Oleh : Redaksi Muslimide | @muslimidecom Ramadhan, Ramadhan Hindarkan kesiaan kata dan perbuatan Tinggikan hari dengan kesib...
Oleh : Redaksi Muslimide | @muslimidecom
Ramadhan, Ramadhan
Hindarkan kesiaan kata dan
perbuatan
Tinggikan hari dengan kesibukan Robani
Janganlah sampai keluar dengan tangan hampa
Tiada hasil kecuali lapar dahaga
Ingatlah diri sang junjungan di bulan Rohmah
Tegakkan malam bertabur dzikir dan tilawah
Cerah hari bercahayakan
Indah menyinar ketakwaan
Tinggikan hari dengan kesibukan Robani
Janganlah sampai keluar dengan tangan hampa
Tiada hasil kecuali lapar dahaga
Ingatlah diri sang junjungan di bulan Rohmah
Tegakkan malam bertabur dzikir dan tilawah
Cerah hari bercahayakan
Indah menyinar ketakwaan
(Izzatul Islam – Ramadhan)
MuslimideOnline-‘Kapal besar’
Ramadhan akan tiba sejenak lagi, suaranya telah terdengar, tanda-tanda
kedatangannya nan penuh berkah telah tersiar. Ia datang dengan membawa
bermilyar berkah yang tidak dibawa ‘kapal-kapal’ yang lain. Umat Islam di
saentero dunia telah menunggunya semenjak tahun lalu, dan tak sabar lagi
berjumpa dengannya, mengambil segala harta karun berharganya, dan menanam
investasi akhirat bersamanya, selama 30 hari. Ya, 30 hari mencari cinta.
Bagaimana cara Ulama
kita menyambut Ramadhan?
Tidak mengherankan
jika Ulama ummat ini menyambut Ramadhan dengan begitu baik. Persiapan yang
begitu matang dan segala keperluan diadakan agar Bulan Ramadhan menjadi bulan
mesra antara dia dan Maha Cinta. Diantara banyak Ulama ummat ini, ada dari
mereka yang menyambut Ramadhan 6 bulan sebelumnya, lalu baru bisa melepas
kepergian Ramadhan 5 bulan setelah bulan suci ini pergi.
Namun kiranya
tulisan ini akan menjelaskan pada kita kebiasaan mulia yang menuntun kita untuk
berdahsyat diri menyambut Bulan suci ini, agar di awal kita mendapat rahmat, di
tengahnya kita mendapat ampunan, dan di akhirnya kita menggapai tiket emas
terlindung dari api neraka, bukankah bahagia?
Berikut 10 Kiat
mendahsyatkan diri untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan :
1. Taubat
yang sebenar-benarnya.
Taubat yang sejati
selayaknya kita haturkan pada Allah di setiap waktu, karena ia adalah tanda
harap kita pada Allah. Apalagi ketika kita akan memasuki Syahrut Taubah,
bulan Taubat Ramadhan, sungguh melakukan taubat di bulan ini, membekas,
berbunga rindu dan berasa sejuk dalam hati.
Memaksimalkan diri
dalam bertaubat pada Allah sebelum datang Ramadhan, diiringi dengan
memperbanyak amalan yang mengindahkan ketaatan, akan membuat hati tentram dan
siap untuk menemui tamu agung Ramadhan. Perbaiki cara bergaul kita pada Allah,
perindahkan tata karma kita pada yang lebih tua, makin sayanglah kita pada yang
lebih muda. Hingga ketika nanti datang bulan Ramadhan, kita mengisinya dengan
ketaatan yang penuh, hati yang lapang dan jiwa yang tenang.
“Dan
bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung”, begitu Allah bertitah di Surat Cahaya, An-Nuur ayat 31. Diiringi
perkataan Nabi yang bijak bestari, “Wahai Manusia, bertaubatlah kepada Allah,
sesungguhnya Aku bertaubat seratus kali dalam sehari”, terabadikan dalam Shahih
Muslim no. 2702
2. Banyak-banyak
menghias diri dengan doa.
Telah terabadikan
dalam buku sejarah para Ulama, bahwa para salafus shalih ummat ini mendawamkan
untuk berdoa sembari menunggu datangnya Ramadhan, 6 bulan sebelum bulan suci
ini datang. Lalu masih saja mendoakan Ramadhan setelah 5 bulan ia berlalu,
sungguh mulia.
Maka alangkah mulianya
jika kita meminta pada Allah dalam doa-doa kita, agar Dia memberi kesempatan
pada kita tuk berjumpa dengan Ramadhan dalam keadaan ruhani yang sehat dan
jasmani yang kuat, dan minta pada Allah agar Dia menguatkan kita untuk
menaati-Nya.
3. Berbahagia
berkat semakin dekatnya Ramadhan.
Bagaimana perasaanmu
jika suatu hari engkau akan mendatang rumah temanmu setelah sekian lama tak
berjumpa. Kawanmu ini begitu menunggu saat-saat engkau hadir dan menyiapkan
segala kebahagiaannya, perlengkapan dan hidangan terbaik agar engkau puas
selama berada di kediamannya. Bukankah itu adalah sebuah kebahagiaan
tersendiri?
Begitu pula
Ramadhan, ia adalah tamu, tamu agung yang di setiap sisinya membawa kado
terindah yang pernah ada, yang 10 hari kunjungan awalnya adalah untuk menumpahkan
rahmat Allah, lalu 10 hari keduanya adalah untuk membumikan ampunan Allah, lalu
10 hari akhir sebelum ia berpamitan, Ia akan memberi kita kesempatan meraih
tiket emas untuk selamat dari jilatan pedih api neraka.
Maka, isi hati kita
dengan kebahagiaan, hiasi dinding rumah kita dengan ayat Quran dan
hadist-hadist yang mengingatkan kita keuatamaan tamu Ramadhan ini, atau
mulailah kita membersihkan masjid dan memakmurkannya, menyebar buletin Ramadhan
untuk mengingatkan orang-orang, dan bisa juga kita mengadakan kegiatan-kegiatan
ilmiah untuk membahas ramadhan secara intensif, sebagai wujud senangnya kita
akan datangnya Ramadhan.
4. Mengganti
Puasa wajib yang dulu pernah tertinggalkan.
Ada hutang yang
mesti dibayar. Begitu juga dengan puasa, coba kita perhatikan tanggal dimana
dulu kita berpuasa, adakah disana yang bolong atau belum tertunaikan karena
sakit? Selagi Ramadhan belum hadir, mari kita menggenapkan yang ganjil,
memenuhi yang kosong, dan menyempurnakan yang masih bolong. Utamanya agar jiwa
ini siap mental sebagai pejuang untuk menyambut Ramadhan, bukan mental pahlawan
kesiangan yang ternyata banyak hutang dan tanggungan yang belum tertunaikan.
Imam ibnu Hajar
dalam Kitab Fathul Bari mengatakan, “Tidak boleh mengakhirkan qadha puasa
Ramadhan sampai datang Ramadhan yang berikutnya.”
5. Menambah
wawasan keilmuan kita tentang Hukum Puasa dan Pengetahuan Ramadhan.
“Al-fahmu qabla
Al-Amal”,
Faham dulu sebelum beramal, begitu tutur seorang Ulama. Manisnya Ramadhan tidak akan bisa dirasakan
mereka yang dangkal pemahaman, sedikit mengetahui dan malas belajar tentangnya.
Sungguh, Ramadhan akan menjadi bulan sejuta cinta bagi mereka yang memahaminya,
mempelajari dan mengetahui rahasia-rahasia di balik kegagahan Ramadhan.
6. Bersegera
menyelesaikan pekerjaan sedini mungkin, agar Ramadhan kita bisa dimaksimalkan.
Kadang banyak
pekerjaan yang menghambat kita untuk memaksimalkan diri di bulan Ramadhan,
seperti deadline proyek yang seabrek, atau tanggungan pekerjaan yang
ditunda-tunda cukup lama hingga menjadi tumpukan, dan mungkin urusan lain yang
kita sering mengabaikannya hingga ia menjadi bom besar yang suatu saat siap
meledak.
Maka selagi masih
ada waktu, kita hulurkan tangan kita, konsentrasikan fikiran kita dan atur
jadwal sedisiplin mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan kita, agar Ramadhan
tahun ini menjadi ramadhan paling indah. Percayalah.
7. Berkumpul
bersama Keluarga, Istri, dan anak tercinta untuk memotivasi mereka dalam
menyambut Ramadhan.
Biasanya, seorang
ayah akan mendidik anak kecilnya untuk puasa dengan iming-iming hadiah, atau
kado di akhir bulan Ramadhan. Atau juga seorang bunda yang mendidik anaknya
untuk berpuasa penuh di bulan suci Ramadhan, dan akan membuatkan kolak paling
enak sedunia untuknya, alangkah indahnya masa kecil.
Berkumpul bersama
keluarga tercinta untuk memenangkan Ramadhan adalah sebuah keindahan yang tiada
tara, agar malaikat mendoakan keluarga ini sampai ke arsy-Nya, agar
berkumpulnya keluarga ini sebagai wasilah untuk berkumpul kembali di surga
Allah.
Bukankah begitu
indah jika sebuah keluarga memiliki target satu hari satu juz, lalu Sang Ayah
mendidik anak lelakinya untuk mengisi ceramah di masjid-masjid, seorang ibu
mendidik anak perempuannya untuk berkeliling di jejalan raya membantu mereka
yang tidak berpunya. Keluarga dengan semangat ramadhan, keluaga impian.
8. Menyiapkan
buku-buku penting yang bisa kita baca di rumah, dan mengusulkannya pada Imam
masjid agar dibacakan pada Jamaah selama Ramadhan.
Akan banyak sekali
ceramah dan kajian Ramadhan, dan di saat yang sama inilah kesempatan kita untuk
menyumbangkan kontribusi terbaik kita agar pahala ramadhan ini mengalir sampai
Ramadhan tahun depan. Jika kita bisa mengisi pengajian, itu luarbiasa. Namun
jika kita memang tak kebagian jadwal, bukankah kita bisa menjadi orang yang
menyiapkan materi itu dengan semaksimal mungkin?
Buku-buku kajian dan
keutamaan ramadhan begitu banyak tersebar sekarang, hingga mestilah bagi kita
untuk memilahnya agar terpilih materi terbaik. Dalam memilih buku dan materi
kajian, usahakanlah kita memilih yang moderat, yang mengandung hikmah besar dan
tak hanya menyinggung ritual, melainkan bagaimana caranya agar Ramadhan
menumbuhkan rasa tanggung jawab dan tenggang rasa antar sesama muslim di dunia
Islam, memunculkan semangat berkontribusi dan membela tanah air muslim yang
ditelantarkan juga disakiti.
9. Memperbanyak
puasa di bulan Sya’ban, agar terbiasa menjalani Shaum Ramadhan.
Dari Aisyah r.a,
beliau berkata tentang amalan rasulullah di Bulan Sya’ban, “Rasulullah berpuasa
sampai kami mengatakan seakan-akan tak berbuka. Dan ketika beliau berbuka
sampai kami mengatakan seakan-akan beliau tidak berpuasa” (HR. Bukhari)
Lalu dalam hadist
lain beliau berkata, “Sungguh aku tak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan
puasanya sebulan selain di bulan Ramadhan. Dan aku tak pernah melihat
Rasulullah banyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.” (HR. Nasa’i, hadist
shahih)
Dari Usamah bin Zaid
r.a, dia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tak pernah melihat engkau lebih banyak
berpuasa selain yang Engkau lakukan di bulan Sya’ban”, lalu Rasulullah
menjawab, “bulan itu –Sya’ban- adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh manusia
diantara Rajab dan Ramadhan, Bulan itu adalah bulan dimana amal-amal diangkat
ke Tuhan semesta Alam, dan Aku menyukai amalanku diangkat ketika Aku berpuasa.”
10. Membaca
Al-Qur’an dengan penuh rasa cinta.
Seorang Ulama
bernama Salamah bin Kuhail berkata, “Dulu Bulan Sya’ban dinamakan sebagai Bulan
pembaca Qur’an.”
Lalu Ulama’ Amru’
bin Qais ketika beliau memasuki Bulan Sya’ban, maka beliau akan menutup pintu
tokonya, lalu menyibukkan diri dengan membaca Qur’an.
Kemudian Abu Bakar
Al-Balkhi mengatakan, “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah
bulan mengairi tanaman, sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan memanen tanaman”
Kemudian di
kesempatan lain, beliau Abu Bakar Al-Balkhi mengatakan, “Perumpamaan bulan
Rajab seperti angin pembawa hujan, sedangkan Bulan Sya’ban seperti gerimisnya,
lalu Ramadhan adalah hujan yang sempurna. Maka siapapun yang tak menanam amal
di bulan Rajab, dan tidak menjaganya di bulan Sya’ban, maka bagaimana mungkin
ia memanen hasil di bulan Ramadhan?”
PENUTUP
Semoga 10 kiat ini
menjadi wasilah kita untuk memenangkan Ramadhan, hingga suatu saat nanti ketika
kita berhadapan dengan Allah, maka kita punya bekal terbaik kita untuk
menemui-Nya dengan penuh cinta dan harap. Mari memenangkan Ramadhan, menangkan
hati kita, menangkan amalan-amalan kita, dan menagkan surga Allah. Amin Ya
Robbal ‘Alamin.
