Oleh : Edgar Hamas | @edgarhamas “Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mere...
Oleh : Edgar Hamas | @edgarhamas
“Allah berfirman:
"(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka,
selama empat puluh tahun mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang
Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang
yang fasik itu." (QS. Al-Maidah : 26)
MuslimideOnline- “Tanah yang Dijanjikan” tulis
Ibnu Katsir dalam kitab Kisah Para Nabi, “pun dicabut oleh Allah Subhanallahu
Wata’aala. Bani Israel tidak lagi berhak atas tanah Palestina”.
Bani Israel melakukan sebuah
tindak pembangkangan paling menyejarah di muka bumi. Lihat, baru saja mereka
terselamat dari gegar perangai pasukan Firaun, pasukan terbaik di dunia saat
itu yang manguasai negeri-negeri. Di saat hati mereka terselimuti ketakutan, Allah
selamatkan mereka hingga sepasukan rapi tentara nan gagah perkasa pimpinan
Firaun tenggelam musnah, dalam kejap mata.
“350 ribu tentara Firaun”, kata
seorang Syaikh menjelaskan karunia Allah pada Bani Israel, “sepasukan tentara
pertama di bumi yang paling terorganisir, telah Allah benamkan ke air, kemudian
Dia selamatkan Bani Israel pimpinan Nabi Musa yang jauh lebih sedikit dari
mereka”. Sungguh Bani Israel mengenyam kasih sayang Allah lebih dari Umat-umat
sebelum mereka. Namun coba sadari, siapa yang lebih berkhianat dari seseorang
yang menyakiti penyelamatnya?
Bani Israel membangkang,
mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, Sang Musa yang perkasa.
Pembangkangan itu telak mereka
katakan tanpa basa-basi, tepat setelah Musa menyampaikan kalam Allah nan barakah,
“Wahai Kaumku, masuklah ke tanah suci Palestina yang telah ditentukan Allah
bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang karena takut kepada musuh, maka kamu
menjadi orang yang merugi”, ujarnya penuh ketegasan.
“Hai Musa!” sergah mereka
dengan hati pengecut, “sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah
perkasa, sesungguhnya kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar
daripadanya”. Mereka, yang telah menyaksikan kebesaran Allah, tak punya
sedetakpun keyakinan untuk berjuang membersamai Tuhan Semesta Alam dan
Rasul-Nya. Dengan segala alasan mereka menghindari perjuangan, “Jika mereka
keluar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”.
Sebab itulah mereka digelari
sebagai ‘Generasi Pengecut’, tersifatilah mereka dengan ketakutan dan kebingungan,
semata-mata karena mereka tidak mau hidup dalam perjuangan. “Dari ayat ini”,
tulis DR. Jamal Abdul Hadi Muhammad Mas’ud dalam bukunya ‘Al-Akhta’ Yajibu
an Tushahhih; Ath-Thariq ila Baitil Maqdis, “teranglah satu hikmah bagi
Umat Islam di dalam atau di luar Palestina, untuk memegang teguh makna ayat
Qur’an ini, karena ia adalah kunci untuk zaman kita sekarang, dan di dalamnya
ada petunjuk jalan yang mesti dilalui Kaum Muslimin untuk kembali ke Tanah
Palestina”.
“Generasi yang berhak untuk
memerdekakan kembali Baitul Maqdis”, tulis beliau kembali, “Adalah generasi
yang beriman pada Allah, lalu berjuang di jalan-Nya”, kemudian dalam bait-bait
penjelasannya ia memuat sebuah komentar yang penting, “Generasi Pengecut yang
hari ini berkilah tak memiliki daya upaya walau sedikit untuk membebaskan
Al-Aqsha, dan takut pada kedigdayaan Israel, Amerika dan Rusia, mereka adalah
gambaran sama yang terjadi pada generasi Bani Israel ketika enggan memasuki
Baitul Maqdis, kemudian Allah buat mereka kebingungan berputar-putar dalam
ketidakpastian, seperti Bani Israel tersesat di padang Tiih”
Kita berlindung pada Allah dari
sifat yang Dia benci. Maha Suci Allah, apakah karena begitu apatisnya kaum
Muslimin hari ini pada Palestina, kemudian Allah beri banyak masalah yang tak kunjung
usai? Setiap kali negeri-negeri Muslim ingin bergeliat, Allah memberikan
perkara-perkara yang tak berawal dan tak pula berakhir, seperti benang kusut
yang tak tahu dimana ujungnya. Ya, Umat ini seperti sedang tersesat di sebuah
titik rumit, hingga banyak orang kemudian berkata, “Kita sangat bingung,
darimana akan memulai, dan bagaimana memulainya?”
Jika Bani Israel berputar sesat
di Padang Tiih, Umat ini seperti tersergap dalam lingkaran Tiih yang tak
berlatar tempat, melainkan berkutat dalam keterasingan dan limbungnya tujuan.
Tapi, sejarah akan berulang indah, tepat setelah 40 tahun tersesat di Padang
Tiih, Allah ganti generasi pengecut Bani Israel dengan Generasi Shalih pimpinan
Yusya bin Nuun, hingga mereka akhirnya bisa membebaskan Baitul Maqdis dari Kaum
Jabbarin.
Generasi Shalahuddin akan lahir
kembali, atas izin Allah.
