Oleh : Edgar Hamas | @edgarhamas Nenek Moyangku orang pelaut Gemar mengarung luas samudera Menerjang ombak, tiada takut ...
Oleh : Edgar Hamas | @edgarhamas
Nenek Moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak, tiada takut
Menempuh badai, sudah biasa
(Lagu Anak Nasional, Nenek Moyangku Orang Pelaut)
MuslimideOnline- Pemerintahan
Presiden Joko Widodo hampir mencapai tiga tahun jabatannya. Sekilas dilihat dan
diseksamai, pernak-pernik pemerintah kita sekarang diisi dengan agenda
pembangunan infrastruktur yang sangat masif; jembatan-jembatan dibangun, jalan
tol diperbaiki kualitasnya, transportasi diperbaharui, dan banyak lagi. Namun,
satu hal diantara janji dan komitmen Bapak Jokowi dan Jusuf Kalla selama
kampanye mereka dalam Pilpres 2014, adalah menjadikan Indonesia sebagai poros
maritim dunia. Nah, itu dia satu gagasan yang bagi saya fantastis, pertama
karena judulnya keren, kedua karena program ini punya historical value
yang tinggi. Kemudian akhirnya muncul pertanyaan; apa pentingnya menjadi poros
kemaritiman? Toh telah ada daratan dan udara yang memungkinkan perpindahan
logistik bisa lebih cepat, iya kan?
Tidak,
tidak semudah itu ‘menghakimi’ kemaritiman dan segala yang ada di dalamnya.
Perbincangan kita dalam tulisan itu bukan menjangkau detail ilmu Geografi dan
Kelautan yang jelas tidak ada dalam Muqarrar Universitas Al Azhar. Namun lebih
dari itu, perlulah terbit di cakrawala idea kita pada sebuah tinjauan historis
dan proyeksi masa depan dari sebuah peradaban besar, yakni sebagai bangsa Indonesia
dan sebagai Umat Islam. Sebab, selain mesti memiliki spesifikasi terhadap satu
disiplin ilmu, perlulah kita menjadi personal dengan generalisasi wawasan.
“Jika
kita ingin menjadi bangsa pemenang, bangsa yang disegani, bangsa yang dihormati
di kawasan ini dan dunia, kita harus memiliki kekuatan maritim yang kuat”,
tutur Rizal Ramli yang pernah menjadi Menteri Koordinator Maritim dan Sumber
Daya, “termasuk kapal-kapal dagangnya, kapal-kapal perikanannya. Siapa yang
menguasai laut, akan menguasai dunia.”
Senada
dengan itu, baik Presiden Jokowi dan para Ilmuwan seperti Dr Hilmar Farid
mengangguk setuju dengan koneksi amat kuat antara proyek besar poros
kemaritiman dengan romantisme sejarah Indonesia yang identik dengan nuansa
kelautan. “Kita belajar tentang Majapahit”, tutur Dr Hilmar, “tapi bukan
tentang kejayaannya di masa lalu, melainkan mengenai pergulatan kekuatan yang
memungkinkannya muncul sebagai kerajaan besar”, yakni dalam dunia kemaritiman,
seperti dilansir situs maritim.go.id. Pun ketika masa sekolah dasar, kita
diajari guru kita untuk mengamini sebuah gelar yang disematkan untuk kerajaan
Sriwijaya, yakni “Kerajaan Maritim”, yang kelak sekarang dibawa menjadi gelar
baru Indonesia kita, “Negara Maritim”, tentu bukan tanpa sebab.
Mengapa
Kelautan Menjadi Sangat Penting?
Banyak
sekali faktor yang membuat kelautan menjadi satu proyek besar untuk dibangun di
atasnya menara-menara gagasan dan ide. Namun izinkan kami melirik proyek besar
ini dari sudut pandang sederhana, sebagai mahasiswa penuntut ilmu agama di
Negeri Mesir, diiringi wawasan kilas sejarah dan peradaban Islam yang juga
pernah menjadikan Mesir sebagai poros kemaritiman dunia.
Salah
satu sejarawan yang menggaungkan perlunya anak-anak muda Muslim untuk
mempelajari kemaritiman adalah DR Ahmad Mansur Suryanegara, Dosen Sejarah Universitas
Indonesia. Lewat karya ‘Api Sejarah’ serta ‘Al-Quran dan Kelautan; Sejarah
Maritim yang Terupakan’, beliau mencoba menyusun kembali puzzle sejarah dan
menjelaskan pada kita betapa pentingnya menjadi poros maritim; sebab ada korelasi
antara puncak kejayaan ‘Golden Ages’ Umat Islam dengan hegemoni
kemaritiman negeri-negeri muslimin di waktu yang sama, mulai dari Asad bin Al
Furat sang ulama penakluk Sicilia, kemegahan Aljazair sebagai pelabuhan masyhur
internasional, sampai Admiral Piri Reis yang menemukan Amerika untuk kali
pertama.
Pun
sama dengan N.A Baloch, sejarawan Pakistan yang menggemakan Maritim Theory.
Beliau dengan lugas menyebutkan, bahwa di masa kejayaannya, Umat Islam memiliki
banyak navigator/mualim dan wirausahawan muslim yang dinamis dalam penguasaan
maritim dan pasar. Korelasinya sangat lugas antara penguasaan Kaum Muslimin
atas 2/3 samudera dunia dengan sampainya risalah agama Islam ke seluruh penjuru
bumi, khususnya belahan bumi di Asia Timur dan Tenggara yang diislamkan lewat
medium perdagangan di wilayah maritim.
Simpulan
paling sederhananya; penguasaan dan dominasi atas wilayah maritim berdampak
pada grafik naik dalam siklus peradaban Umat Islam, bahkan peradaban secara
umum.
Umat
Islam dan Legenda Kelautan yang Menyejarah
“Sesungguhnya
Futuhat Islamiyah di masa kekhalifahan Abu Bakr As Shiddiq dan Umar ibn
Al Khattab menjadi titik tolak terbitnya kekuatan maritim Islam dan
kekuasaannya atas Laut Mediterania”, tulis sejarawan muslim yang mengambil
spesifikasi dalam pengembangan atlas sejarah, DR Syauqi Abu Khalil dalam
bukunya Fath Ash Shaqliyah bi Qiyadati Asad bin Furat, “khususnya
hegemoni Umat Islam atas pantai-pantai Syam dan Mesir, yang juga menandakan
berakhirnya dominasi kekuatan maritim Romawi Timur atas Laut Mediterania.”
“Adalah
Khalifah ketiga Umat Islam, Utsman ibn Affan, yang pertamakali mengizinkan
Muawiyah bin Abi Sufyan untuk bertempur dengan Romawi Timur lewat medan
maritim”, tulis DR Syauqi. Ekspedisi kelautan pertama adalah pembebasan Cyprus
dari tangan Romawi Timur, yang diperkirakan oleh para sejarawan, saat itu Umat
Islam telah memiliki 1900 kapal perang yang kokoh dan efisien.
Adapun
momentum paling menyejarah pengubah peta kekuatan maritim internasional kala
itu, adalah pertempuran Dzat Ash Shawary pada tahun 32 H/656 M, yang
dalam literatur Eropa bertajub Battle of Phoenix, ketika 200 kapal Umat
Islam yang bertolak dari Alexandria, dipimpin oleh seorang sahabat bernama
Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh, melawan 1000 kapal perang Romawi Timur di
wilayah laut bernama Lycia dekat Turki sekarang ini. Kaum Muslimin secara telak
memenangkan pertepuran laut pertama ini, dan “akhirnya dunia mengetahui ada
sebuah kekuatan besar nan baru, yang berhasil memukul mundur armada maritim
terkuat di dunia saat itu”, rekam DR Syauqi Abu Khalil.
Fenomena
‘Arsenal’ dan ‘Admiral’
Semenjak
kekuatan maritim Umat Islam menguasai Laut Mediterania, mereka menjadi
penggagas ide dan peradaban baru yang menginspirasi dunia. Melalui kekuatan
maritim, kaum Muslimin menyiarkan pemikiran, barang dagangan hingga bahasa ke
seluruh pelosok Eropa. Sebagaimana ditulis oleh Ahmad Adil Kamal dalam Athlas
Al Futuhat Al Islamiyah, begitupula dalam buku Tarikh Ghazawat Al ‘Arab
karya Syakib Arselan, Umat Islam secara perlahan namun pasti menguasai pos-pos
Laut Mediterania seperti Cyprus (635 M), Rhodes (672 M), Crete (825 M), Sicilia
(827 M), Malta (869 M), Palermo (902 M) dan Sardinia (1015 M).
Bahkan
sebuah memorial sejarah terpahat megah dalam buku ‘Allah’s Sonne über
dem Abendland’ (Mentari
Allah bersinar atas Barat; Keutaamaan Arab atas Eropa) karya Sigrid Hunke
seorang orientalis Jerman, bahwa banyak sekali kosakata kemaritiman dalam
bahasa Inggris yang diserap dari istilah-istilah kelautan Umat Islam. Misalnya ‘cable’
diserap dari kata ‘habl’, kata ‘arsenal’ yang bermakna “gudang
senjata” diserap dari kata ‘daar ash shina’ah’ yang bermakna hampir
sama, sedang ‘admiral’ yang bermakna “laksamana” diserap dari kata ‘amir
al bahr’ yang bermakna “pemimpin laut.” Marvelous, isn’t it?
“Apakah
Mungkin Melukis Ulang Sejarah Kemaritiman?”
Ada
banyak sekali fenomena yang membuat kita bergeleng kepala; tentang umat Islam
umumnya dan bangsa Indonesia khususnya, yang memiliki bilik-bilik sejarah
megah, namun belum sepenuhnya diolah menjadi pemantik untuk memproyeksi tangga
kejayaan di masa depan. Masih banyak legenda kemaritiman Umat Islam -baik abad
pertengahan maupun kontemporer- yang menyuguhkan preseden (hal yang telah
terjadi lebih dahulu dan dapat dipakai sebagai acuan) bahwa kita punya peluang
menjadi maritim power di zaman baru.
Hiruk
pikuk dunia tidak lagi sebatas bipolar; antara Eropa-Islam, Komunis-Kapitalis,
Amerika Serikat-Rusia. Semua itu telah samar-samar lalu runtuh. Hari ini telah
timbul sebuah realitas bahwa semua kekuatan dunia memiliki peluang untuk
menjadi yang terbaik diantara yang lain, dalam artian blok-blok Internasional
telah berubah menjadi multipolar. Berangkat dari realitas itu, kesadaran putra
bangsa Indonesia terhadap ‘bakat maritim’ negerinya harus dinarasikan dengan masif.
Apalagi kita, penuntut ilmu di luar negeri, mau tidak mau, selain harus
mendalami spesifikasi yang kita geluti, kita punya tugas tambahan untuk
menyeksamai perubahan dunia; kemudian memetakan langkah agar bisa dengan tepat
mengisi kekosongan narasi untuk Indonesia.
Wallahu
A’lam.
