Oleh : Ilham | @ilhamfaqath Muslimide Online - Muhammad bin Idris Asy Syafi’ i, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Syafi’...
Oleh : Ilham | @ilhamfaqath
MuslimideOnline- Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, atau yang lebih
dikenal dengan nama Imam Syafi’i,
salah satu dari imam mazhab yang empat pernah berkata, “manusia hanya
berada pada dua keadaan, kalaulah dia tidak sedang beribadah kepada Allah,
berarti dia sedang bermaksiat kepada-Nya”. Dalam surat Asy Syams ayat 8, Allah swt berfirman, “Maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.
Apa jalan temu dari dua nash
di atas? Jika kita memperhatikan dengan seksama, kita akan sampai pada
kesimpulan bahwasanya;
pada setiap diri manusia ada dua potensi yang sejak mereka hadir ke dunia telah
ada, yakni potensi kebaikan, kataatan, ketaqwaan dan di saat
yang sama memiliki potensi
keburukan, maksiat, jua kefasikan.
Baik itu dia kaya ataupun
miskin, baik dia tua ataupun muda, baik dia laki-laki ataupun perempuan, pasti
memiliki dua potensi
yang saling bertolak belakang tersebut. Tinggal lagi bagaimana kita mengatur dua hal tersebut
sehingga potensi kebaikan lebih besar dari potensi keburukan, hingga akhirnya, keburukan itu telah
inferior
dari kehidupan. Yang superior dan dominan di pikiran hanya kebaikan
saja.
Namun timbul pertanyaan di
kepala kita, bagaimana caranya membuat hal tersebut menjadi kenyataan?
Bagaimana caranya kebaikan lebih mendominasi
jalan
kehidupan kita? Ada beberapa kiat agar kita bisa menekan keburukan dan
meningkatkan potensi kabaikan kita.
Pertama, tentunya muraqabatullah
(merasakan pengawasan Allah).
Jika ini telah kita tanamkan dan tumbuh subur di dalam hati kita, maka bukan
hal yang mustahil bagi kita akan terhindar dari segala keburukan dan maksiat.
Karena setiap kita akan melakukan keburukan, akan teringat bahwasanya Allah selalu mengawasi
gerak gerik hamba-Nya
membuat kita tak jadi melakukannya karena takut akan murka Allah.
Kedua, hiduplah di
lingkungan yang mendukung. Maksudnya bagimana?
Jadi begini, jika kita ingin menjadi hamba yang shalih dan taat, maka hidup dan
bergaulah di lingkungan orang-orang shalih. Hiduplah di lingkungan yang saling
mengingatkan dan mengajak kepada kebaikan. Jika lingkungan seperti itu tidak
kita temukan, maka kitalah sebaiknya yang menciptakan lingkungan seperti yang
kita inginkan.
Ketiga, carilah teman
shalih/shalihah yang akan mengingatkanmu ketika lupa, mengajakmu ketika kamu sedang malas dan
sebagainya. Karena teman bisa membentuk kepribadian seseorang menjadi lebih
baik. Dari temanmu, kita bisa melihat seperti apa dan bagaimana sebenarnya diri
kita, karena teman adalah cerminan dari diri kita.
Di zaman yang serba modern ini,
memang bukanlah hal yang mudah untuk menjadi baik, menghindar dari maksiat.
Karena maksiat telah merajalela dan dengan sangat mudahnya masuk ke dalam
kehidupan kita. Salah satunya,
gadget yang mengambil separuh
dari hari kita untuk berinteraksi dengannya, mengalahkan waktu kita
berinteraksi dengan keluarga, teman, pasangan bahkan waktu dengan Rabb Sang Pencipta.
Intinya, semuanya kembali
kepada diri masing-masing. Apakah kita memilih surga atau neraka? Jika
surga dan kenikmatannya yang kita pilih, maka jadilah baik dan tinggalkan
maksiat. Nasehat yang sedikit tadi bisa
menjadi bekal bagi kita dalam meninggalkan maksiat.
Namun kalau neraka dan kesengsaraannya
yang kita plih -tentunya
tidak-,
maka berbuatlah sesukamu. Tidak perlu mengikuti nasehat di atas, ikutilah hawa
nafsumu, kemana ia akan membawamu. Tak perlu kamu dengarkan kata orang, nasehat
orang padamu.
