mengetahui
mereka hidup di tahun dan zaman apa, di mana Peradaban Islam sejak abad 7
hingga abad ke 16 sedang gemilang karena keunggulan iptek, budaya, politik
hingga ekonominya. umat Islam juga sadar sepenuhnya akan pentingnya sejarah.
Sebaliknya di Eropa, bertebaran kisah-kisah ‘menggelikan’ di zaman kegelapan
itu, cendikiawan Inggris, Raymond Keene misalnya mencatat kebiasaan orang-orang
Eropa di masa itu sering menghitung berapa jumlah malaikat yang lewat di lubang
jarum! (Raymond Keene, “Renaissance” dalam Menjadi Jenius Seperti Leonardo
da Vinci) Suatu hal yang bagi
masyarakat Barat modern sendiri merupakan hal yang memalukan.
Dari sini kita dapat menduga, nampaknya kemajuan sebuah
peradaban dengan kesadaran sejarah merupakan sesuatu yang berbanding lurus.
Namun agar refleksi tadi tidak menjadi sekedar romantisme sejarah, kita harus
akui dalam persepktif peradaban, umat Islam di zaman ini tertinggal jauh dari
Eropa dan Amerika Serikat, terutama dari segi produk teknologi serta tradisi
keilmuwan. Nah, di saat yang sama, sejarah Islam sendiri sebagai “ruh peradaban”
masih belum dapat tersajikan dengan metodologi yang kokoh (Muhammad Quthb, Perlukah
Menulis Ulang Sejarah Islam, Jakarta: GIP, 1995, h. 13)
Hal ini pernah diakui oleh Syaikh Muhammad Quthb salah
seorang pemikir Islam yang terkemuka. Dunia Islam dalam ranah disiplin ilmu
sejarah, setidaknya di generasi Syaikh Muhammad Quthb, masih saja bergantung
kepada metodologi orientalis dari Barat yang sering melakukan deislamisasi
sejarah. Namun yang lebih memprihatinkan umat Islam malah menerima begitu saja
karya para orientalis tanpa bersikap kritis. Argumen Syaikh Muhammad Quthb ini
seirama dengan pernyataan Syaikh Akram Dhiya Al-Umari. Menurut Syaikh Akram,
para Intelektual dan sejarawan Muslim menganggap seolah-olah karya para
orientalis Barat tak akan keliru, serta tak ada motif negatif di balik itu.
Padahal kenyataannya sebaliknya, para orientalis punya motif deislamisasi
sejarah, apa pun bentuknya. Di sini harus disadari betapa pentingnya metodologi
sejarah yang lebih kokoh dan historiografinya yang dikembangkan dari tradisi
keilmuwan Islam sendiri. Berpijak dengan kaki sendiri.
Dari segi mengambil metodologi dan analisis, perlu ada
catatan tersendiri. Syaikh Akram menyatakan dalam magnum opusnya Sirah
Nabawiyah Ash-Shahihah yang ditulis pada dekade 1990-an, sejarah Islam
harus dilandasi tashawur Islam (worldview Islam), bukan pandangan
yang sekularistik. Metodologi dan analisa sejarah, ilmu-ilmu sosial dan budaya
dari tradisi keilmuwan Barat sangat mungkin untuk dimanfaatkan, dengan syarat
sudah dilandasi tashawur Islam. Bahkan kekuatan sejarah Islam yang
memiliki tradisi riwayat dan sanad yang tidak dimiliki peradaban mana pun
selain Islam, bisa digabungkan dengan metodologi dan analisis dari tradisi
keilmuwan Barat.
Optimisme ini nampaknya bisa segera diwujudkan mengingat
kajian-kajian sirah Nabawiyah (sebagai salah satu bagian terpenting sejarah
Islam) di tanah air semakin marak dan mendapat sambungan hangat dari
masyarakat. Quo Vadis SCI sendiri sempat menyinggung gagasan Syaikh
Akram tersebut, wajar saja mengingat beliau adalah figur yang menjadi rujukan
dalam bidang sirah Nabawiyah.
Hal yang dibahas ini sesungguhnya bukanlah hal baru,
sejarawan-sejarawan modern telah mengemukakan perlunya “penulisan ulang”
sejarah Islam, namun lagi-lagi terjebak dalam sudut pandang sekular, chauvinis,
nasionalisme sekular, nasionalisme Arab, sosialis, marxis, dan lain sebagainya
(Muhammad Quthb, Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam Jakarta: GIP, 1995).
Maka jawaban yang ada adalah landasan tashawur Islam atau worldview
Islam dalam menulis serta mengkonstruk sejarah. Penulisan sejarah Islam
haruslah memiliki nilai burhani dan irfani yang menjadi karakter
tradisi keilmuwan Islam, termasuk dalam ranah tarikh atau sejarah. Burhani berarti dalam penulisan dan narasi
sejarahnya terdapat peranan analisis rasional, untuk memperoleh
pengetahuan dalam rangka
mencari kebenaran, tentu rasional di sini rasio (aqli) yang berlandaskan
nilai-nilai ajaran Islam sendiri. Sedangkan Irfani
adalah pemahaman yang diraih dari instrumen batin, qalb (hati) atau intuisi. Maksudnya,
keyakinan akan nilai-nilai Islam yang ada dalam benak umat Islam, direfleksikan
saat kontruk sejarah baik dalam tulisan maupun lisan. Lagi pula penulisan
sejarah itu pasti tidak terlepas dari subjektivitas dan kultur di mana
sejarawan tersebut berasal.
Muarikhun (para sejarawan)
Muslim hendaknya menampakan metode burhani dan irfani, bahkan
kalangan non-Muslim sekalipun yang hendak menulis sejarah Islam, maka tetap
harus mengetahui konsep nilai-nilai Islam serta landasan teologisnya, karena
tanpa itu semua penulisan sejarah Islam akan gagal dipahami, dimengerti dan
ditafsirkan.
Ilham Martasyabana, pelukis sejarah Islam dari
goretan-goretan yang diabaikan
